<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086</id><updated>2012-02-16T10:38:38.744-08:00</updated><title type='text'>Mashudi-Centre</title><subtitle type='html'>"Yaqin adalah tetapnya ilmu di dalam hati
ia tidak berbalik, tidak berpindah dan tidak berubah.
Yaqin adalah berhentinya keraguan dalam 
penyaksian yang tersembunyi" (Junaid Al-Baghdadi)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-38573506389656989</id><published>2009-06-29T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T21:23:16.742-07:00</updated><title type='text'>Mahbub Djunaidi;</title><content type='html'>Berjuang Lewat Pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pers indonesia tak akan bisa melupakan nama mahbub djunaidi yang pernah tiga kali memimpin organisasi kewartawanan, PWI, mahbub juga dikenal sebagai pemikir NU.&lt;br /&gt; Ia lahir di Jakarta, 27 juli 1933, anak pasangan dari H. Djunaidi  dan Ibu Muchsinati. Ayahnya sebagai Kepala Biro Peradilan Agama pada Kementerian Agama yang setiap awal ramadhan dan malam idul fitri mengumumkan hasil rukyah melalui radio. Mahbub Djunaidi, sebagaimana anak-anak Indonesia pada umumnya di zaman revolusi kemerdekaan, usia sekolahnya panjang. Dia baru duduk dikelas satu SMP menginjak usia 16 tahun, saat seharusnya menyelesaikan sekolah pertama. Usia 16 tahun itu bersamaan dengan waktu pemulihan kedaulatan RI dari Belanda tahun 1949.&lt;br /&gt; Menginjak usia remaja, Mahbub Djunaidi bergabung ke dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), organisasi kader partai NU (saat itu), selagi masih duduk di SMA. Dia hadir di kongres pertama IPNU di Malang 1955 yang dibuka oleh Presiden RI Sukarno, di saat negeri ini beberapa bulan lagi akan menyelenggarakan pemungutan suara pemilu pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Mahasiswa&lt;br /&gt;Mahbub mulai menulis waktu SMP dan waktu di SMA tulisan-tulisannya sudah dimuat di majalah-majalah bergengsi waktu itu, seperti Siasat (sajak), Mimbar Indonesia (esai), Kisah, Roman, Star Weekly, Tjinta (cerita pendek). Ia terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 1958 mengisi harian duta masyarakat yang kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksinya pada tahun 1960-1970.&lt;br /&gt; Di tengah memimpin Duta Masyarakat sebagai corong partai warga nahdlyyin-saat itu-, ia juga berhasil mendeklarasikan organisasi mahasiswa NU yang berafiliasi ke partai NU (waktu itu) yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 1960. Ia sendiri sebagai ketua umum pertama selama dua periode. Sekarang organisasi ini menjadi besar dan tumpuan mahasiswa yang berbasis nahdliyyin. Pendek kata, dimana ada cabang NU, disitu ada PMIInya, karena pernah menjadi anak kandung saat NU jadi partai politik.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah organisasi kader partai yang tergolong besar, tidak bisa lain dia juga harus seorang pendidik. Pada tahun 1961, melalui kongres pertama PMII dilahirkan pokok-pokok pikiran yang diwadahi dalam apa yang disebut “deklarasi tawangmangu”. Deklarasi tersebut isinya meliputi pandangan tentang dan sikap terhadap sosialisme Indoensia, pendidikan nasional, kebudayaan nasional dan lain-lain. Deklarasi tawangmangu merupakan refleksi PMII terhadap isu nasional pada saat itu.&lt;br /&gt; Mahbub berusaha dengan sungguh penuh agresif  menjadikan PMII sebagai wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh musyawarah mahasiswa NU seluruh Indonesia. salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu mars PMII, lagu yang di nyanyikan setiap saat akan acara penting PMII sampai sekarang masih tetap dipertahankan.&lt;br /&gt; Sehingga tidaklah berlebihan kantor PB PMII, Bangunan seluas 400 meter persegi yang beralamat di Jl Salemba Tengah 57A Jakarta Pusat bernama “Graha Mahbub Djunaidi”. Pemberian nama Graha Mahbub Djunaidi tersebut merupakan penghormatan kepada Ketua Umum PMII pertama yang menjabat selama dua periode pada tahun 1960-1963 dan 1963-1966, kata Malik Haramain, Ketua Umum PB PMII tahun 2003-2005 saat peresmian kantor tersebut.&lt;br /&gt;Setelah aktif sebagai Ketua Umum PMII, Mahbub kemudian diminta pula membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai salah satu ketua pimpinan pusat organisasi kader NU untuk kalangan pemuda tersebut. untuk organisasi inipun, Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap di gunakan sampai sekarang.&lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup membantu pada organisasi kader muda NU, akhirnya ia di tarik ke rahim NU-nya yaitu sebagai Wakil Sekjend PBNU (1970-1979) dan Wakil Ketua PBNU mulai tahun 1984-1989.&lt;br /&gt;Setelah terjadi pasifikasi politik NU pada muktamar di Situbondo, Jawa Timur tahun 1984 dengan jargon kembali ke khittah 1926, Mahbub pun mempunyai penafsiran sendiri tentang hal itu. Ia memperkenalkan menggagas istilah “khittah plus”. Menurutnya, kembali ke khittah 1926 bukanlah merupakan perwujudan dari sebuah perjuangan. Pendek kata, Mahbub menginginkan NU kembali berpolitik praktis sebagai wadah aspirasinya, mengingat NU –waktu itu-  selalu dipinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena Sebagi Teman Karib Dan Politikus&lt;br /&gt;Selama sepuluh tahun memimpin media harian Duta Masyarakat sebagai corong partai NU -saat itu-, tulisan-tulisan Mahbub yang menggelitik mulai di kenal oleh wartawan-wartawan senior dan media-media baik cetak maupun eletronek. Lambat laun tapi pasti,  ia terpilih sebagai Ketua PWI periode 1965, 1968, dan 1970 ini dikenal sebagai sosok yang prigel, luwes, dan profilik dalam menuangkan gagasan-gagasannya lewat tulisan. Mahbub Djunaidi dikenal sebagai penulis dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, dan humoris. Bagi dunia pers, nama Mahbub Djunaidi bukanlah nama yang asing lagi.&lt;br /&gt;Sebagai seorang wartawan, Mahbub adalah wartawan pemikir yang cerdas dan "kental", namun juga jenaka dan penuh kejutan-kejutan dalam setiap tulisannya. Dalam istilah sekarang, ia adalah seorang yang humanis dan moderat.&lt;br /&gt;Menurut Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum harian KOMPAS yang kenal secara pribadi, mengamati Mahbub mencapai formatnya yang optimal sebagai wartawan, justru ketika ia bebas dari beban-beban menjadi pemimpin redaksi Duta Masyarakat dan sebagai aktivis partai atau keorganisasian lainnya.&lt;br /&gt;Mahbub menulis untuk rubrik Asal-Usul tiap hari minggu di harian Kompas selama 9 tahun tanpa jedah, sambil masih juga diminta penerbitan pers lainnya menulis topik-topik tertentu seperti Tempo, Pelita dan lain-lain. Sebagian tulisan-tulisannya, lebih dari 100 judul telah diterbitkan menjadi buku 'Mahbub Djunaidi Asal Usul'. Di situ dia justru menjadi besar. Sebagai politikus, wartawan dan sastrawan, sosok pemikirannya tampil.&lt;br /&gt;Sosok Mahbub Djunaidi, masih menurut Jakob, mempunyai gaya keunikan tersendiri dalam tulisannya. Ia seakan bersaksi dalam buku “Mahbub Djunaidi, Seniman Politik Dari Kalangan NU Modern”. Menurutnya, kalau kebanyakan penulis adalah menganalisa suatu masalah dan baru menjelaskan ide-nya, maka Mahbub tidaklah demikian. Baginya, suatu peristiwa, kejadian, atau sosok orang bisa dijadikan alat untuk menjelaskan ide-idenya.&lt;br /&gt;Dunia politik pun tak lepas dari hari-hari Mahbub Djunaidi. Ketika NU berafiliasi ke PPP, Mahbub Djunaidi menduduki jabatan sebagai salah seorang wakil ketua DPP PPP dan kemudian di Majelis Pertimbangan Partai (MPP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bela Wartawan&lt;br /&gt;Tapi, sebelum itu, Mahbub juga pernah menjadi anggota DPR-GR/MPRS. Nah, dalam posisi inilah naluri kewartawanannya muncul. Ia mengetuai pansus penyusunan RUU tentang ketentuan pokok pers. Dalam tim pansus tersebut ia dibantu oleh Sayuti Melik, RH Kusman, Soetanto Martoprasonto, dan Said Budairi. Sebagai seorang politikus, ia tetap memikirkan nasib pers di Indonesia. Hal ini diwujudkannya melalui penyusunan perundang-undangan pers semasa almarhum menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) tahun 1965.&lt;br /&gt;Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang sangat baik. Tulisanya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat. Kiprahnya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional.&lt;br /&gt;Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak ditiru oleh penulis Indonesia.&lt;br /&gt;Terlepas dari plus-minusnya selama berinteraksi dengan koleganya semasa hidup, Mahbub Djunaidi adalah manusia biasa. Manusia adalah makhluk yang punyak banyak kesalahan dan kelemahan. Kita menilai mereka tidak semata-mata sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai manusia.&lt;br /&gt;Yang pasti Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk beraktivitas dan berjuang. Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Majalah Risalah NU, No.12 / Thn II /1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-38573506389656989?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/38573506389656989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=38573506389656989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/38573506389656989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/38573506389656989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/06/mahbub-djunaidi.html' title='Mahbub Djunaidi;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-1788249657481436896</id><published>2009-06-29T21:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T21:20:39.088-07:00</updated><title type='text'>Melacak Akar Sejarah ‘Fatwa’</title><content type='html'>Judul Buku       : Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam&lt;br /&gt;Penulis              : KH. Makruf Amin&lt;br /&gt;Cetakan            : Pertama, 2008&lt;br /&gt;Penerbit           : eLSAS Jakarta&lt;br /&gt;Tebal                : xiv + 384 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sumber utama ajaran Islam, al-Qur’an sengaja didesain untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah hukum secara global. Sebab jika dijelaskan secara rinci, bisa jadi al-Qur’an kehilangn relevansi dengan dinamika masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan dari masa ke masa. Untuk merinci dan memberikan petunjuk pelaksanaan suatu ajaran (hukum), khususnya masalah ibadah, inilah tugas Rasulullah yang dijelaskan melalui sunnahnya.&lt;br /&gt;Di sisi lain problem dan permasalahan kehidupan manusia semakin hari kian bertambah  kompleks dan beragam. Permasalahan-permasalahan yang awalnya dapat dicover secara eksplisit oleh kedua sumber pokok ajaran Islam tersebut, seiring dengan perjalanan waktu, mulai bermunculan problem-problem sosial yang belum ditemukan di dalam kedua sumber tersebut.&lt;br /&gt;Di sinilah kita bisa melihat bahwa Islam bisa didisain sedemikian rupa oleh Allah Swt sebagai agama pamungkat yang diturunkan-Nya dimuka bumi ini. Ajaran-ajaran Islam tetap relevan sepanjang zaman (shalih likulli zaman wa makan) dala  menjawab setiap permasalahan yang ada walaupun teks keagamaan (an-nushus as-syariyyah) secara kuantitatif tidak bertambah. Allah tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah yang merupakan sumber utama ajaran Islam dalam bentuk baku, final, dan siap menjawab secara rinci semua permasalahn yang ada baik yang telah, sedang, dan akan terjadi. Sebab jika demikian, ajaran Islam akan cepat usang, basi dan hilang kemampuannya untuk merespon segala persoalan yang senantiasa berkembang dengan pesat.&lt;br /&gt;Teks normatif yang telah berhenti secara kuantitatif pada abad ke-14 yang lalu akan mengalami banyak kesulitan dalam merespon secara keseluruhan perkembangan permasalah yang terjadi, padahal permasalahan tersebut akan senantiasa berkembang  dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Kondisi obyektif yang berkaitan dengan permasalahan manusia yang setiap saat bertambah banyak yang memerlukan tanggapan logis-yuridis dari nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang belum tercover secara eksplisit, mewajibkan bagi orang yang yang mampu dan memenuhi syarat untuk melakukan “ijtihad” sebagai respon terhadap permasalahan yang baru muncul.&lt;br /&gt;Anugrah akal yang diberikan Allah kepada manusia menjadikannya sebagai makhluk yang selalu ingin tahu, berkembang dan berinovasi. Melalui pranata ijtihad ini, manusia dapat mengeksplorasi akal pikirannya untuk mencari jawaban atas permasalahan baru dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang diperlukan dalam melakukan ijtihad. Pranata ijtihad inilah sebabnya yang menjadi salah satu sebab ajaran Islam mampu menjawab setiap persoalan umat manusia yang semakin banyak dan kompleks.&lt;br /&gt;Dengan begitu, mengingat ketatnya syarat dan kriteria untuk melakukan ijtihad dan sulitnya seseorang boleh melakukan ijtihad, maka dengan sendirinya ijtihad tidak mungkin dilakukan oleh setiap orang. Bagi orang yang tidak mampu melaksanakan ijtihad sendiri, wajib baginya untuk mengikuti pendapat orang-orang yang ahli dalam hal ini adalah ulama.&lt;br /&gt;Saat ini, sudah jarang sekali ditemukan fatwa yang dilakukan oleh perorangan karena menjadi suatu yang berat bagi seorang individu untuk menguasai berbagai sisi keilmuan yang komprehensif sebagai prasyarat sebagai seorang mufti (memberi fatwa). Yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah fatwa yang dilakukan secara kolektif, yang pada umumnya dilakukan oleh para ulama dari berbagai disiplin ilmu yang tergabung dalam organisasi keislaman tertentu. Di antara contoh fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga  atau organsasi sosial kemasyarakatan seperti, Majmah Albuhust Al-Islami, Majmah Al-Fiqh Al-Islami, Rabitah Alam Al-Islami, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan orgasnisasi keislaman lainnya.&lt;br /&gt;Dalam sistem hukum Islam, fatwa mempunyai peranan yang cukup dominan dalam memberikan pertimbangan hukum keagamaan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak punyak kekuatan hukum yang mengikat (ghair mulzimah).&lt;br /&gt;Memang jika dilihat dari sejarahnya, fatwa sebagai salah satu pranata dalam pengambilan keputusan hukum Islam memiliki kekuatan yang cukup dinamis dan kreatif. Hal ini dapat dilihat dari eksisnya sejumlah mazhab hukum yang memiliki corak pemikiran masing-masing sesuai dengan kondisi sosio kulturnya. Terfragmentasinya kesimpulan hukum Islam yang tergambar dari beberapa mazhab yang ada dapat dirunut jauh ketika pada masa sahabat nabi. Pada masa itu, terjadi keberagaman fatwa dalam mengahadapi suatu peristiwa.&lt;br /&gt;Keberagaman fatwa ini diwarisi oleh generasi berikutnya yakni para Tabi’in, dimana pada masa ini, lahir dua aliran besar dalam sistem pengambilan sistem hukum Islam, yaitu fiqih hijaz yang terkenal dengan aliran Ahlu Al- Hadist. Adapun fiqih Irak dikenal dengan Ahlu Al-Ra’yu. Setelah itu berkembang lagi dan tambah mengkristal dalam mazhab-mazhab yang lahir sesuai dengan konteks waktu, tempat dan kondisi sosial kulturnya. Apa yang dikemukakan oleh Ibnu Al-Qayyim yang menyatakan bahwa “kesimpulan fatwa bisa berbeda disebabkan oleh perubahan zaman, tempat, keadaan dan konteksnya”.&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat Indoensia, status fatwa lembaga keagamaan termasuk didalamanya fatwa Majelis Ulama Indonesia mempunyai pengaruh yang tidak kecil walaupun tidak sebanding dengan ormas yang lain. Beberapa bulan yang lalu MUI mengadakan “Ijtimak Ulama Indonesia” dengan menghasilkan beberapa keputusan yang dianggap kontroversi oleh masyarakat, diantaranya adalah haramnya merokok bagi anak-anak, wanita hamil dan merokok di tempat umum. Kedua, mengharamkan untuk golput (tidak memilih) selama masih ada pemimpin yang bisa dipercaya (versi MUI). Ketiga adalah mengharamkan olahraga Yoga.&lt;br /&gt;Kehadiran buku dengan judul “Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam” ini yang ditulis oleh Kiai Makruf Amin sebagai akademisi (ulama, cendikiawan) dan juga praktisi, Ketua Komisi Fatwa MUI sangat menarik untuk dijadikan referensi dan kekuatan teoritis dalam memandang hukum Islam. Karena berdasarkan sisi akademik yang sifatnya Nazhari (deduktif dan teoritis), dikombinasikan dengan pengalaman empirik yang sifatnya Istiqra’i (induktif, penelitian terlibat) pemikiran fiqih.&lt;br /&gt;Buku ini juga dapat menjelaskan masalah fiqhiyyah dengan dua pendekatan sekaligus, pendekatan akademik yang lebih bersifat teoritis dan pendekatan praktis yang bersifat empiris. Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Majalah Risalah NU, No 12 / Thn II /1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-1788249657481436896?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/1788249657481436896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=1788249657481436896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1788249657481436896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1788249657481436896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/06/melacak-akar-sejarah-fatwa.html' title='Melacak Akar Sejarah ‘Fatwa’'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2369192451425862552</id><published>2009-06-22T01:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T01:49:44.870-07:00</updated><title type='text'>Agama Sebagai Rahmatan Lil'alamin</title><content type='html'>Oleh Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tendensi yang sangat umum, betapa agama dalam perkembangan terakhir telah hadir sebagai sosok yang tumpul dan mandul. Agama cenderung dikeramatkan, tapi tidak ampuh mengatasi problem-problem kemanusiaan. Agama hanya dijadikan sebagai obat penenang. Seringkali ia hadir seakan-akan menjadi jampi-jampi keselamatan di tengah-tengah pengikutnya dalam ketertindasan dan keterbelakangan. Inilah mungkin yang dimaksud oleh Marx ketika mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat (opium of society).&lt;br /&gt;Mengapa Marx menyebut sebagai candu? Sebab agama membuat manusia hidup dalam suatu dunia imaji yang absurd. Baginya, agama adalah semacam eskapisme, yakni suatu usaha untuk keluar dari alam nyata ke alam imajinatif agar dapat masuk suatu dunia lain yang tidak lagi ditandai penderitaan dan kesusahan, kehidupan yang sempurna Hanya melalui agamalah, seseorang bisa meraih keselamatan eskatalogis nanti. Jampi-jampi keselamatan agama inilah yang memberi jaminan seseorang untuk menjadi penghuni surga.&lt;br /&gt;Namun dalam sejarahnya, agama selalu ditarik dan dikaitkan dengan kekuasaan, yakni menjadi legitimasi bagi kekuasaan tertentu. Bilamana penguasa memutuskan perang, maka agama tidak boleh tidak harus pula melegitimasi itu pula. Berdasarkan catatan sejarah, penindasan, kekejaman, dan ketimpangan sosial terjadi atas pembenaran agama. Fungsi agama sebagai medium protes sosial dan sumber kritisisme menjadi bungkam dihadapan Negara (kekuasaan). Alih-alih menjadi media pembebasan, agama justru hadir sebagai legitimasi Negara untuk melakukan penindasan terhadap umatnya. Menurut Ignas Kleden (2000), kecenderungan ini muncul karena agama dipahami sebagai ideology.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, benarkah agama sebagai legitimator penguasa untuk membenarkan segala tindakan? Karena agama menjadi tangan kanan penguasa yang pada akhirnya agama mengalami stagnasi, menutup diri dan tidak berdealektik dengan umatnya. Hal inilah yang melahirkan status sosial ketidakadilan dan penderitaan masyarakat lemah, sehingga Marx membagi dua kategori yaitu kelas elit dan kelas bawah. Kita lihat misalnya, baik dulu, sekarang dan yang akan datang, tetap banyak korelasi yang sangat kuat untuk melahirkan dan menciptakan ketimpangan-ketimpangan sosial di masyarakat. Karena agama sudah mengintegrasikan, membenarkan bahkan mendistorsi kenyataan fenomena sosial yang ada.Pada sisi yang lain, bukan berarti agama ikut serta merta dalam problem kemanusiaan.&lt;br /&gt;Secara ideal, agama selalu hadir dalam gagasan-gagasan besar kemanusiaan. Agama memang dihadirkan Tuhan bagi manusia untuk seluruh pembebasan terhadap seluruh bentuk penindasan, tirani, dan perbudakan manusia. Di akui atau tidak , agama telah memfilter manusia dari lubang jarum dan membangunkan manusia ke posisi awal sebaga manusia yang sempurna dan lengkap (insanul kamil). Agama telah melahirkan suatu peradaban manusia kearah yang lebih baik dan menghargai antarsesamanya. Manusia tidak perlu beragama tanpa tanggung jawab sosial, bahwa hubungan horizontal ini sangat mempengaruhi terhadap baik dan tidaknya manusia, baik di hadapan Tuhan maupun antarsesamanya.Kenyataan sosial dewasa ini sangat paradoks terhadap beberapa kejadian akhir-akhir ini, dimana agama tampil di tengah-tengah masyarakat dengan muka suram, sangar dan keras. Sungguh naof, agama dengan cita-citanya untuk mensejahterakan dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kehancuran dan ketidakpastian.&lt;br /&gt;Cita-cita agama (Islam) sebagai Rahmatan Lilalamin tidak mampu menutupi lebih-lebih menyelesaikan penderitaan manusia menjadi impian dan angan-angan belaka. Sehingga agama sering dipahami sebagai pembuka konflik yang tiada akhir.Kalau demikian, agama tidak mempunyai daya tarik dan tawar-menawar yang bisa memikat terhadap problem kemanusiaan. Justru manusia semakin jauh untuk beragama. Agama pada pra Islam dari tiga agama besar dunia (Yahudi, Nashrani dan Zoroasther) tidak mampu menjadi pisau penghalang untuk mendamaikan umatnya. Saat itu, simpul-simpul kemanusiaan nyaris putus, dimana-mana manusia saling menjegal satu sama lain. Hubungan horizontal yang dilumuri darah, pembunuhan sejak peristiwa Kain dan Habel, akhirnya berujung pada rusaknya hubungan vertikal dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Untuk itu, agama harus mendifenisikan kembali posisinya dengan tanggung jawab kemanusiaanya (responsible humanition), agama harus hadir dan keluar dari persembunyiannya di ruang privat yang hening dan damai yang kemudian merangsek hadir dan bangkit ditengah-tengah public yang gaduh, ramai, dan damai. Bukan untuk membangun kebesaran simbolik komunalistik, tetapi untuk menyingkirkan ketertindasan, sebagai musuh kemanusiaan bersama.&lt;br /&gt;Agama hadir sebagai pahlwan sejati yang membebaskan manusia tanpa melihat suku, ras, warna kulit dan akan menyinari dunia modern dengan cahaya kebenaran. Dengan kata lain, pluralitas beragama merupakan sunnatullah dan fakta sosial di tengah-tengah masyarakat yang tidak terbantahkan. Bersamaan dengan itu, harus terjadi sharring, berinteraksi dengan lintas agama beserta umatnya ke dalam religiuitas bersama. Inilah titik temu seluruh agama-agama dan arena jihad paling akbar dan sejati sebagai manefistasi dari agama sebagai rahmatan lil'alamin. Semoga. Wallahu Alam&lt;br /&gt;Penulis adalah Redaktur Majalah Risalah NU Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di HU Pelita,12 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2369192451425862552?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2369192451425862552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2369192451425862552' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2369192451425862552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2369192451425862552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/06/agama-sebagai-rahmatan-lilalamin.html' title='Agama Sebagai Rahmatan Lil&apos;alamin'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-4165811703672020984</id><published>2009-06-22T01:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T01:47:15.202-07:00</updated><title type='text'>Kelurga Berkualitas Ciptakan Bangsa Bermartabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/Sj9E3GmL8TI/AAAAAAAAAFE/NJ4UHYdSF34/s1600-h/Cover+Buku.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350070595793711410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 133px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/Sj9E3GmL8TI/AAAAAAAAAFE/NJ4UHYdSF34/s200/Cover+Buku.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul : Fikih Keluarga (Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah, Keluarga Sehat, Sejahtera dan Berkualitas)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penulis : Chalil Nafis&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penerbit : Mitra Abadi Press, Jakarta&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cetakan : Pertama, Mei 2009&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tebal : v + 284 halaman&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Peresensi : Mashudi Umar*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bukanlah suatu kebetulan jika Al-Qur'an seringkali menyebut urusan tentang keluarga. Menurut Abdul Wahab Khallaf, pakar hukum Islam dan ushul fiqh, ditemukan sebanyak 70 ayat yang secara spesifik mengulas soal keluarga. Bahkan, semua penjelasan tentang hukum Islam dalam Al-Qur’an tidak ada yang lebih rinci dari pada hukum keluarga yang di dalamnya antara lain diulas soal perkawinan, perceraian dan segala hal lain menyangkut hubungan lelaki-perempuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keluarga merupakan unsur sentral dalam ajaran Islam. Sebab unit keluarga memang merupakan sendi utama masyarakat. Atas landasan unit-unit keluarga yang sehat akan berdiri tegak bangunan masyarakat yang sehat. Karena, perkawinan dalam Islam adalah sebuah ikatan bathiniyah dan dhahiriyah antara dua pasangan setara yang telah mengucapkan ijab qabul. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mendambakan pasangan ideal adalah fitrah manusia sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit di bendung setelah dewasa. Oleh karena itu, agama (Islam) mensyari’atkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita, sehingga terlaksananya perkawinan, dan beralihlah kerisauan pria dan wanita menjadi ketentraman (sakinah). Sebagaimana di tegaskan dalam Al-Qur’an, “segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangang agar kamu menyadari (kebesaran Allah).” (QS. adz-Dzariyat : 51: 49)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Islam sangat mementingkan pembinaan pribadi dan keluarga. Akhlak yang mulya baik pada pribadi-pribadi dan keluarga, akan menciptakan masyarakat yang baik dan harmonis juga. Karena itu, hukum keluarga menempati posisi penting dalam hukum Islam. Hukum keluarga dirasakan sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Paradigma berkeluarga seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, mengikuti sunnah Nabi, menjaga kesucian diri, dan melakukan aktivitas sehari yang berkaitan dengan keluarga. Sehingga pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, dan sosialisasi setiap anggota keluarganya. Sebagaiman sabda Rasulullah SAW yang berbunyi; “sesungguhnya menikah adalah sunnahku, barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku maka dia bukan golonganku.”(HR Bukhari dan Muslim).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jadi sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Apa itu kompetensi berkeluarga? Kompetensi keluarga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakan nilai-nilai Islam di masyarakat dan membangun moralitas anak bangsa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka tak heran jika Rasulullah SAW menyuruh kita untuk pandai-pandai memilih pasangan hidup. Abi Hurairah RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan, dan keturunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hadits di atas menegaskan kepada umat Islam untuk memilih perempuan (calon istri) karena agamanya dan moralitasnya yang kuat bukan karena harta dan kecantikannya. Seperti fondasi suatu pembangunan yang kuat, maka bangunan yang berdiri di atasnya akan kuat pula. Oleh karena itu, Islam sangat mendukung dan sangat menganjurkan adanya sebuah rumah tangga seorang muslim yang tenteram, damai, sehingga terbentuk sebuah fondasi yang kuat bagi terwujudnya suatu tatanam masyarakat yang educatif, cerdas dan bijaksana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Visi Keluarga Sakinah Dan Sejahtera&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Membangun keluarga sangat terkait dengan berbagai kendala dan pengaruh. Terlebih di tengah arus deras globalisasi yang serba terbuka, kompetitif di semua bidang yang tanpa disadari turut merubah gaya hidup dan pola perilaku. Konsekuensi dari era globalisasi banyak membawa warna bagi keluarga Indonesia. Sejatinya keluarga seperti apakah yang menjadi impian, pilihan dan harapan bagi keluarga-keluarga khususnya masyarakat Indonesia? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah (samara) adalah sasaran yang ingin dicapai seorang muslim dalam membentuk berkeluarga. Dalam keluarga yang samara itulah kita akan melahirkan pribadi Islami untuk saat ini dan masa depan yang lebih cerah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salah satu tujuan orang berumah tangga adalah untuk mendapatkan sakinah atau ketenangan dan ketentraman tersebut. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum [30]: 21).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ayat di atas menerangkan bahwa, bahwa perempuan itu adalah sebagai tempat menenangkan dan menentramkan seluruh anggotanya. Jadi kedudukan perempuan dalam keluarga menurut Islam adalah sebagai motor penggerak bagi maju mundurnya sebuah keluarga, sebab di tangan perempuanlah diserahkan kepemimpinan di dalam rumah tangga. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keluarga sakinah merupakan pilar pembentukan masyarakat ideal yang dapat melahirkan keturunan yang shalih. Di dalamnya kita akan menemukan kehangatan, kasih sayang, kebahagiaan, dan ketenangan yang akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut. Pertama, fungsi religius, yaitu keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada anggota-anggotanya. Kedua, fungsi efektif, yakni keluarga memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan. Ketiga, fungsi sosial; keluarga memberikan prestise dan status kepada semua anggotanya. Keempat, fungsi edukatif; keluarga memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Kelima, fungsi protektif; keluarga melindungi anggota-anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial; dan keenam, fungsi rekreatif yaitu bahwa keluarga merupakan wadah rekreasi bagi anggotanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dus, kehadiran buku setebal 284 halaman ini yang ditulis oleh Cholil Nafis, intelektual muda NU yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) penting untuk dijadikan referensi, sumber bacaan oleh kalangan muslim yang bercita-cita menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Buku ini dilengkapi dengan beberapa data yang akurat, valid baik secara tekstual dan kontekstual. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan demikian, apabila tatanan keluarga berkualitas maka menjadi fondasi yang tangguh bagi berdirinya tatanan masyarakat dan bangsa untuk mempunyai kehormatan dan harga diri ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa yang lain. Dengan kata lain, bahwa terciptanya keluarga sakinah dan sejahtera akan terwujud kemajuan sebuah bangsa yang bermartabat dan berwibawa sesuai dengan cita-cita para founding father’s yang telah mendahului kita semua. Wallahu A’lam Bis Shawab* &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Peresensi adalah Pecinta Buku dan Pemerhati Sosial Keagamaan, Tinggal di Jakarta &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dimuat di &lt;a href="http://www.nu.online.com/"&gt;http://www.nu.online.com/&lt;/a&gt;. 15/06/09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-4165811703672020984?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/4165811703672020984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=4165811703672020984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4165811703672020984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4165811703672020984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/06/kelurga-berkualitas-ciptakan-bangsa.html' title='Kelurga Berkualitas Ciptakan Bangsa Bermartabat'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/Sj9E3GmL8TI/AAAAAAAAAFE/NJ4UHYdSF34/s72-c/Cover+Buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3036780270801128796</id><published>2009-06-04T19:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T19:52:51.904-07:00</updated><title type='text'>Menakar Mashlaha dan Mafsadat Golput</title><content type='html'>Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pengharaman bagi Golongan putih (golput) masih menuai kontroversi dan kecaman baik dari pengamat, intelektual, ormas, politisi dan masyarakat sendiri, walaupun juga ada yang mendukung. Wacana golput yang sempat mengemuka merupakan pandangan yang wajar&lt;br /&gt;Persoalan golput dalam sistem demokrasi memang menjadi ganjalan jika jumlahnya sangat besar. Golput yang besar diyakini mengganggu ketenangan legitimasi proses demokrasi melalui pemilu ini. Kadang golput lebih besar jumlahnya dari pemilih, sehingga inilah yang sangat dikhawatirkan oleh parpol dan calon legislatif yang akan bertarung untuk lolos ke senayan.&lt;br /&gt;Sementara itu, munculnya golput disebabkan tiga faktor yakni kekacauan yang disebabkan kekecewaan pemilih seperti tidak memperoleh kartu pemilih. Selanjutnya, faktor pragmatis disebabkan alasan yang mendesak atau situasi sehingga tidak memungkinkan untuk memilih. Faktor terbesar munculnya golput disebabkan adalah ideologis yang beranggapan memilih atau tidak sama saja.&lt;br /&gt;Intelektual muda muslim, Abd. Moqsith Ghazali, menilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang tidak perlu mengeluarkan fatwa haram tentang golput, katanya ketika Todays Dialogue dengan Kiai Makruf Amin di Metrotv (3/2) tentang “Obral Fatwa Haram MUI”.&lt;br /&gt;“Jika ingin mendorong peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pemilihan umum, sebaiknya mengeluarkan anjuran untuk menggunakan hak pilihnya,” tuturnya. Karena fatwa MUI juga tidak mengikat (ghairu multazam) untuk diikuti oleh umat Islam, kecuali kedudukan MUI berubah menjadi lembaga negara seperti MK atau MA.&lt;br /&gt;Ketua fatwa MUI KH. Makruf Amin, mengatakan bahwa kesepaktan dalam Ijtima` Ulama kemarin adalah memilih pemimpin yang mempunyai kreteria: Pertama, jujur. Kedua, amanah. Ketiga, beriman dan Keempat, memperjuangkan aspirasi ummat Islam. Adalah hukumnya wajib.&lt;br /&gt;Sedangkan, menurut ia, memilih pemimpin yang tidak mempunyai kreteria diatas adalah haram. Kalau  tidak memilih pemimpin sama sekali alias golput padahal ada pemimpin yang jujur, amanah, beriman dan memperjuangkan aspirasi ummat adalah haram yang kemudian dimaknai golput. &lt;br /&gt;KH Ma`ruf Amin mengakui, bahwa fatwa tentang kewajiban menggunakan hak pilih atau lebih populer dengan istilah fatwa golput memberi keuntungan pada partai-partaiIslam."Pemilih Islam, terutama yang tradisional, pasti akan ikut partai Islam," kata Ma`ruf Namun, untuk meraih suara pemilih rasional tentu partai-partai Islam tetap harus berjuangkerasbersaingdenganpartaisekuler.&lt;br /&gt;Meski demikian, lanjut Ma`ruf, alasan utama dikeluarkannya fatwa itu lebih pada upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat, terutama kalangan Islam, agar turut terlibat dalam pemilu yang merupakan sarana untuk memilih pemimpin."Nashbul imamah (memilih pemimpin) ini menurut perspektif agama adalah termasuk kewajiban," ujar  kiai Makruf yang juga dewan pengarah bank-bank syari’ah kepada Risalah NU.&lt;br /&gt;Menurut dia , karena anggota DPR/DPRD itu juga Ahli Syuraa, Ahlu hali wall aqdi (Ahli tempat orang-orang bermusyawarah), sedangkan Nabi sendiri diperintahkan oleh Allah untuk bermusyawarah dalam semua hal (wasyawirhum fil amri). Kalau Nabi saja dalam memecahkan perkara itu disuruh untuk bermusyawarah, apalagi yang bukan Nabi.&lt;br /&gt;Sementara itu, menurut Masdar Farid Mas’udi, Ketua PBNU, bahwa golput dalam sejarah Islam sudah terjadi mada masa Khulafaurrasyidin. “Sayyidina Ali itu tidak ikut memilih Abu Bakar untuk mengganti nabi,” katanya.&lt;br /&gt;Dalam fikih syiasah, menurut Masdar yang juga Direktur P3M, memilih pemimpin yang adil atau nasbu al imam bil al-adli ada kewajiban bagi setiap orang yang sudah berhak memilih, karena keadilan merupakan kunci dari setiap kepemimpinan. Dan yang menentukan kepemimpinan yang adil bukan tergantung dari coblosannya akan tetapi mengawal kepemimpinannya hingga kekuasaan berakhir.&lt;br /&gt;Sedangkan keputusan  yang hanya menghukumi memilih pemimpin (nasbu al imam) saja, tidak ada adilnya itu tidak bisa, karena orang memilih pemimpin yang tidak adil tidak ada gunanya, kepemimpinan hanya dua menit selesai. &lt;br /&gt;“akan tetapi kalau  memilih pemimpin yang adil kita harus mengawalnya selama lima tahun penuh, setelah dipilih tidak boleh di tinggalkan, kalau di tinggalkan menjadi dholim. Untuk memilih pemimpin yang adil merupakan kewajiban kaffah (fardlu kifayah),” tutur Masdar ketika ditemui Risalah NU. &lt;br /&gt;Dikatakan Masdar, untuk memastikan menjadi pemimpin yang adil itu harus di kawal, bukan memilih pemimpin (nasbul imam) lalu ditinggal, yang mencoblos itu ikut dosa.&lt;br /&gt;Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, fatwa haram golput yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum tentu mendongkrak perolehan suara partai Islam pada pemilu nanti."Saya kira, tidak ada kaitan antara fatwa itu dengan kenaikan perolehan suara partai Islam," kata Hasyim yang dilansir oleh beberapa media kemuka.&lt;br /&gt;Partai yang dinilai mampu memperjuangkan kesejahteraan yang akan dipilih, apa pun asasnya. Partai Islam dinilai tidak mampu membuktikan ke-Islam-annya dalam realitas politik, yang dilakukan sekedar formalisasi, belum mewujudkan Islam sebagai rahmat."Tingkahnya juga sama dengan partai sekuler. Pintar mendalil kalau perilakunya berbeda dengan yang didalilkan, ya sama saja.  Masih baik yang sekuler tidak pakai memperkosa dalil," katanya tegas.&lt;br /&gt;Golput bukan sebuah sikap politik yang berdiri sendiri. Karenanya, tidak dapat pula rakyat dipersalahkan dengan hukum yang tunggal. Seharusnya yang dilakukan MUI sebagai panutan umat atau warga memberikan evaluasi atau koreksi yang melatarbelakangi munculnya tindakan golput tersebut. Bukan malah menghakimi orang yang akan melakukan golput. Jadi MUI harus meninjau dengan kritis yang menyebabkan masyarakat golput.&lt;br /&gt;Karena itu, memilih merupakan hak, dan hilangnya kepercayaan terhadap sebuah partai menjadi faktor semakin meningkatnya jumlah golput. Di tambah dengan tingkah laku para anggota Dewan yang dalam pandangan masyarakat memalukan, karena melakukan korupsi dan janji-janji kesejahteraan, membuat rakyat malas memilih wakilnya. Mashudi Umar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3036780270801128796?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3036780270801128796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3036780270801128796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3036780270801128796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3036780270801128796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/06/menakar-mashlaha-dan-mafsadat-golput.html' title='Menakar Mashlaha dan Mafsadat Golput'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3982332009489718436</id><published>2009-05-09T19:45:00.001-07:00</published><updated>2009-05-09T20:02:10.190-07:00</updated><title type='text'>Membincang Ayat-Ayat Pluralisme Agama</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SgZDVC35hwI/AAAAAAAAAE8/f6x65EqRb1Q/s1600-h/Cover+Buku+Moqsith.BMP"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334024837494572802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 115px; CURSOR: hand; HEIGHT: 181px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SgZDVC35hwI/AAAAAAAAAE8/f6x65EqRb1Q/s200/Cover+Buku+Moqsith.BMP" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Argumen Pluralisme Agama; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Membagun Toleransi Berbasis Al-Qur’an&lt;br /&gt;Penulis : Abd. Moqsith Ghazali&lt;br /&gt;Penerbit : KataKita, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal : xi + 424 halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Mashudi Umar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pluralisme agama di zaman modern ini tidak berjalan mulus, baik di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Konflik, kekerasan dan perang atas dasar kebencian yang diwarnai sentimen agama begitu tampak. Misalnya, konflik Katolik dan Islam di Filipina, konflik Pelestina dan Israel, Hindu versus Islam di India, juga konflik Hindu, Islam dan Budhisme di Srilangka, atau konflik antara Islam Sunni dan Islam Syi’ah di Pakistan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sementara beberapa fakta domestik yang terjadi di Indonesia dapat kita lihat beberapa tahun ini. Misalnya, aksi teror terhadap kaum Ahmadiyah yang dianggap telah sesat dari agama Islam yang lurus dan kasus AKKB yang bentrok dengan Front Pembala Islam (FPI) dan lain-lain. Kekerasan demi kekerasan ini selalu muncul dikala umat yang menolak pluralisme agama merasa terancam. Kasus-kasus ketegangan dan konflik bernuansa agama di Indonesia seringkali melibatkan negara beserta lembaga-lembaga agama (baca: MUI) seringkali diskriminatif dalam mensikapi pluralisme agama.&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, pluralisme dimaknai sebagai kemajemukan, keberagaman dan kebhinekaan. Keberagaman bukan hanya sebagai sebuah realitas sosial (pluralitas), melainkan juga sebagai gagasan dan ide-ide segar. Kebhinekaan sudah berlangsung berabad-abad, jauh sebelum negara ini terbentuk dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 bahwa, ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”&lt;br /&gt;Atas dasar undang-undang ini, semua warga negara dengan beragam identitas kultural, suku, jenis, kelamin, agama, wajib dilindungi oleh negara. Ini juga berarti negara tidak boleh mendiskriminasi warganya dengan alasan apa pun. Pemerintah dan semua warga negara berkewajiban menegakkan konstitusi tersebut.&lt;br /&gt;Akan tetapi bunyi undang-undang tersebut kurang membumi ditingkat masyarakat, sehingga dalam hubungan antar-umat beragama, trauma sejarah dan hambatan psikologis masih berkembang di kalangan tokoh dan umat beragama sendiri. Peristiwa-peristiwa yang berbau SARA yang terjadi selama ini, atau peristiwa-peristiwa lokal lain yang menyerang kepada penganut yang berbeda pamahaman, dimana agama menjadi isu sentral dan senjata utama untuk membenarkan tindakannya.&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran dasar agama yang memuliakan perbedaan di satu sisi dan persamaan di sisi yang lain telah tertimbun oleh “kerikil-kerikil” politik dan kepentingan yang dibalut dengan penafsiran yang eksklusif. Penafsiran seseorang (&lt;em&gt;self&lt;/em&gt;) atau kelompok tertentu yang bertekad meruntuhkan segala yang lain (&lt;em&gt;the other&lt;/em&gt;) telah terbukti menimbulkan keruwetan relasi antarumat.&lt;br /&gt;Salah satu hambatan yang sering kemudian secara sengaja atau tidak sengaja menjadi konflik ideologis dan memiliki dampak politik adalah masih berkembangnya pola pemahaman keagamaan yang bersifat harfiyah, tekstual, dan parsial dalam melihat eksistensi agama-agama lain.&lt;br /&gt;Adalah sangat penting untuk melihat generalitas dan sekaligus partikularitas ayat-ayat Al-Qur’an secara seimbang. Salah satu persoalan krusial yang di dalamnya terjadi polemik penafsiran yang tampaknya belum selesai adalah bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang pluralisme agama. Al-Qur’an diyakini tidak mengandung kontradiksi internal sama sekali, karena kalau hal ini terjadi, maka berarti hilang makna keabadian fungsi dan orisinalitas Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Sekelompok ayat secara jelas mengkonfirmasi keberadaan agama-agama monoteistik terdahulu, menegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad adalah kelanjutan dari risalah nabi-nabi terdahulu. Memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak diskriminatif terhadap nabi-nabi (Al-Qur’an, 3:84) dan menjanjikan bahwa siapa pun dari orang beriman, orang yahudi, Nashrani, Shabi’un dan berbuat kebaikan, akan mendapat rahmat Allah dan keselamatan dari ketakutan dan kesedihan (Al-Qur’an, 3: 62, 5: 69).&lt;br /&gt;Sementara itu, tentang pluralisme agama, kitab suci AI-Qur'an, menyebutkan landasan normatif bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (Qs.2:-256). Karena kemajemukan itu kehendak Allah. Tuhan menciptakan manusia beranekaragam agar mereka saling mengenal, memahami dan bekerjasama (Qs. 13: 49).&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam catatan sumber-sumber primer Islam seperti Al-Qur’an, Hadits, dan sejarah Muhammad SAW, bahwa concern utama Islam adalah membangun pluralisme. Inilah sikap dasar-universal Islam. Sementara sikap sosial politiknya berjalan seiring dinamika hubungan antara umat Islam dan umat agama lain. Suatu waktu umat Islam bermesraan dengan Yahudi dan Kristen. Dan di kala yang lain, karena motif ekonomi-politik, umat Islam berada dalam posisi berhadap-hadapan dengan Kristen dan juga Yahudi. Islam bukan agama yang eksklusif seperti yang dipahami oleh beberapa ormas-ormas baru yang selalu membawa nama Tuhan.&lt;br /&gt;Pluralisme dan kebebasan beragama tidak hanya ditemukan dalam teks-teks Al-Qur’an, melainkan juga dideklarasikan Nabi Muhammad ketika di Madinah. Deklarasi ini dikenal dalam literatur Islam sebagai ”watsiqah al-madinah” (piagam Madinah). Begitu juga di dunia Muslim sudah mengeluarkan deklarasi sejenis yang dikenal dengan ”Deklarasi Kairo.”&lt;br /&gt;Kehadiran buku setebal 424 ini tepat pada waktunya ketika pluralisme dianggap sebagai ancaman. Karya ini menjadi perhatian publik bahkan mengagetkan bagi kalangan yang menolak pluralisme agama yang sesungguhnya menjadi sunnatullah. Ia menyampaikan informasi dari sumber-sumber Islam sendiri tentang kehidupan Nabi Muhammad yang bersinggungan dengan pemeluk agama Yahudi, Nashrani dan agama-agama sebelumya.&lt;br /&gt;Pemetaan yang brilian, cerdas, reflektif dan lugas telah dihadirkan oleh Abd. Moqsith Ghazali, intelektual muda Muslim dan dosen Universitas Paramadina Jakarta yang menjembatani ayat–ayat toleran dan intoleran tentang pluralisme agama berbasis Al-Qur’an dengan argumentasi kuat yang didukung oleh liletarul Islam klasik (baca: kitab kuning) menjadi tambah menarik untuk dibaca oleh siapa pun dan kalangan manapun.&lt;br /&gt;Sebab kitab suci Al-Qur’an diyakini turun tidak dalam suatu historical vacuum, ia turun bertahap untuk menjawab pertanyaan, memberikan tanggapan, bahkan menawarkan ”problem-solving” bagi masyarakat ketika itu, untuk kemudian dijadikan pegangan moral bagi masyarakat sesudahnya. Karena pluralisme agama adalah fakta sosial (sunnatullah) yang selalu ada dan telah menghidupi tradisi agama-agama sebelumnya. Banyak orang bicara toleransi, tapi tak banyak yang punya sumber bacaan kuat dalam literatur klasik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku ini adalah sebuah “ijtihad intelektual” dan merupakan kontribusi penting bagi penguatan toleransi beragama dalam perspektif Muslim. Orang berijtihad haruslah dinamis dan terus dilakukan. Sebagaimana sabda nabi: “Barang siapa yang berijtihad, jika benar akan mendapatkan dua pahala, dan jika salah ia mendapatkan satu pahala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Peresensi adalah Penggiat Buku dan Pemerhati Social Keagamaan tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di www.indonesiafile.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3982332009489718436?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3982332009489718436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3982332009489718436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3982332009489718436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3982332009489718436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/05/membincang-ayat-ayat-pluralisme-agama.html' title='Membincang Ayat-Ayat Pluralisme Agama'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SgZDVC35hwI/AAAAAAAAAE8/f6x65EqRb1Q/s72-c/Cover+Buku+Moqsith.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-6751143938781190524</id><published>2009-04-04T06:53:00.000-07:00</published><updated>2009-04-04T06:57:23.103-07:00</updated><title type='text'>Membaca Ulang Kontrak Politik Nabi</title><content type='html'>Oleh : Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Rabiul awwal, suatu bulan bersejarah bagi umat Islam, tepatnya pada 12 Rabiul Awwal tahun fil (gajah), yakni lahirnya sosok manusia teladan umat sepanjang zaman, uswah hasanah yang menjadi cerminan manusia terbaik sepanjang masa. Dialah Muhammad SAW. Hari lahir Nabi Muhammad SAW biasa disebut dengan istilah Maulid Nabi atau dalam bahasa Jawa biasa disebut mulud.&lt;br /&gt;Kelahiran seorang anak manusia menjadi istimewa, ketika seseorang yang lahir kemudian mampu memberikan kontribusi yang besar bagi sejarah peradaban manusia. Dia berhasil menggoreskan tinta emas dalam catatan kehidupannya, mengubah kondisi masyarakat yang penuh dengan kebiadaban, ketertindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan kemiskinan, menjadi sebuah masyarakat yang beradab, merdeka, cerdas, egaliter, toleran, dan hidup dalam suasana penuh keadilan dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masyarakat Arab Pra-Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kondisi masyarakat Arab jahili pra-Islam pada waktu Muhammad dilahirkan, bukanlah sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Pelbagai kebobrokan melingkupi seluruh sendi kehidupan; agama, sosial-politik, budaya dan sendi-sendi kehidupan lainnya.Dalam ranah agama, paham paganisme (penyembahan terhadap berhala) menjadi keyakinan yang mendarah daging bagi masyarakat Arab ketika itu.&lt;br /&gt;Bahkan, menurut catatan sejarah setiap suku memiliki berhala sendiri. Takhayul bagi mereka adalah sebuah agama yang kuat, seluruh sendi kehidupan mereka dikendalikan oleh takhayul.Kehidupan sosial-politik saat itu juga sangat memprihatinkan. Fanatisme kesukuan menjadi harga mati. Setiap orang bangga akan eksistensi sukunya, sehingga tidak ada ruang bagi orang lain di luar sukunya. Mereka selalu menganggap bahwa hanya suku atau kelompoknya yang paling baik dan berkuasa.&lt;br /&gt;Maka, ketika sentimen kesukuan ini dinodai, pertumpahan darah pun tak dapat dielakkanlagi. Di sisi lain, masyarakat ketika itu sangat memarginalkan posisi perempuan. Eksistensi perempuan tidak dihargai sama sekali. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak memiliki harkat dan martabat sebanding dengan kaum laki-laki. Keberadaan mereka, baik secara sosial-politik, budaya maupun ekonomi tidaklah bebas. Bahkan mereka dianggap sebagai beban hidup. Sungguh mengerikan Kondisi yang tidak kalah buruknya terjadi pada aspek budaya. Sejarah menyebut masyarakat Arab ketika itu dengan istilah jahiliyah (masa kebodohan). Ilmu pengetahuan menjadi barang langka.&lt;br /&gt;Masyarakat Arab pada waktu itu, menganggap belajar baca-tulis adalah suatu hal yang sia-sia dan hanya buang-buang waktu saja. Kondisi seperti ini yang pada gilirannya menyebabkan mereka berpikir sempit, lebih mengedepankan otot daripada otak. Setiap persoalan diselesaikan dengan cara kekerasan, tidak dengan pikiran jernih.Di tengah kondisi masyarakat yang demikian rusak di berbagai sendi kehidupan itulah, lahir seorang anak manusia yang kelak merombak seluruh tatanan kehidupan jahiliyah, membebaskan masyarakat dari kebodohan menuju pencerahan, kebiadaban menjadi keberadaban, serta ketertindasan menuju kemerdekaan dengan pancaran sinar ilahi, dialah Muhammad saw.&lt;br /&gt;Sejalan dengan bergulirnya waktu, pada usianya yang ke-40, Muhammad SAW mendapat titah berupa wahyu dari Allah SWT. untuk menjadi seorang Rasul (utusan). Mulai saat itu, Muhammad SAW resmi diangkat menjadi seorang Rasul yang mengemban misi profetik, menyebarkan risalah Ilahiyah, menegakkan dakwah amar makruf nahi munkar.Sadar akan amanat yang telah diembankan kepadanya, maka kemudian beliau menyusun strategi dakwah untuk membebaskan masyarakat Arab dari belenggu kemusyrikan, kungkungan kebodohan, cengkeraman penderitaan dan penindasan, serta memperjuangkan harkat dan maratabat manusia sesuai dengan kodratnya.&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, beliau mulai mengikis paham paganisme, menghilangkan kemusyrikan menuju masyarakat tauhid, mengubah kepercayaan kepada takhayul menuju rasionalitas di bawah bimbingan wahyu, membebaskan kaum mustadh'afin (lemah) dari ketertindasan menuju masyarakat merdeka, serta mengangkat harkat dan martabat perempuan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 23 tahun masa kenabiannya, beliau berhasil membebaskan masyarakat dari beragam bentuk kejahiliyahan; baik dalam bidang akidah, ibadah, ilmu pengetahuan, sosial-politik-ekonomi maupun segala sendi kehidupan lainnya. Selama bentangan waktu tersebut, dalam menjalankan misi dakwahnya, dengan dilandasi semangat pembebasan (liberatif), pencerahan (enlightenment) dan perbaikan (reformasi) sesuai dengan petunjuk wahyu, beliau sukses menciptakan sebuah tatanan masyarakat madani (berperadaban) yang penuh dengan semangat religius, mencintai ilmu pengetahuan, berpikir rasional di bawah bimbingan wahyu, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;Karena itulah, tidak salah seandainya generasi intelektual muslim modern mencoba mencari dalam contoh Nabi di Madinah itu suatu ilham untuk mengelola masyarakat modern. Salah satu kebijakan politik yang sering dianggap sebagai kejeniusan Muhammad (Abqariyyat Muhammad), adalah ketika dia memprakarsai suatu kontrak politik antara umat Islam dan kelompok-kelompok sosial lain di Madinah saat itu. Dokumen kontrak ini, dalam sejarah Islam, dikenal sebagai Mitsaq al-Madinah atau Perjanjian Madinah, atau Piagam Madinah.&lt;br /&gt;Penulis Mesir, Muhammad Husen Haikal, dalam Hayat Muhammad (Peri Hidup Muhammad), menyebut hal ini sebagai watsiqah siyasiyyah atau dokumen politik yang menjamin kebebasan iman, kebebasan pendapat, perlindungan atas negara, hak hidup, hak milik, dan pelarangan kejahatan. Muhammad memang seorang rasul, tetapi lebih penting lagi dia adalah pemimpin suatu komunitas konkret yang menjadi embrio sebuah negara di Madinah saat itu. Singkatnya, kehadiran seorang Muhammad di tengah kondisi masyarakat yang bobrok baik kehidupan agama maupun sosialnya, mampu memberikan nuansa kehidupan baru yang lebih agamis, membebaskan dan mencerahkan.&lt;br /&gt;Aka tetapi, bahwa kita (umat Islam) tidak harus mengikuti kebijakan Nabi baik di mekkah dan di Madinah saat itu, harus ditiru 100% pada masa sekarang. Bagaimanapun, contoh Nabi sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu. Model Madinah dan mekkah bisa menjadi inspirasi dan ilham untuk mencari bentuk pengelolaan kehidupan modern sekarang ini bagi umat Islam, tetapi model itu bukanlah juklak yang harus ditiru setindak demi setindak. Umat Islam harus merumuskan sendiri model baru yang sesuai dengan tantangan yang lebih kompleks saat ini.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, melalui refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw kali ini, dan menjelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009, semoga hadir di hadapan kita sosok manusia-manusia religius yang memiliki semangat pembebasan, memanusiakan manusia. Sehingga mampu menyinergikan antara komitmen keagamaan (spiritual) dan kemanusiaan (sosial), demi terwujudnya masyarakat religius yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga kesejahteraan dan kemakmuran benar-benar dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah pemerhati sosial keagamaan, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dimuat di HU Pelita, tanggal 28 Mei 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-6751143938781190524?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/6751143938781190524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=6751143938781190524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6751143938781190524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6751143938781190524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/04/membaca-ulang-kontrak-politik-nabi.html' title='Membaca Ulang Kontrak Politik Nabi'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-4422857780908339076</id><published>2009-04-04T06:51:00.000-07:00</published><updated>2009-04-04T06:52:19.759-07:00</updated><title type='text'>Infotainment dan Penderitaan Sosial</title><content type='html'>Oleh: Masyhudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akui atau tidak, infotainment (berita seputar kehidupan selibritis atau artis) banyak penggemarnya, baik dari kalangan ABG, orang dewasa, termasuk orang tua (laki-laki dan perempuan). Mereka tidak merasa, jika apa yang disenangi itu mengandung efek negatif, tidak mendidik dan banyak mafsadatnya, baik terhadap diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;Program infotainment berkembang begitu cepat, hingga kini berjumlah 41 judul di berbagai sistem televisi swasta. Sebanyak 541 tayangan perminggu dengan durasi masing-masing 30 menit. Di antara infotainment itu adalah Was-Was, Otista, Kasak-Kusuk, Halo Selibrity, Kabar-Kabari, Cek dan Ricek dan lainnya. Infotainment -disadari atau tidak- kemudian menjadi tema menarik dalam percakapan sehari-hari.&lt;br /&gt;Perceraian, pergunjingan, pemukulan, kasus narkoba sampai nikah sirri para artis, menjadi makanan empuk para jurnalis infotainment. Begitulah, setiap hari stasiun televisi swasta menayangkan acara, suka maupun duka. Batas antara ranah privat dan ranah public seakan tak ada lagi. Karena faktanya, banyak tanyangan yang mengobok-obok urusan pribadi seseorang. Sementara disisi lain, para penonton infotainment bukan terdiri dari orang-orang yang sadar akan bahaya yang ditimbulkannya. Bahkan diantara mereka sangat menikmati drama pergunjingan dari infotainment. Keadaan ini selaras dengan kepentingan para pembuat infotainment. Karena para penjual berita ini tidak terlalu peduli dengan keadaan para penikmat infotainment. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana caranya laku ditengah-tengah masyarakat hingga memperoleh rating tinggi.&lt;br /&gt;Kondisi masyarakat penikmat infotainment tersebut, bisa dipahami karena masyarakat kita adalah masyarakat yang terjangkit budaya instan dan hedon, yang barangkali sudah merambat ke segala lapisan. Diantara sebagian besar bangsa ini mungkin juga latah. Karena segala apa yang dimakan para artis, apa yang dipakai, gaya bicaranya, dan sebaginya itu ditiru semua. Tapi disisi lain, barangkali infotainment juga merupakan tayangan penghibur bagi sebagian besar bangsa Indonesia yang taraf ekonominya rendah. Sehingga disela-sela derasnya kucuran keringat, mereka bersantai sambil menonton tayangan infotainment.&lt;br /&gt;Menyadari akan dampak negatif infotainment dan mempertimbangkannya dari kajian hokum fiqh (syariat), akhirnya pada tanggal 27-30 juli 2006, Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Surabaya, mengharamkan tayangan ini dengan beberapa pertimbangan, yaitu, pertama, tayangan infotainment sudak masuk terlalu jauh ke ruang privat yang bisa dikategorekan pergunjingan (ghibah) orang lain di depan public, seperti rumah tangga artis yang dikabarkan retah karena selingkuh, padahal kabar itu hanya gosib belaka, belum tentu kebenarannya. Kedua, tayangan infotainment merupakan salah satu acara yang pada durasinya sudah masuk kategori berlebihan. Karena hampir setiap saat, pemirsa dijelajahi tayangan itu, sehingga masyarakat mudah terbius untuk terus menerus menonton pergunjingan orang lain.&lt;br /&gt;Ketiga, tayangan infotainment telah menimbulkan dampak negatif (mudharat) pada masyarakat. Sehingga menayangkan atau menonton acara yang mengarah pada upaya yang menyebarkan fitnah -melalui acara apapun- adalah haram, kecuali didasari tujuan yang dibenarkan secara syari’at seperti memberantas kemungkaran, memberi peringatan , menyampaikan pengaduan/laporan dan atau meminta fatwa hukum.&lt;br /&gt;Fatwa haram di atas memang menimbulkan pro-kontra. Tapi demikian, jika ditelisik melalui kode etik pers, para jurnalis infotainment dan juga produsernya, tampaknya kurang mengindahkan aturan yang telah disepakati para jurnalis ini. Karena mereka hanya mengemplementasikan  aspek syarat yang membuat beriata, yaitu 5W + 1H (what, who, when, where, whay, dan haw), lebih-lebih mereka juga mengabaikan persoalan public dalam memberitakan hasil reportasenya.&lt;br /&gt;Lantas, apakan infotainment itu bagian dari pers? Menurut Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Jakarta, tayangan infotainment perlu dilihat dari dua aspek, yaitu apakah tayangan ini memenuhi kepentingan  public dan etika jurnalistik. Artinya jika tayangan infotainment itu tidak memenuhi kepentingan masyarakat, maka acara ini telah melanggar kode etik jurnalisme. Karena semangat jurnalisme itu mengabdi pada kepentingan public.&lt;br /&gt;Ala kulli hal, infotainment jelas bukan sesuatu yang mulia dan terpuji. Tetapi melarang masyarakat menonton infotainment juga tidak akan mengakhiri penderitaan social khalayak penggemar infotainment, lantas?&lt;br /&gt;Barangkali menengahi persoalan ini dengan melakukan pendidikan terhadap tiap-tiap kelompok  dalam masyarakat tentang bahaya infotainment, merupakan jalan yang lebih bijak. Bagaimana menurut anda sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini telah dipublikasikan di Majalah ALFIKR IAI Nurul Jadid, No 14 Th. X1V / Desember 2006-Februari 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-4422857780908339076?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/4422857780908339076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=4422857780908339076' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4422857780908339076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4422857780908339076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/04/infotainment-dan-penderitaan-sosial.html' title='Infotainment dan Penderitaan Sosial'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3883326639636153096</id><published>2009-04-04T06:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-04T06:47:16.610-07:00</updated><title type='text'>Membangun Pendidikan Islam Pluralis</title><content type='html'>Oleh: Masyhudi Umar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pada hakekatnya adalah sesuatu yang luhur karena di dalamnya mengandung misi kebajikan. Karena suksesnya seseorang dan maju tidaknya suatu bangsa amat tergantung pada tingkat pendidikannya. Pendidikan tidaklah sekedar proses kegiatan belajar mengajar an sich, melainkan juga sebagai proses penyadaran untuk menjadikan manusia sebagai "manusia”. Dengan kata lain pendidikan merupakan sarana untuk menjadikan manusia sebagai "manusia sadar" yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, siapa kemudian menyangka tatkala diskursus tersebut teraplikasi dalam bentuknya yang riil -seperti dalam bentuk sekolah dan semacamnya—ia kerapkali terseret pada kepentingan. ideologi dan politik. kekerasan khususnya pada pendidikan Islam dalam menyikapi pluralisme agama.&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat, kerusuhan sosial yang berbau SARA di tanah air sejak dari Pekalongan (1995), Tasikmalaya dan Situbondo (1996). Kalimantan Barat sampai terjadi ke Ambon dan Maluku (1999) dan lain sebagainya. Ada keseganan tersendiri untuk menyebut agama sebagai salah satu faktor penyebab konflik dan kerusuhan di tanah air. ada ketidak beraniaan berterus terang mengenai aib sendiri. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mempertanyakan ulang bagaimana sesungguhnya praktik metodologi dalam pendidikan agama. khususnya agama Islam, baik yang menyangkut materi, metodologi di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, diskusi-diskusi dan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian upaya untuk memperlunak kekakuan dan mencairkan kebekuan pemikiran keagamaan dan ketegangan hubungan sosial-keagamaan dari masing-masing kelompok penganut agama belum di anggap terlalu penting untuk diarak melalui dunia pendidikan&lt;br /&gt;Dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam -sejak era kolonial kemerdekaan dan bahkan era reformasi ini- masih banyak menyisakan persoalan yang tidak pernah diselesaikan. Sistem pendidikan lebih banyak dibangun di atas dekrit kebijakan yang mereproduksi ideologi penguasa kaum borjuis. Bahkan lahir dari rahim kesadaran pembangunan masyarakat baru secara revolusioner dan "visioner".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Problematika Epistemologis-Metodologis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Selama ini berkembang wacana transmisi pendidikan Islam yang bersifat indoktrinatif yang mengedepankan isi dan muatan materi dan pada proses dan metodologi. Transmisi keilmuan pendidikan Islam mengesankan apa adanya melalui jalan formalitas sehingga anak didik menjadi kaku dan tertutup terhadap perubahan dan perkembangan zaman. Iebih-Iebih mengakui adanya pluralisme agama. Anak didik hanya dikenyangkan dengan pelbagai materi tanpa dipedulikan energi potensial aktual dan ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari ekslusivitas keberagamaan&lt;br /&gt;Wacana kafir-iman, muslim-nonmuslim. baik dan buruk. surga-neraka. seringkali menjadi bahan pelajaran khusus di kelas yang selalu diindoktrinasi dan di paksakan. Inilah salah satu problematis pendidikan Islam ditingkat materi dan metodologinya. Kritisisme sistematik dan paradigmatik keilmuan dalam pendidikan Islam kurang mendapatkan perhatian serius dari para Intelektual Muslim, tokoh pendidikan Islam dan guru ngaji, sehingga sangat berpengaruh terhadap cara pandanag Islam terhadap agama lain.&lt;br /&gt;Dalam sejarah pemikiran Islam, sedikitnya ada tiga konstruksi epistemologis teori pengetahuan. Pertama,  pengetahuan rasional sebagaimana dicerminkan oleh Filosof muslim, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Bajjah dan Ibnu Rusyd. Kedua, pengatahuan inderawi (yang terbatas pada sifikasi sumber perolehan ilmu pengetahuan) sebagaimana dipraktekkan dalam empirisme barat Keliga, pengetahuan kasyf yang diperoleh melalui kekuatan intuitif. Di dunia Islam, konstruksi terutama dan ketigalah yang Iebih banyak dilakukan, sementara yang kedua kurang nendapatkan perhatian yang layak sekalipun Al-Qur"an sendiri lebih banyak menekankan perolehan pengetahuan melalui inderaui.&lt;br /&gt;Cara berfikir dan mentalitas dikotomis di atas berimplikasi kepada cara pandang seseorang dalam realitas kehidupan. Seseorang yang menekankan kepada formalitas agama berpandangan bahwa terubahan hanya akan ’menggorogoti’ identitas agama yang sudah diyakini atau kalau bukan ’memurtadkan’ manusia beragama. Sementara orang yang mencoba nengadaptasi setiap perubahan akan merasa ’congkak’ dengan scsuatu yang serba modern dan canggih. faedahnya adalah bagaimana mengawinkan cara berfikir mentalitas ini dalam kerangka integrasi dengan tidak mempertentangkan secara metodologis shifting paradigm masing-masing.&lt;br /&gt;Leonard Swidler, dalam bukunya, Death Or Dialogue, mengatakan. bagi mereka yang masih menggunakan paradigma eksklusif yang lebih cendrung untuk mengisolasi diri dan enggan hidup berdampingan dengan umat agama lain, tidak akan mendapatkan tempat dalam arena kehidupan keagamaan masa kini.&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, pendidikan Islam sebagai media penyadaran umat dihadapkan pada problem bagaimana mengembangkan teologi inklusif dan pluralis, sehingga di dalam masyarakat Islam akan tumbuh pemahaman yang inklusif dan harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat multikulturalisme. Tertanamnya kesadaran multikulturalis dan pluralitas masyarakat, akan menghasilkan corak paradigma beragama yang hanief dan toleran. Ini semua harus dikerjakan pada level bagaimana membawa pendidikan Islam ke dalam paradigma yang toleran dan inklusif.&lt;br /&gt;Fazlur Rahman (1984) menyatakan pentingnya pendidikan kreatif dan kritis sebagai konsekvvensi basis etik ajaran Islam dalam Al-Qur’an. Maka disarankan adanya pemikiran dan mentalitas yang positif dan kreatif Adanya kebenaran tunggal ini menjadi akar tumbuhnva sistem dan orentasi keagamaan yang indoktrinatif bukan education. Karena itu, pendidikan Islam lebih merupakan indoktrinasi tunggal yang tak mungkin dibantah, akhirnya ruang kelas laksana "penjara" yang pengap tanpa peluang masuknya udara pemikiran kritis dan inovatif&lt;br /&gt;Memimjam istiliah Paulo Freire, diformulasikan dalam fisafat pendidikan, sudah saatnya pendidikan Islam diarahkan pada area pembebasan dari belenggu-belenggu doktrin-paksaan-agama yang eksklusif dan intoleran menuju formulasi pendidikan Islam yang inklusif dan pluralis. Karena sejak awal cita-citanyar pendidikan harus menjadi proses "pemerdekaan” bukan penjinakau sosial budaya (&lt;em&gt;social and cultural domescation&lt;/em&gt;) yang diarahkan pada paradigma serba esklusif.&lt;br /&gt;Karena itu, merekonstruksi paradigma dan metodologi pendidikan Islam yang eksklusif adalah tuntutan sejarah yang harus dilakukan secara integral, sistematis, liberatif dan radikal. Sehingga dapat diarahkan dan menumbuhkan sikap dan pola keberagaman yang inklusif dan pluralis untuk menghargai dan menghormati agama lain tanpa konflik. Wallahu a 'lam bis-shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;em&gt;Penulis adalah Pemimpin Umum Bulettin Surau KKPS Nurul Jadid Paiton Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dimuat di Bulettin Surau KKPS Nurul Jadid Kerja Sama Dengan Yayasan TIFA Jakarta, Edisi 1 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3883326639636153096?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3883326639636153096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3883326639636153096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3883326639636153096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3883326639636153096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/04/membangun-pendidikan-islam-pluralis.html' title='Membangun Pendidikan Islam Pluralis'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2272729811634311801</id><published>2009-04-04T06:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-04T06:43:25.192-07:00</updated><title type='text'>Agama dan Mashlaha Al-Basyariyah</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pembacaan Terhadap Ajaran Agama-Agama&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Masyhudi Umar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus mengenai agama sangat sarat dengan muatan emosi, kecenderungan dan subyektifitas individu. Agama mempunyai ajaran yang sangat ideal dan cita-cita yang sangat tinggi. Bagi pemeluk fanatiknya, ia merupakan "benda" yang suci, sakral, angker dan keramat. Ia selalu menawarkan ” jampi-jampi”  keselamatan, kebahagiaan dan keadilan. Namun, kenyataan berkata lain. Agama tak jarang justru melahirkan permusuhan dan pertengakaran. Fenomena ini dilatarbelakangai oleh; &lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; pendewaan terhadap agama. Umat beragama sering terjerumus untuk mendewakan agama, istilah-istilah agama pada pemuka agama. Tuhan beserta sifatnya yang menyelimutinya berulangkali hilang dari ingatan. Prinsip-prinsip agama lain ajaran sucinya juga mengalami nasib yang sama. Mereka nyaris habis tinggal jargon-jargon yang tidak mempunyai nyali. Di sini agama bukan lagi sebagai amalan, namun ia berubah fungsi menjadi semisal markas jaringan "mafia" sehingga tidaklah heran kemudian muncul "manipulasi agama" dan "korupsi agama" seperti yang .dikemukakan oleh Maulidin dari eISAD Surabaya dengan mengutip Fritjof Capra, bisa menyebabkan sistem nilai tidak mati, namun kehilangan daya hidup untuk memotifasi dan mengontrol sistem nilai yang ada atau sistem kognitif dan normatif agama berakhir dan tinggal peranannya sebagai ornamen atau hiasan lahiriyah yang tidak fungsional terhadap cara pikir dan tingkah laku.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pengkelasan dalam berakhlak. Umat beragama sering terjebak untuk lebih dekat kepada saudara "seagama" (&lt;em&gt;in group fe&amp;shy;eling&lt;/em&gt;), dan menomor duakan persahabatan dengan rekan dari aga&amp;shy;ma lain. Hal ini membuahkan sikap kurang obyektif dalam memandang apa yang ada diluar diri sendiri. Misalnya sebagaimana yang dikemukakan Dr. Muslim Abdurrahman dalam Islam Transformatif, kendati keadilan sosial merupakan sendi utama agama, namun jika ketidakadilan tidak menimpa "kita" atau "saudara kita", rnaka "ki&amp;shy;ta" kurang menaruh perhatian.&lt;br /&gt;Dalam artikelnya, Ulil Absar Abdallah, menyegarkan kembali pemahaman islam (KOMPAS, 18/11/ 2002), umat tertentu hendaknya tidak memandang dirinya sebagai "masyarakat" atau "umat" yang terpisah dari golongan lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, searah sesuai dengan fitrah manusia. Musuh semua agama adalah ketidakadilan. Menurut Ulil, misi agama yang paling dianggap penting sekarang ini adalah dimuka bumi, terutama dibidang politik dan ekonomi (tentu juga dibidang budaya) bukan simbol-simbol yang melahirkan kebencian dan pertengakaran.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, monopoli kebenaran, Banyak agama -atau bahkan seluruh agama- yang mengajarkan kebenaran absolut bagi pemeluknya. Merupakan suatu kewajaran dan memang sepantasnya dan memberikan doktrin-doktrin keabsolutan kebenaran agama. Nam&amp;shy;un kewajaran itu akan berubah menjadi ketidak wajaran bila tanpa diiringi dengan anjuran penelitian dan pencarian argumen logis atas doktrin-doktrin yang disampaikan dan anjuran mengahargai doktrin orang lain. Lebih-lebih (elit agama) memberikan doktrin tersebut dibarengi dengan penularan anggapan bahwa doktrin-dok-trinvalah yang benar, sementara yang lain salah total, dan akan semakin tragis bila fenomena ini di iringi dengan pelecehan agama lain.&lt;br /&gt;Hati kecil saya sekedar bertanya, jangan-jangan sesuatu yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran justru merupakan kesalahan, apakah tidak mungkin ritual-ritual yang selama ini kita jalani bukan mendekatkan kita pada sang pencipta, tapi malah menghantarkan kita ke neraka. Kita mestinya bertanya tentang doktrin-doktrin yang kita terima dan jalankan. Pendeknya harus diwaspadai dan dihindari dogmatisme kebenaran yang sangat berbahaya itu. Kita enggan mempertanyakan segala sesuatu yang telah diyakini sebagai kebena&amp;shy;ran, maka kita akan mudah terjebak pada rajutan kebenaran. "kebenaran banya ilusi" kata Nietzsche. Kebenaran hanyalah konstruksi manusia yang fana (rusak), yang setiap saat mesti siap untuk disalahkan.&lt;br /&gt;Ke&amp;shy;benaran yang maha besar adalah manusia tentang adanya kebenaran yang menaungi segala kebenaran. Inilah yang disebut dengan &lt;em&gt;The Ultimate Reality&lt;/em&gt; (realitas puncak) atau &lt;em&gt;The Highest Councioustiess &lt;/em&gt;(Kesadaran tertinggi), Dalam Islam, 'seharusnya' dan orang yang sepakat dengan 'kebenaran' adalah Tuhan yang Maha Besar yang sempurna semata hanya Robbul 'Alamin. Sementara seluruh manusia serta apa yang diproduksi oleh manusia adalah relatif. :&lt;br /&gt;Pola Hubungan agama-agama berpijak pada pluralisme agama yang harus diterima secara positif, obyektif, umat beragama dituntut untuk saling mengenal dan tolong-menolong. Hal itu mengandung arti bahwa hidup rukun dan bekerja sama satu dengan yang lain dalam menciptakan kehidupan bersama yang adil, damai, sejahtera merupakan tindak lanjut dari sikap pemahaman keberagamaan agama. "Teologi keselamalan" itu akan terbayangi bila umat beragama dapat keluar dari jebakan struktur, baik struktur; sosial-historis agama, struktur organisasi-agama, ataupun hirarki agama.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat secara universal, umat beragama perlu membebaskan diri dari "keterkungkungan" ideologis mengingat bukan suatu umat agama tertentu saja yang menjadi entitas perjuangan. Corak paradigma sosial agama yang berwujud dinamika pembebasan harus diwujudkan dalam obyektif kemanusiaan secara universal. Suatu paradigma Rahmatan Lil 'Alamin yang menjadi cita-cita suci agama harus ditransformasikan dari bentuk idealnya pada bentuk-bentuk real kehidupan seluruh manusia (Mashlahah al-Basyariyah)&lt;br /&gt;Dengan melepaskan jebakan tersebut, umat beragama akan dapat mewujudkan komunikasi sosial yang terbuka. Pembahasan itu mengandung makna bahwa perjuangan pemeluk agama-agama hanya dianggap sah bila semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dalam kondisi merdeka seperti itu, kritik bisa tertuju kepada agama sendiri dengan terbuka rnenerirna kritik dari pemeluk agama lain. Jadi, kemajemukan tidaklah bisa dijadikan alasan untuk saling mencela dan menumpahkan darah. Justru sebaliknya, kondisi sosial budaya dengan pola kemajemukan selalu memerlukan adanya titik temu dalam menilai kesamaan diri semua kelompok yang ada demi mewujudkan cita-cita kesejakteraan bersama (umat beragama).&lt;br /&gt;Tentang pluralisme agama, kitab suci AI-Qur'an, menyebutkan landasan normatif bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (Qs.2:-256). Karena kemajemukan itu kehendak Allah. Tuhan menciptakan manusia beranekaragam agar mereka saling mengenal, memahami dan bekerjasama (Qs. 13: 49).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agama: Cerminan Kebijakan Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah landasan kerukunan dan kerja sama agama-agama ditemukan, sekarang kita beralih untuk mengungkapkan nilai-nilai sejati semua agama yang menjadi medan kerjasama agama-agama. Nilai-nilai sejati setiap agama adalah paradigma pembebasan. Individu dan masyarakat serta tanggung jawab sosial yang berdasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. Mengingat agama seka-ang ini lebih sering menuntut kepatuhan mengurusi masalah individu dalam hubungannya secara pribadi dengan Tuhan (&lt;em&gt;Hablum  minallah&lt;/em&gt;) dan kurang mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang adil. Maka nilai-nilai sejati agama yang berwujud perumusan paradigma sosial berdasarkan nilai-nilai agama menjadi agenda kegiatan paling vital dan urgen.&lt;br /&gt;Agama tanpa tanggung jawab sosial sama saja dengan pemujaan (&lt;em&gt;Clut&lt;/em&gt;) belaka. Manusia tidak perlu beragama jika tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Meminjam bahasa Achmad Najib Burhani dalam karyanya, Islam Dinamis -2001, bahwa agama bukanlah pelarian semu dan dalil mencari ketentraman spiritual semata. Ibadah-ibadah ritual dalam agama, cara introspeksi diri. Apakah diri ini memancarkan kepedulian manusiawi dalam kehidupan luas yang multi dimensi atau tidak, apakah pola keberagamaan kita telah membuahkan tanggung jawab sosial atau belum? Kebenaran sesungguhnya bisa dikatakan terwujud bila tanggung jawab sosial agama terintregasi dalam problematika sosial yang nyata dan kesalehan individu tidak steril lagi.&lt;br /&gt;Agama memang memiliki sejumlah nilai, norma, dan aturan yang melekat dalam jiwa masyarakat. Namun berbagai nilai agama itu masih bersifal global atau masih berupa bahan baku. Karena itu, agar ia memiliki makna dan membumi pada jiwa umat manusia, setiap zaman, perlu adanya upaya proses pembumian berdasarkan kebutuhan makro dan mikro. Proses reaktualisasi dan transformasi berbagai nilai positif yang melekat pada agama dalam konteks kontemporer inilah yang akan membantu bagi tumbuhnya etos baru kerja agama-agama yang orisinil dibutuhkan pada zaman baru. Sejauh mana proses ini dilakukan dan berhasil, adalah sejauh pula agama menempatkan fungsinya bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Titik Fungsional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;"Sekarang bagaimana format gerak dan peran agama-agama untuk mewujudkan kcsejahteraan universal dan Mashlahah al-Basyariyah dapat ditilik pada dua fungsi strategisnya, yaitu: per-tama, bukti ketaqwaan kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, seseorang dinilai baik bila baik pada sesama manusia. Sebaliknya Tuhan akan menilai buruk jika ia buruk dalam pandangan manusia (Masya&amp;shy;rakat). Teosentrisme atau wacana tentang Tuhan hanya akan bermanfaat bila sekaligus menjunjung tinggi harkat dan martabat ma&amp;shy;nusia. Harmoni pada tingkat esoteris hanya akan menjadi perbincangan verbal saja bila tidak ada keterlibatan dalam pemecahan masalah-masalah kemanusiaan yang bersifat global.&lt;br /&gt;Meng-iya-kan Tuhan, tidak berarti menyangkal manusia dan sebaliknya. Meski respon iman dialamatkan kepada Tuhan, tapi komitmen dan respon itu diperintahkan dan diaktualisasikan dalam hubungan makhluk. Bahwa ber-Tuhan justru berada di pihak segenap manusia. Setelah menjawab sapaan Tuhan, manusia harus ketahapan praktis melayani manusia sebagai hamba Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, wujud solidaritas kemanusiaan. Semua umat manusia adalah anggota keluarga Tuhan. Secara fitrah -pandangan manusia ketika lahir dan belum terbentuk oleh lingkunganya- tidak ada perbedaan manusia dengan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat mereka laksana organ-organ tubuh yang satu. Semuanya kan terundung lara bila salah satu organ nestapa, Berulang-ulang Rasulullah bersabda, bahwa "iman seseorang tidak dianggap sempurna bila tetangganya tidak pernah merasa aman dari ganguanya" (HR Bukhori Muslim). Pada kesempatan lain beliau bersabda, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainya.&lt;br /&gt;Karena itu, agama hanya kredibel bila dapat menolak segala sikap yang bernafaskan kebencian, balas dendam, pembunuhan dan pemaksaan. Semua agama harus mengembangkan dan mengaktualisasikan sikap kebaikan hati, belas kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan suku, budaya, ras, gender dan agama. Dengan demikian, maka akan terwujud agama-agama yang meyelamatkan terhadap manusia (&lt;em&gt;Mashlahah al-Basyariyyah&lt;/em&gt;) sebagai cita-cita hidup di dunia dan akhirat. &lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dimuat di Majalah ALFIKR IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo, No. 10. Th X / Agustus-Oktober 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2272729811634311801?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2272729811634311801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2272729811634311801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2272729811634311801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2272729811634311801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/04/agama-dan-mashlaha-al-basyariyah.html' title='Agama dan Mashlaha Al-Basyariyah'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-6572510087685637443</id><published>2009-02-04T05:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T05:32:39.543-08:00</updated><title type='text'>KH. Zaini Mun’im</title><content type='html'>Ulama Organik yang Bersahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah memberikan nama Abd. Mughni tapi setelah menunaikan ibadah haji dirubah menjadi Zaini. Ia lahir pada tahun 1906 di desa Galis Pamekasan Madura dari pasangan KH. Abd. Mun’im dan Nyai Hamidah. Dari garis ayah, Zaini merupakan keturunan dari raja-raja Sumenep yang menjulur kebelakang hingga Sunan Kudus. Sementara dari garis Ibu, ia adalah keturunan dari raja-raja Pamekasan. Ia adalah seorang bangsawan yang bertitelkan Raden yang sangat di segani di Madura. Demikian pula, dari sudut ekonomi, keluarga Kiai Abd. Mun’im termasuk dalam deretan orang yang berkecukupan, bahkan sangat kaya, jika di bandingkan dengan keluarga lainnya dikalangan masyarakat Pamekasan.&lt;br /&gt;Pada usia 11 tahun Zaini masuk sekolah volk school (sekolah rakyat) hingga tamat tahun 1921. pada usianya yang ke 15 tahun, ia kemudian berangkat ke Bangkalan untuk nyantri di pesantren Kademangan yang di asuh oleh Kiai Khalil. Di Bangkalan inilah Zaini mampu menghafalkan 10 juz al-Qur’an dan kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik.&lt;br /&gt;Menginjak usia 24 tahun, Zaini berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekkah ini, ia kemudian melanjutkan studinya di pesantren Banyuanyar Pamekasan Madura yang di asuh oleh Kiai Abdul Hamid. Setelah itu ia melanjutkan studi lagi ke pesantren Sidogiri. Ia hanya satu tahun dan kemudian kembali ke kampung halaman karena ayahnya meninggal dunia. Dirasa ilmunya kurang seberapa, Zaini mondok lagi ke pasantren Tebuireng Jombang yang berguru langsung kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.&lt;br /&gt;Tahun 1928, ia bersama orang tua dan kakeknya menuju Mekkah. Di samping menunaikan ibadah haji, juga melanjutkan studi di Mekkah yang tinggal di sifirlain. Pada tahun 1934, a pulang ke Indonesia untuk melanjutkan kepemimpinan di pesantren yang telah ditinggal ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan Kolonial Belanda&lt;br /&gt;Dengan seperangkat ilmu yang diperoleh, baik pengetahuan agama, maupun pengetahuan umum yang dilengakapi dengan wawasan politik serta budi pekerti yang lihur, KH. Zaini mun’im tidak tinggal diam berpangku tangan melihat keganasan penjajah Belanda. Ia terlibat langsung dalam kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak kembali dari Mekkah, kiai Zaini segera bergabung dalam organisasi nahdlatul ulama (NU) untuk melawan kolonial Belanda.&lt;br /&gt;Di masa pendudukan Jepang, di samping aktif memberikan penyuluhan kepada para petani, khususnya petani tembakau, kiai Zaini juga terlibat sebagai anggota bahkan pimpinan barisan pembela Tanah Air. Tahun 1943, ketika kekejaman tentara jepang telah memuncah dengan menginjak-injak warga Madura yang berujung  pada penderitaan masyarakat, maka dengan dimotori oleh sejumlah kiai, maka pecahlah peperangan. Beberapa kiai -termasuk kiai Zaini- ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.&lt;br /&gt;Setelah bubarnya pertahanan rakyat di Madura, karena terdesak oleh musuh yang sangat kuat, maka kiai Zaini terpaksa meninggalkan kampung halaman menuju daerah Asembagus Situbondo. Setelah sampai di sana, kiai Zaini kemudian menetap di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo yang di asuh oleh Kiai Syamsul Arifin. Pesantren tersebut menjadi pilihan, karena pesantren ini telah ditetapkan Belanda sebagai daerah suci (Heillinge Zone), daerah terlarang bagi tentara Belanda untuk memasukinya.&lt;br /&gt;Kiai Zaini tinggal dipesantren Sukorejo hingga pertengahan tahun 1948 dan setelah itu ia pindak ke Probolinggo. Awalnya kiai Zaini tinggal sebentar di Kraksaan untuk kemudian pindah ke Desa Karanganyar Paiton yang sekarang menjadi komplek Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tidak lama ia menetap, Belanda mengetahui bahwa orang yang di anggap berbahaya dan sudah di cari-cari ada di sana. Maka ditangkaplah ia dan di penjara di LP Probolinggo. Ia masuk penjara tanggal 9 Desember 1948 sampai tanggal 18 Maret 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merintis Pesantren Nurul Jadid&lt;br /&gt;Pada awalnya, kedatangan KH. Zaini Mun’im pada tahun 1948 di Probolinggo sesungguhnya tidak bermaksud mendirikan sebuah pesantren, melainkan untuk mengisolir diri dari keserakahan dan kekejaman kolonial Belanda. Oleh karenanya, ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain hingga akhirnya memutuskan diri untuk mencari tempat tinggal yang permanen.&lt;br /&gt;Untuk memutuskan, dia berkonsultasi pada Kiai Syamsul Arifin (ayahanda kiai As’ad) yang akhirnya menyarankan agar dia tinggal di Desa Karanganyar -Tanjung orang menyebutnya- Paiton. Kemudian bersama dua orang santri Syafi’uddin dan Syaifuddin, yang di anggapnya sebagai amanah dari Allah yang tidak boleh di abaikan.&lt;br /&gt;Mulai saat itu, ia menetap bersama santrinya. Namun tidak lama kemudian ia ditangkap kembali oleh Belanda, karena semenjak di Madura Kiai Zaini memang menjadi incaran. Setelah tiga bulan di penjara dan dikembalikan lagi ke Karanganyar untuk mengasuh santri-santrinya yang sedang menunggu kehadirannya.&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang sudah mulai kondusif, pada tahun 1950 Kiai Zaini di kejutkan oleh surat panggilan  oleh Menteri Agama (waktu itu Kiai Wahid Hasyim). Kiai Zaini diminta menjadi penasehat dan pimpinan rombongan  jama’ah haji Indonesia ke Mekkah. Sekaligus niatan untuk menyebarkan agama Islam sampai kepolosok tanah air tercapai dengan semboyan, ”hidup saya akan diwakafkan untuk penyiaran dan meninggikan agama Allah SWT.”&lt;br /&gt;Ketika Kiai Zaini menjalankan tugas di Mekkah, datanglah dua orang santri yang bermaksud untuk belajar  pada kiai Zaini yaitu kiai Muntaha dari pesantren Bata-Bata Madura dan kiai Sufyan dari Pesantren Zainul Hasan Genggong. Kedua kiai inilah yang melanjutkan pembangunan pesantren yang dirintis oleh kiai Zaini. Di samping memberikan pengajian kepada santrin-santrinya, juga melakukan kontak komunikasi dengan masyarakat sekitar pesantren, sehingga pesantren mulai dikenal oleh masyarakat di sekitarnya. Jumlah santri yang menetap di pesantren berjumlah sekitar 30 orang dibawah asuhan kiai Sufyan dan kiai Munthaha. Dengan kharisma yanmg dimiliki, kiai Sufyan dengan mudah dapat membangun beberapa asrama yang terbuat dari bambu (cangkruk) untuk tempat tinggal santri.&lt;br /&gt;Sepulangnya kiai Zaini dari tanah suci dan terlihat beberapa gubuk sudah mulai berdiri, maka tergeraklah ia untuk menyerahkan pondok ini kepada kiai Sufyan. Sementara kiai Zaini berkeinginan  untuk mendirikan pondok ditempat yang lain, akan tetapi tawaran ini di tolak oleh kiai Sufyan.&lt;br /&gt;Upaya perubahan yang dilakukan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya terhadap masyarakat Karanganyar tersebut, kemudian dibalas dengan sikap simpati masyarakat berupa dukungan terhadap perkembangan pesantren Nurul Jadid. Di antaranya adalah dukungan masyarakat Karanganyar terhadap berdirinya Lembaga Pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).Pesantren yang diasuh KH Zaini Mun’im ini nampaknya mendapat pengakuan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah santri yang berdatangan dari segala penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri (Singapura dan Malaysia). Hingga saat ini pesantren Nurul Jadid telah melahirkan ribuan alumni.&lt;br /&gt;Kiai Zaini di samping alim juga kiai intelaktual, organik  yang mampu mengolah pikiran-pikirannya yang brilian dengan dibuktikan menulis beberapa kitab yang di antaranya adalah, bidang ushul fiqh (&lt;em&gt;Taysir Ushul Fi Al Ilmal Ushul&lt;/em&gt;), fiqh (&lt;em&gt;Nahdam Safinah Al-Najah&lt;/em&gt;), aqidah (&lt;em&gt;Syu’ab Al Iman&lt;/em&gt;) dan tafsir (&lt;em&gt;Tafsir Al-Qur’an Bi Al Imlak&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Seluruh kitab yang ditulis dengan gaya bahasa yang memikat tersebut hingga sekarang tetap menjadi koleksi perpustakaan pesantren Nurul Jadid. Kitab-kitab itu terus menjadi bacaan pupoler, bahkan “menu wajib” para santri NJ (Nurul Jadid) -orang menyebutnya-. Belakangan isi kitab tersebut telah menjadi modal para alumni pesantren NJ yang tersebar di Nusantara bahkan luar Negeri dalam berdakwah ditengah masyarakat multikultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Zaini di samping menjadi pengasuh pesantren, ia juga aktif di NU dengan menjadi Rais Syuri’ah NU cabang Kraksaan, terhitung mulai tahun 1953 hingga 1975, sebuah pengabdian yang cukup panjang. Pada tahun 1960, kiai Zaini terpilih sebagai Wakil Rais Syri’ah PWNU Jawa Timur mendampingi kiai Mahrus Ali sebagai Ra’isnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ala Kulli Hal&lt;/em&gt;, memang sejarah tampaknya telah berpihak kepadanya. Ia berhasil menyeberang zaman, ia melihat ke “depan bersama sejarah”, sehingga ia tak terkutuk. Kiai Zaini tidak ikut menyaksikan muktamar Situbondo, ia adalah pemilih ide agar NU kembali ke Khittah. Namun suaranya tenggelam oleh hiruk pikuk NU berpartai. Ketika ide itu diimplementasikan, dia telah mendahului berpulang ke rahmatullah. Ia wafat pada tanggal 29 Juli 1976 M/ 29 Rajab 1396 H. dalam usia 70 tahun.&lt;br /&gt;Kiai Zaini adalah tokoh yang sangat di segani dan di hormati. Secara intelektual, kiai Zaini tidak diragukan lagi. Ia termasuk rentetan para kiai yang cukup produktif dari pesantren yang melahirkan karya-karya intelektual, betapa dunia tulis menulis di pesantren tidaklah mati, melainkan terus dinamis. Kiai Zaini menjadi eksis dan tumpuan untuk bertanya dan sumur tempat menimban wejangan dan nasehat-nasehat bijak. Ia, walaupun berada dalam derajat tinggi, kiai Zaini tetap dengan kebersahajaan dan ke-zuhudan-nya.&lt;br /&gt;Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di majalah Risalah NU, No 11 / Th 11 / 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-6572510087685637443?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/6572510087685637443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=6572510087685637443' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6572510087685637443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6572510087685637443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/02/kh-zaini-munim.html' title='KH. Zaini Mun’im'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2761737404183999505</id><published>2009-02-04T05:29:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T05:30:29.761-08:00</updated><title type='text'>Heboh, Kakek-Kakek Incar Gadis Bau Kencur</title><content type='html'>Syeh Puji alias Pujiono mungkin masih wajar, menikahi Ulfa di usia puber kedua. Tapi Ki Masyhurat dan Haji Naning, mereka adalah kakek-kakek uzur yang mengincar gadis-gadis bau kencur. Ki Urat, ia biasa dipanggil, lelaki uzur asal Sumenep-Madura ini, mungkin lebih heboh. Dengan mengoleksi istri 10 orang, ia menikahi istri-istrinya di usia antara 9-12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Naning, kakek 65 tahun, asal Dusun Pattontongan, Kecamatan Mandai, Sulawesi Selatan, menikahi Nurlia gadis berusia 11 tahun. Bahkan, Naning mengincar Nurlia sejak masih usia Balita  (bayi usia di bawah lima tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeh Puji, Ki Urat dan Naning semuanya seperti berkedok orang-orang yang membantu dhuafa. Gadis-gadis muda belia tersebut direlakan orang tuanya untuk dinikahkan dengan kakek-kakek, karena mereka terbelit kemiskinan.&lt;br /&gt;Dari 10 istri Ki Urat, lima di antaranya dipersunting ketika masih di bawah umur. Sebagian besar, orang tua gadis-gadis cilik itu menyatakan ikhlas dan rela putrinya dinikahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Bukan hanya orang tuanya yang menerima dan ikhlas, namun gadis-gadis kecil itu senang hati menerima pinangan Abah,’’ ujar Mujiburrahman orang kepercayaan Ki Urat.&lt;br /&gt; Jibur menjelaskan, mereka yang dinikahi Ki Urat  yang tergolong usia dini ( usia di bawah 16 tahun), adalah Ernawati (ketika kelas VI SD), Hindun (dikawini tatkala kelas 1 SMP), Maskiyah ketika masih 15 tahun, Sahama dinikahi saat kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) dalam usia 10 tahun. Yang terbilang nyaris cukup umur adalah Linda Yusniah, yang  dinikahi saat belum genap 17 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Ki Urat menyontoh pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah. Dibolehkan mengawini perempuan yang sudah haid karena sudah dianggap aqil baligh. Bahkan belum haid sekalipun dapat dinikahkan asal tidak digauli dulu sebelum haid,’’ ujar Jibur mengutip pendapat  ulama madzhab fiqih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya apakah setelah perkawinan itu para istri di bawah umur tersebut langsung digauli Ki Urat, Jibur mengaku tidak mengetahui secara pasti. Cuma dia melihat, istri-istri sang kiai yang dikawini dalam usia dini tersebut tidak langsung punya anak sampai bertahun-tahun. Kini para istri Ki Urat yang dinikahi, berusia rata-rata 25 tahun.&lt;br /&gt;‘’Ki Urat kan tahu hukum beristri yang masih di bawah umur. Tidak mungkin beliau mengeksploitasi anak-anak,” kata Jibur.&lt;br /&gt;Komentar Jibur dibenarkan Hj. Maskiyah, istri kelima Ki Urat. Menurutnya,  perkawinan di bawah umur tidak perlu diperdebatkan. Yang penting orangtua dan anak yang akan dinikahkan setuju dan sudah dinyatakan aqil baligh atau setidaknya sudah mengalami haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting, sang suami bertanggungjawab menafkahi istrinya baik secara lahir maupun batin,’’ ujar Maskiyah yang saat dikawin KH Masyhurat berumur 15 tahun.Dari 10 istri Ki Urat, hanya satu yang sudah tua saat dinikahi. Yakni Hj. Zubaidah, yang dikawin sewaktu dia telah berumur 45 tahun. “Jadi tak benar, Ki Urat kawin hanya karena nafsu, melainkan untuk ibadah dan dakwah,’’ tegasnya Maskiyah.&lt;br /&gt;Ki Urat sendiri mengatakan bahwa perkawinannya urusan pribadi dan hak asasi. Bagi dirinya, poligami demi mengikuti sunnah Rasul.  Sepanjang memiliki kemampuan secara ekonomi, serta bisa berbuat adil dan baik terhadap istri, ya boleh-boleh saja poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menegaskan, dirinya melakukan pernikahan dengan motif ibadah, bahkan demi syi’ar Islam dan bukan karena dorongan nafsu birahi. “Intinya untuk syi’ar Islam. Kan salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam dengan cara memperbanyak keturunan,” tegas kakek  yang kini memiliki 24 orang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Haji Naning, kakek berusia 65 tahun yang memperistri Nurliah, gadis berusia 12 tahun yang tinggal di Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, punya alasan lain. Katanya, ia menikah  gadis bau kencur itu, karena ingin membantu orang tuanya, Sattu Tanyang dan Hani  yang kesulitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, keinginan Haji Naning tak mendapat restu pemerintah setempat. Kepala Dusun Tokka, Dg Selle, menolak keras keinginan kakek tua itu, sebelum melamar ke keluarga gadis itu dan mendapat restu dari istri pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Naning berhasil meluluhkan orang tua Lia dan Kepala Desa setempat. Pasangan itu dinikahkan Imam Masjid Al-Ikhlas, Yamin pada 27 Desember  tahun lalu. Sementara mahar yang diberikan  berupa cincin emas satu gram, beras 150 liter dan uang tunai Rp5 juta. Naning becerita selain mahar, biaya nikah ini mengeluarkan uang sebesar Rp 650 ribu. “Saya menikah dengannya tidak ada motif apapun, bahkan saya belum apa-apakan dia,” ujar Naning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak lama setelah perhelatan pernikahan, masyarakat heboh begitu tersiar kabar bahwa sang kakek telah menikahi gadis bau kencur. Kepala Kepolisiaan Sektor Kota Mongcongloe Maros, AKP M. Jafar Sain turun langsung memeriksa pasangan itu untuk dimintai keterangan terkait dengan perkawinan tersebut. Naning mengaku tidak tahu bahwa perkawinan di bawah umur itu melanggar aturan. Walaupun akhirnya, Naning bersedia menceraikan istri keduanya tanpa syarat. “Kalau disuruh bercerai saya setuju, saya juga tidak akan menuntut uang dan barang pemberian saya dikembalikan,”katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Direktur Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Mappinawang, mengatakan motivasi perkawinan tidak lazim ini didorong faktor ekonomi. Islam memang tidak memberikan batas usia dalam perkawinan. Akan tetapi, negara kita adalah negara hukum yang melarang pernikahan di bawah umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Urusan Agama (KUA), mesti bekerja ekstra bersosialiasasi bawah pernikahan di bawah umur, entah dengan dalih sunnah nabi dan ekonomi dan sebagainya adalah tindak pencabulan dan eksploitasi terhadap perempuan. Dengan kata lain, eksploitasi, kekerasan dan pencabulan terhadap perempuan masih “berkeliaran” di depan mata perempuan itu sendiri.&lt;br /&gt; Mashudi Umar  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di majalah Risalah NU, No 11 / Th 11 / 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2761737404183999505?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2761737404183999505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2761737404183999505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2761737404183999505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2761737404183999505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/02/heboh-kakek-kakek-incar-gadis-bau.html' title='Heboh, Kakek-Kakek Incar Gadis Bau Kencur'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-1663543760432152179</id><published>2009-02-04T05:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T05:28:53.536-08:00</updated><title type='text'>Pesantren As-Shiddiqiyah</title><content type='html'>Mempertahankan Tradisi Di Jantung Kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren di jantung kota akan memiliki cobaan yang kuat. Namun, dari sini akan tumbuh semangat dan jiwa yang kokoh mempertahankan tradisi dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai watak sendiri, pesantren memiliki tradisi keilmuannya yang berbeda dari tradisi keilmuan lembaga-lembaga lain. Pesantren pada dasarnya adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, walaupun ia mempunyai fungsi tambahan  yang tidak kalah pentingnya dengan fungsi pendidikan tersebut. Ia merupakan sarana informasi, saran komunikasi timbal balik secara kultural dengan masyarakat dan juga merupakan tempat pemupukan  solidaritas dan moralitas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren dalam wujudnya yang sekarang memiliki sistem pengajaran yang dikenal dengan nama pengajian kitab kuning. Selain itu, dia juga mampu menyerap sejumlah inovasi secara berangsur-angsur selama beberapa abad. Pesantren di Indonesia juga mengalami penyesuaian diri dengan perkembangan zaman dan teknologi. Untuk menyerap informasi sesuai kehendak masyarakat, pesantren selalu dituntut untuk responsif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan pesantren As-Shiddiqiyah, pesantren yang telah menyiapkan beberapa lembaga-lembaga pendidikan umum sesuai dengan kehendak zaman dengan tetap mengacu kepada kaidah fikih: &lt;em&gt;al-mukhafadhatu ‘alal qadimi al-shalih wa al-akhdu bil-jadidl ashlah&lt;/em&gt;, melestarikan nilai-nilai baik yang lampau dan mengakomodasi nilai-nilai moderen yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren setelah diperkenalkan K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke dunia internasional, terdapat respon  pihak pesantren yang kemudian membuka diri, serta menyesaikannya dengan kehendak zaman. Bahkan Gus Dur dengan beraninya menganggap pesantren sebagai sub kultur pendidikan Indonesia yang ikut serta membentuk karakter masyarakat yang positif. Sehingga pesantren-pesantren NU berlomba-lomba membuka jalur umum (sekolah umum) dan juga menyediakan sebuah lembaga seperti lembaga bahasa Inggris, bahasa Arab, bahkan kemudian tak ketinggalan bahasa Mandarin. “Jadi santri As-Shiddiqiyah harus mampu berbahasa internasional (Inggris dan Arab) sebagai bahasa dakwah untuk komunikasi dengan dunia,” kata pendiri dan pengasuh pesantren, Dr. K.H. Noor Muhammad Iskadar, kepada Risalah NU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kiai Noor yang juga dikenal sebagai penceramah kondang dari Sabang sampai Meraoke ini, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah didirikan pada bulan Rabiul Awal tahun 1406 H atau 1 Juli 1985 M. Tujuannya, ikut serta mencerdaskan dan memerdekakan anak bangsa yang dibangun dengan moralitas. Sebagaimana pesantren pada umunya  lembaga pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, As-Shiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syi’ar Islam yang berada di jantung kota metropolitan. Pesantren ini terletak di Jalan Panjang, Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat yang membuat respon masyarakat terhadap pesantren semakin kecil, maka pesantren dituntut harus mampu membuka diri, merespon problema ke umat untuk melahirkan out-put yang benar-benar berguna bagi bangsa dan negara, maka pesantren As-Shiddiqiyah telah membuka delapan sekolah umum dan kampus yang tersebar di beberapa daerah  untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bertempat di Kedoya Jakarta, Cimalaya Kerawang, Batuceper Tangerang, Serpong Tangerang, Cijeruk Bogor, Musi Banyuasin Palembang Sumsel, Way Kanan, Lampung, dan Sukabumi Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memantapkan nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat plural dengan mengacu kepada kaidah fikih tadi, pesantren memadukan klasik dan moderen. Maka pesantren As-Shiddiqiyah mengakomodasi kepentingan pesantren sebagai basis utama santri dengan berbentuk kurikulum dari pesantren dan pendidikan formal. Pesantren As-Shiddiqiyah memiliki tiga tujuan dasar yang sering dibahasakan sebagai trilogi pendidikannya: pertama, membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia karena diharapkan santri As-Shiddiqiyah  mampu menjadi pewaris para nabi yang di sesuaikan dengan hadis nabi yang berbunyi; “Ulama adalah pewaris para nabi.” (&lt;em&gt;al-ulamau warastatul al-anbiya’&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, membangun kemampuan santri dalam berkomunikasi melalui bahasa Arab dalam rangka penguasaan  bahasa literatur agama Islam, sehingga para santri mampu mendalami ajaran Islam dari sumbernya yang asli, serta bahasa Inggris sebagai bahasa dakwah dan komunikasi. Karena, santri As-Shiddiqiyah diharapkan mempunyai kemampuan berdakwah di dunia internasional, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memeprdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya,” (QS. At-Taubah 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membangun kemampuan santri dalam menguasai ilmu pengetahuan umum dan agama sekaligus, agar mereka mampu menjadikan khalifah di muka bumi, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran, “Dan dialah menjadikan kamu khalifah di bumi dan dia meninggalkan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat,” (QS. Al-An’am 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formal &amp;amp; Non-Formal&lt;br /&gt;Pesantren pada umumnya membangun pendidikan formal yang dimulai dari madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. Pesantren As-Shiddiqiyah berbeda dengan pesantren lain dalam membangun pendidikan formal yang langsung membangun Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan program otomotif, SMK program adminitrasi perkantoran dan akuntansi (As-Shiddiqiyah batuceper), SMK program bisnis &amp;amp; manajemen (Karawang) dan Ma’had ‘Aly Sa’idussiddiqiyah, pendalaman dan penguasaan bahasa internasional (Inggris dan Arab), ulumus syari’ah dan Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan ke depan cita-cita pesantren ini adalah mampu melahirkan santri cerdas, bijak yang mampu mengatasi problem global. “Sehingga santri tidak lagi kaku dan panik melihat kenyataan sosial yang serba unik dan moderen,” ungkap kiai iskandar dengan penuh semangat kepada Risalah NU.&lt;br /&gt;Pesantren As-Shiddiqiyah juga menyediakan pendidikan non formal seperti training bahasa Inggris, kursus dan training bahasa Arab, jam’iyatul tahfidz al-qur’an, kursus dan training manajemen dan metodologi pengajaran, pengajian kutubus salafiyah, training retorika dan praktek dakwah, lembaga bahstul masail, serta lembaga yang membantu mengembangkan bakat dan minat santri untuk lebih percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pesantren tidak bisa dilepaskan dari masyarakat sekitar, maka pesantren As-Shiddiqiyah mengupayakan dan menyediakan sebuah lembaga yang bermanfaat yang diperuntukkan masyarakat seperti, Drugs Information Centre of As-Shiddiqiyah (DICA), badan amil zakat, infaq dan shadaqah (BAZIS), pusat penanggulangan bencana alam, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), forum komunikasi umat beragama (FKUB) DKI Jakarta, Balai Kesehatan Masyarakat, dan santri siaga bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbekal pendidikan yang berbasis agama dan umum, As-Shiddiqiyah yang kini memiliki jumlah santri sekitar 7.000 orang itu sangat optimis akan out-put santri yang keluar atau jadi alumni dari pesantren ini bisa memberi manfaat bagi nusa, bangsa dan negara yang ditopang dengan moralitas sesuai dengan visinya, “membentuk dan menyiapkan ulama ahlussunnah wal jamaah berwawasan global dan mampu mentransformasikan ilmunya ke dalam bahasa masyarakat dengan perilaku akhlak mulia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto yang dibangun oleh pesantren As-Shiddiqiyah adalah berakhlakul karimah, berbahasa internasional dan menguasai iilmi pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan iman dan taqwa (IMTAQ). Sehingga mampu menerjemahkan dan mengkontekstualisasikan realitas sosial sesuai dengan kebutuhan zaman dengan misinya: “menyelenggarakan pendidikan berbasis agama, tekhnologi dan pengembangan ekonomi kerakyatan mulai dari TK hingga perguruan tinggi”. Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di majalah Risalah NU, No 11 / Th 11 / 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-1663543760432152179?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/1663543760432152179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=1663543760432152179' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1663543760432152179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1663543760432152179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/02/pesantren-as-shiddiqiyah.html' title='Pesantren As-Shiddiqiyah'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-7772907244844659416</id><published>2009-02-04T05:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T05:26:41.444-08:00</updated><title type='text'>“Nikah di Bawah Umur Itu Mensahkan Perbudakan”</title><content type='html'>Prof. Dr. Musdah Mulia (Dosen Pasca Sarjana UIN Syahid Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banyak kasus-kasus perkawinan dibawah umur yang justru kadang dilakukan oleh ummat Islam, bagaimana komentar anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Pertama. Secara teologis pandangan umat Islam tentang perkawinan di bawah umur itu sudah keliru, banyak umat Islam yang melakukan ini dengan alasan melihat perkawinan antara Rasulullah dengan Siti Aisyah sedangkan Aisyah yang dikatakan masih kanak-kanak, padahal tidak.  Kedua,  Nabi Muhammad menikahi Aisyah kemudian dikembalikan lagi kepada orang tuanya dikarenakan belum cukup umur dan belum siap untuk reproduksi.&lt;br /&gt;Sebetulnya, Rasulullah menikahi Siti Aisyah yang diperkirakan masih berumur 9 tahun. Akan tetapi jika melihat pandangan kelompok Syi`ah dalam pernyataan Muawiyah, bahwasannya  Aisyah RA hidup sampai masa Muawiyah. Aisyah wafat pada usia 74 tahun. Berarti kalau dihitung-hitung,  Aisyah menikah dengan Rasulullah sudah berusia 17 tahun, karena jarak antara masa Muawiyah dengan Nabi itu bisa puluhan tahun. Ini kenyataan yang riel dan logis karena Aisyah wafatnya kapan itu sudah kelihatan. Makanya dalam hal ini kalangan Muawiyah tidak membenarkan Aisyah dinikahi Rasulullah masih usia dini.&lt;br /&gt;Jadi ummat Islam sekarang itu memang harus waktunya mengubah pandangan teologis baru khususnya terhadap perkawinan anak-anak dengan melihat undang-undang dan hukum nasional serta internasional kita yang memutuskan bahwa pernikahan di bawah umur itu merupakan &lt;em&gt;criminality &lt;/em&gt;(kejahatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan Islam yang memperbolehkan perkawinan dibawah umur?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Nah, pandangan teologis seperti itu harus diubah. Itu kan di dalam kitab fikih yang tidak ada dalam Al-Quran. Sekarang ini bagaimana kita membaca kitab fikih dan meneladani Rasullullah dengan pandangan optik yang berbeda karena sekarangkan sudah  berkembang dan sudah mempunyai kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi. Makanya  harus berbeda dengan zaman dulu.  Ada 106 (seratus enam) ayat berbicara tentang acara perkawinan dalam Al-Quran yang semuanya mengatakan bagaimana sebuah rumah tangga itu bisa hidup tentram dan harmonis,  bagaimana kehidupan rumah tangga tanpa eksploitasi dan kekerasan. Sementara devinisi pernikahan dalam fikih itu adalah suatu media untuk menghalalkan hubungan sex, seperti kata Imam Syafi`i&lt;br /&gt;النكاح ليس من العبادة ولكن من الشهوات&lt;br /&gt;Jadi, apakah hidup yang diurusi hanya permasalahan sex (sahwat) saja.&lt;br /&gt; Dalam undang-undang perkawinan diberbagai negara Islam yang sudah maju seperti Jordania dan Syiria, itu tidak hanya membatasi usia minimum keluarganya dalam menikah yang masih berumur 19 dan 21 tahun, akan tetapi juga mereka membatasi kesenjangan usia antara laki-laki dan perempuan tidak boleh usianya lebih dari 20 tahun. Kalau kesenjangan itu melebihi usia 20 tahun itu harus mendapatkan izin dari pengadilan dulu. Karena adanya kesenjangan umur  menyebabkan terjadinya tindak kekerasan dan menimbulkan unsur-unsur eksploitasi. Di Indonesia hal semacam ini tidak begitu diurusi, makanya tindak kekerasan rumah tangga, eksploitasi, travicking di Indonesia itu lebih banyak. dan angka kematian ibu melahirkan di usia dini tercatat tonggi di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi, undang-undang perkawinan mengatakan usia menikah berumur 16-19 tahun?&lt;/em&gt;       &lt;br /&gt;Undang-undang yang mengatakan seperti itu jelas melanggar hak asasi manusia (HAM) karena masih membolehkan anak-anak yang masih dibawah umur untuk menikah, dan merupakan tindak kejahatan pula.  Akan tetapi undang-undang perkawinan yang ada di Indonesia mulai diubah tetapi belum dilaksanakan secara maksimal.&lt;br /&gt;Kalau undang-undang perkawinan di Indonesia sudah diubah secara utuh dan sudah maksimal dilaksanakan pasti akan mambawa dampak kepada masyarakat yang lebih baik pula. Di antaranya:&lt;br /&gt;Pertama, perubahan budaya, bagaimana membangun suatu budaya bahwa perkawinan itu bukan hanya melegalkan seksual akan tetapi perkawinan itu mencakup banyak hal dari aspek medis, aspek sosial, dan teologisnya yang dibangun dalam satu keluarga.  Kedua, mengurangi angka kematian terhadap ibu melahirkan yang masih usia dini dari perkawinan dibawah umur. Ketiga, menyadarkan kesadaran masyarakat bahwa perkawinan di bawah umur itu tidak dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Komentar anda tentang Syekh Puji?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dia adalah orang yang sakit,  secara psikologis teologis dan secara psikis. Saya bukan saja tidak setuju, tetapi mengecam habis tindakan seperti itu. (Sambil menggenggamkan tangannya dan mimik mulut jengkel). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi Syeh Puji enjoy-enjoy aja dan dia merasa kemaslahatan yang dijalankan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Namanya orang sakit apa pun yang dijalankan tetap enjoy aja. Kalau kemaslahatan yang dijalankan, ya kemaslahatan seksualnya. Sebab, yang namanya kemaslahatan itu bukan untuk dirinya sendiri akan tetapi untuk kemaslahatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukankah dengan menikahi Ulfah, kehidupan Ilfah dan keluarganya jadi lebih baik?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau bantu bisa dengan memberi modal tidak perlu dengan mengawini anaknya. (Suaranya lantang). Kenapa sih orang kok berfikir dengan dalih membantu. Andaikan cinta kepada anaknya itu kan bisa dengan cara disekolahkan, diangkat menjadi manajer suruh ngurusi perusahaannya, bukan harus menjadi istri. Itu kan namanya egois. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ibu setuju  poligami?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Saya tidak setuju dengan yang namanya poligami, apalagi poliandri. Sebab, menurut saya perkawinan adalah keberpasangan. Makanya harus satu dengan satu (sekufu), Tuhan tidak menciptakan seribu Hawa untuk satu Adam, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana seharusnya tindakan pemerintah terhadap perkawinan dibawah umur?&lt;/em&gt;   &lt;br /&gt;Ya kita semua harus memberikan kontribusi terhadap hal ini dan negara juga harus tegas memberikan peninjauan undang-undang perkawinan agar  tidak lagi membuka peluang terhadap pelanggaran kejahatan kemanusiaan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa pesan Ibu terhadap keluarga Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Keluarga yang baik adalah keluarga yang memperhatikan semua anggota keluarganya, lebih-lebih kepada anak perempuannya tentang kesehatan reproduks. Anak itu mempunyai masa depan yang baik. Anak mempunyai hak masa depan dan lainnya. Menikahkan anak yang masih di bawah umur itu sama dengan perbudakan dan kejahatan kemanusiaan yang harus diberantas.   &lt;br /&gt; Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di majalah Risalah NU, No 11 / Th 11 / 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-7772907244844659416?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/7772907244844659416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=7772907244844659416' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/7772907244844659416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/7772907244844659416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/02/nikah-di-bawah-umur-itu-mensahkan.html' title='“Nikah di Bawah Umur Itu Mensahkan Perbudakan”'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2334737168657227437</id><published>2009-01-20T07:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:53:10.194-08:00</updated><title type='text'>Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXzAYZjihI/AAAAAAAAAEE/K4EOnDIevWY/s1600-h/Cover+Buku+Kiai.BMP"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293404124919073298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 139px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXzAYZjihI/AAAAAAAAAEE/K4EOnDIevWY/s200/Cover+Buku+Kiai.BMP" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Judul Buku: Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat&lt;br /&gt;Editor: Syamsul A. Hasan&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pesantren-LKIS, BP2M PP Salafiyah Syafiiyah&lt;br /&gt;Cetakan: Ketiga, 2008Tebal: xxxi + 214 halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan ulama-ulama besar di Indonesia, nama Kiai As’ad tentu bukanlah nama yang asing. Ia merupakan mediator berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan salah seorang inspirator penerimaan asas Pancasila di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, yang ia pimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, sebelum NU berdiri, pada 1924, Kiai Kholil Bangkalan mengutus Kiai As’ad muda sebagai santrinya pergi ke Tebuireng, Jombang, untuk menyampaikan lambang/tanda kepada KH Hasyim Asy’ari. Pertama, Kiai As’ad diutus untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha Ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya ke Kiai Hasyim. Setahun kemudian, Kiai Kholil mengirim Kiai As’ad kepada Kiai Hasyim Asy’ari dengan mengucapkan: &lt;em&gt;Ya Jabbar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Ya Qahhar&lt;/em&gt;. Kedua peristiwa ini diyakini sebagai persetujuan Kiai Kholil atas berdirinya NU dan pemilihan KH Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin spritual masyarakat pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, dalam konteks ke-NU-an, Kiai As’ad merupakan satu-satunya orang yang ditunjuk oleh Muktamar ke-27 NU untuk menyusun &lt;em&gt;ahl al-halli wa al-aqdi&lt;/em&gt; yang mempunyai otoritas penuh untuk selanjutnya membentuk struktur Pengurus Besar NU setelah NU kembali ke Khittah 1926, di mana Abdurrahman Wahid menjabat Ketua Umum PBNU pertama kalinya bersanding dengan KH Achmad Siddiq sebagai Rais Am PBNU. Ia juga bersama ulama sepuh, seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, dan KH Achmad Siddiq—dikenal sebagai andalan untuk melerai kemelut yang melilit tubuh NU. Memang, Kiai As’ad tidak pernah menduduki posisi strategis dalam struktural NU, ia hanya menduduki Mustasyar PBNU waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan warga NU—waktu itu--, ketika mulai ramai perbincangan mengenai konflik MI-NU dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membaranya api membicarakan soal rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi sosial politik maupun kemasyarakatan, tiba-tiba di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan ulama NU untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas). Ini terjadi pada 18-21 Desember 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, di saat semua ormas Islam banyak menolak asas Pancasila, Munas tersebut justru menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan dengan akidah Islam. Munas juga memutuskan mengembalikan NU ke garis dan landasan perjuangan asalnya, yang kemudian populer dengan sebutan kembali ke Khittah 1926. Semua peran itu tidak lepas dari ide brilian Kiai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU yang kala itu tercabik-cabik oleh banyak kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Pancasila tidak bertentangan sama sekali dengan Islam. Sila pertama adalah ajaran tauhid dan sila-sila berikutnya adalah implementasi dari ajaran Islam. Sementara, sejumlah tokoh Islam yang menolak mengutip argumen normatif atas penolakannya terhadap Pancasila, dengan tegas, Kiai As’ad mengatakan, bahwa secara substantif Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Al Quran dan Al Sunnah. Walaupun tidak eksplisit kata Al Quran dan Al Sunnah tidak tercantum dalam sila-sila Pancasila, namun ajaran-ajaran fundamental Islam telah terpatri di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan rumusan Khittah NU 1926 hasil Munas di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah pada 1983, pertama, mengembalikan aktivitas NU dari bidang politik ke bidang asalnya, yakni bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Terlalu lama NU berkecimpung di politik praktis (sejak 1955-1982), hingga garapan pokoknya terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menyerahkan sepenuhnya kepada warga NU dalam menyalurkan aspirasi politiknya, apakah ke Partai Golkar, PPP maupun Partai Demokrasi Indonesia–waktu itu—yang memang dipandang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.Ketiga, membenahi organisasi, setelah terperangkat dalam kemelut intern sesuai Munas Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta, pada 1981, yang melahirkan dua kubu yaitu Cipete dan Situbondo. Pembenahan bidang ini kemudian terbukti dengan terjadinya rekonsiliasi 10 September 1984 di kediaman KH Hasyim Latif, Sepanjang, Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah kembalinya NU ke Khittah 1926, di samping rumusan-rumusan di atas, juga mengangkat peran ulama dalam lembaga, seperti Mustasyar dan Syuriyah, sebagai lembaga tertinggi dalam kepemimpinan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sudah dalam cetakan edisi ketiga. Dengan kata lain, buku ini tetap menarik untuk dibaca, dijadikan referensi untuk membaca kembali perjuangan Kiai As’ad waktu penjajahan Kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak berbicara soal Kiai As’ad sebagai penyelenggara dan pertemuan alim ulama NU atau Munas di pesantrennya, juga tidak berbicara mengenai pembentukan awal berdirinya NU, di mana Kiai As’ad sebagai penyambung komunikasi antara Syaikhona Kiai Kholil Bangkalan dengan Syaikhona Kiai Hasyim Asy’ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyunting buku ini, Samsul A. Hasan, sebagai santri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang juga sangat produktif menulis di beberapa media melakukan penelitian yang mengurai tentang keberanian Kiai As’ad mengumpulkan para bajingan sebagai sisi lain kehidupan nyata Kiai As’ad di samping gambaran di atas, juga mengungkap tentang kepiawaiannya dalam mendekati para tokoh bajingan tengik, yang kemudian dikumpulkan dalam wadah pelopor. Sehingga masyarakat ada yang memanggil Kiai As’ad—waktu itu—sebagai “singa” berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi adalah Redaktur Eksekutif Majalah Alfikr terbitan Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;http://www.nu.or.id/&lt;/a&gt;. tanggal 19/01/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2334737168657227437?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2334737168657227437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2334737168657227437' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2334737168657227437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2334737168657227437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/01/menjelajahi-sisi-lain-keteladanan-kiai_20.html' title='Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXzAYZjihI/AAAAAAAAAEE/K4EOnDIevWY/s72-c/Cover+Buku+Kiai.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-8239576446868402447</id><published>2009-01-20T07:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:28:18.886-08:00</updated><title type='text'>Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum Pendidikan</title><content type='html'>Oleh Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era sekarang ini, mengembangkan sikap pluralisme pada peserta didik adalah mutlak segera “dilakukan” oleh seluruh pendidikan agama di Indonesia demi kedamaian sejati. Pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam  yang toleran melalui kurikulum pendidikanya dengan tujuan dan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kolompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga sikap-sikap pluralisme itu akan dapat ditumbuhkembangkan dalam diri generasi muda kita melalui dimensi-dimensi pendidikan agama dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan agama seperti fiqih, tafsir tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan muqaron. Ini menjadi sangat penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun  juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan program dialog antar agama yang perlu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam . Sebagai contoh, dialog tentang “puasa” yang bisa menghadirkan para bikhsu atau agamawan dari agama lain. Program ini menjadi sangat strategis, khususnya untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata puasa itu juga menjadi ajaran saudara-saudara kita yang beragama Budha. Dengan dialog seperti ini, peserta didik diharapkan akan mempunyai pemahaman khususnya dalam menilai keyakinan saudara-saudara kita yang berbeda agama. karena memang pada kenyataanya “Di Luar Islampun Ada Keselamatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga, untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekedar menyelenggarakan dialog antar agama, namun juga menyelenggarakan program road show lintas agama. Program road show lintas agama ini adalah program nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain. Hal ini dengan cara mengirimkan siswa-siswa untuk ikut kerja bhakti membersihkan gereja, wihara ataupun tempat suci lainnya. Kesadaran pluralitas bukan sekedar hanya memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa diantara kita sekalipun berbeda keyakinan, namun saudara dan saling membantu antarsesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti spiritual work camp (SWC), hal ini bisa dilakukan dengan cara mengirimkan siswa untuk ikut dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan ikut pada keluarga yang berbeda agama. Siswa harus melebur dalam keluarga tersebut. Ia juga harus melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dari keluarga tersebut. Jika keluarga tersebut petani, maka ia harus pula membantu keluarga tersebut bertani dan sebagainya. Ini adalah suatu program yang sangat strategis untuk meningkatkan kepekaan serta solidaritas sosial. Pelajaran penting lainnya, adalah siswa dapat belajar bagaimana memahami kehidupan yang beragam. Dengan demikian, siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelima, pada bulan Ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “program sahur on the road”, misalnya. Karena dengan program ini, dapat dirancang  sahur bersama antara siswa dengan anak-anak jalanan. Program ini juga memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial, terutama pada orang-orang di sekitarnya yang kurang mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa hal di atas, perlu kiranya mengajarkan materi  Aqidah Inklusif.Sebagaimana telah banyak diketahui umat Islam, aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepercayaan”, maksudnya ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang beragama. Dalam Islam, aqidah selalu berhubungan dengan iman. Aqidah adalah ajaran sentral dalam Islam dan menjadi inti risalah Islam melalui Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegaknya aktivitas ke-Islaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akidah. Masalahnya karena iman itu bersegi teoritis dan ideal yang hanya dapat diketahui dengan bukti lahiriah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, terkadang menimbulkan “problem” tersendiri ketika harus berhadapan dengan “keimanan” dari orang yang beragama lain. Apalagi persoalan iman ini, juga merupakan inti bagi semua agama, jadi bukan hanya milik Islam saja. Maka, tak heran jika kemudian muncul persoalan truth claim dan salvation claim diantara agama-agama, yang sering berakhir dengan konflik antaragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pendidikan Inklusif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi persoalan seperti itu, pendidikan agama Islam melalui ajaran aqidahnya,perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama. Pelajaran aqidah, bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghapal sejumlah materi yang berkaitan denganya, seperti iman kepada Allah SWT, Nabi Muhamad SAW, dll. Tetapi sekaligus, menekankan arti pentingya penghayatan keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau akhlak al-Karimah pada peserta didik. Memiliki akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Islam harus sadar, bahwa kerusuhan-kerusuhan bernuasan SARA seperti yang sering terjadi di Indonesia ini adalah akibat ekspresi keberagamaan yang salah dalam masyarakat kita, seperti ekspresi keberagamaan yang masih bersifat ekslusif dan monolitik serta fanatisme untuk memonopoli kebenaran secara keliru. Celakanya, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan hasil dari “pendidikan agama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan agama dipandang masih banyak memproduk manusia yang memandang golongan lain (tidak seakidah) sebagai  musuh. Maka di sinilah perlunya menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan ritual dan keyakinan tauhid, melainkan juga akhlak sosial  dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan agama, merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa bergaul dan bersosialisasi diri. Justru pendidikan agama dengan peserta didik berbeda agama, dapat dijadikan sarana untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus dapat mengenal tradisi agama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target kurikulum Agama  Islam harus berorientasi pada akhlak. Bahkan dalam pengajaran akidahnya, kalau perlu semua peserta didik disuruh merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuanya adalah bukan untuk “konfersi”, melainkan dalam rangka agar mereka mempertahankan iman. Sebab, akidah itu harus dipahami sendiri, bukan dengan cara taklid, taklid tidak dibenarkan dalam persoalan akidah. Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah. Dalam persoalan syariah, sering umat Islam juga berbeda pendapat dan bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu memberikan pelajaran “fiqih muqarran”untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui suasana pendidikan seperti itu, tentu saja akan terbangun suasana saling menenami dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti diantara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memungkinkan untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Islam harus memandang “iman”, yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama, bersifat dialogis artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Iman merupakan pengalaman kemanusiaan ketika berintim dengan-Nya (dengan begitu, bahwa yang menghayati dan menyakini iman itu adalah manusia, dan bukanya Tuhan), dan pada tingkat tertentu iman itu bisa didialogkan oleh manusia, antar sesama manusia dan dengan menggunakan bahasa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan untuk menumbuhkan saling menghormati kepada semua manusia yang memiliki iman berbeda atau mazhab berbeda dalam beragama, salah satunya bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembelajaranya, tentu saja memberikan perbandingan dengan akidah yang dimiliki oleh agama lain (perbandingan agama). Meminjam bahasanya Alex Roger (1982: 61-62), pendidikan akidah seperti itu mensyaratkan adanya fairly and sensitively dan bersikap terbuka (open minded). Tentu saja, pengajaran agama seperti itu, sekaligus menuntut untuk bersikap “objektif” sekaligus “subjektif”.  Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimana tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhirul Kalam&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Ala kulli hal&lt;/em&gt;, melalui pengajaran akidah inklusif seperti itu, tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena hal itu adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tradisi suatu agama, yang dicari adalah mendapatkan titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. Setiap agama mempunyai sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang dibanggakan penganut suatu agama, serta yang akan menjadikan mereka tetap bertahan, jika mereka mencari dasar rasional atas keimanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, agama juga mempunyai sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungan atau kesalahan-kesalahan yang biasa dinilai dari sudut pandang sebagai sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog dalam perbandingan agama harus selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas agama—baik yang agung atau yang memalukan—dengan realitas agama lain yang agung atau memalukan itu dengan demikian, akan dapat terhindar dari suatu penilai standar ganda dalam melihat agama lain. Wallahu A’lam Bi As-Shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah ALFIKR IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo &amp;amp; Dewan Redaksi Majalah Risalah NU Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber www. Pesantrenvirtual.com/index/islam kontemporer)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-8239576446868402447?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/8239576446868402447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=8239576446868402447' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/8239576446868402447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/8239576446868402447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2009/01/menampilkan-islam-toleran-melalui.html' title='Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum Pendidikan'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-4217858622755858138</id><published>2008-12-11T00:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:55:39.070-08:00</updated><title type='text'>Rindu kepada Cak Nur</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXl4Mj6thI/AAAAAAAAADc/JHMpSjrD8zI/s1600-h/Cover+Buku+Cak+Nur.BMP"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293389690651194898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXl4Mj6thI/AAAAAAAAADc/JHMpSjrD8zI/s200/Cover+Buku+Cak+Nur.BMP" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul : &lt;em&gt;All You Need Is Love&lt;/em&gt;, Cak Nur di mata anak muda&lt;br /&gt;Editor : Ihsan Ali Fauzi &amp;amp; Ade Armando&lt;br /&gt;Penerbit : Yayasan Paramadina&lt;br /&gt;Cetakan : Oktober 2008&lt;br /&gt;Tebal : 208 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah pemikiran tentang ke-islaman, demokrasi, dan keindonesiaan, figur alm Prof Dr Nurcholis Madjid (selanjutnya disebut Cak Nur) adalah fenomena yang sangat menarik. Sebagai seorang yang &lt;em&gt;well-versed&lt;/em&gt; dalam masalah-masalah ke-islaman, juga kaitannya dengan khazanah-khazanah klasik dan modern, Cak Nur telah melakukan jihad intelektual tanpa henti sampai pada akhir hayatnya. Semua itu dilakukan dengan penuh ketekunan, kritis, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Nur telah mewariskan, khususnya anak-anak muda Indonesia, sebuah ensiklopedia pemikiran yang sangat kaya dan diramu dari berbagai sumber unit peradaban umat manusia. Dari karya-karya yang telah dihasilkannya tidak berlebihan, kalau kita katakan bahwa Cak Nur berwawasan universal dengan Islam sebagai dermaga tempat bertolaknya. Gagasan dan cita-cita untuk menciptakan sebuah dunia yang adil dan ramah, tanpa diskriminasi dan eksploitasi, sebagaimana yang dirindukan oleh para Nabi dan para filsuf, juga masyarakat Indonesia. Ia melihat ada kesenjangan yang sangat jauh antara ajaran Islam sejati dengan realitas sosial yang melingkari umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Tempo, pernah menyebut Cak Nur sebagai "lokomotif" pemikiran Islam Indonesia atau ujung terdepan dari sebuah rangkaian "gerbong" pemikiran Islam yang lain di negeri ini. Jika dilihat dari dua periode penting dalam sejarah pemikiran Cak Nur, yaitu 1973, ide tentang sekularisasi dan 1992, ide Islam yang "hanif". Ia telah menggerakkan horizon pemikiran Islam ke batas cakrawala baru atau menembus batas tradisi tentang dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tentang sekularisasi misalnya, mempunyai dampak yang penting dalam pelbagai hal sekaligus. Secara politis, ide itu telah berdampak pada desakralisasi lembaga-lembaga Islam yang selama ini dianggap suci dan angker. Secara keagamaan, ide itu mendorong umat untuk membedakan secara tegas antara dua wilayah, yaitu "wilayah sakral" dan "wilayah profan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini, secara tidak langsung, berarti juga mempunyai makna bahwa dalam agama sendiri pun, harus dibedakan antara "pikiran manusi tentang agama" dan agama itu sendiri. Yang pertama adalah relatif dan kedua adalah absolut. Sementara, ide Cak Nur itu berkorespondensi dengan ide yang kemudian datang belakangan dan dikenalkan oleh pemikir Mesir, yaitu Nasr Hamid Abu Zaid, yang kemudian dipakai sebagai alat analisis oleh banyak pemikir-pemikir Islam muda saat ini, yaitu ide tentang, "&lt;em&gt;al-khithab al-dini&lt;/em&gt;" (wacana tentang agama) dengan "&lt;em&gt;al-dinn&lt;/em&gt;" (agama itu sendiri). Sebagaimana kita tahu, inilah peralatan intelektual yang secara efektif, dipakai oleh banyak kalangan intelektual Islam modern untuk mengkritik fundamentalisme Islam yang saat ini sedang marak di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Cak Nur itu menggerus kesadaran umat Islam yang tengah tertidur lelap, karena memang nyaris tidak ada lagi isu yang menggetarkan publik sejak kegagalan sidang Majelis Konstituante pada 1959, di mana majelis itu gagal menyepakati dasar negara Indonesia antara Islam atau Pancasila. Tak pelak, pemikiran Cak Nur berhadapan secara frontal dengan pemikiran para tokoh Masyumi yang merupakan representasi politik umat Islam ketika itu.&lt;br /&gt;Buku ini ditulis oleh 30 anak-anak muda Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan, minat dan profesi yang rindu terhadap pemikiran Cak Nur. Tulisan ini adalah pilihan dan yang terbaik di antara beberapa tulisan yang masuk dalam bentuk esai pendek yang ringan dan mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda yang progresif dan hendak melanjutkannya ini, seakan-akan menulis surat dan curhat kepada Cak Nur akan kegelisahan masa depan agama (Islam) yang inklusif, antidiskriminasi dan cinta damai, juga demokrasi, serta kebebasan berpikir. Kekerasan demi kekerasan atas nama menjalankan syariat agama (Islam) semakin meningkat di bumi Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, buku ini hendak merekam, bagaimana kiprah Cak Nur selama hayatnya beresonansi di kalangan anak-anak muda kontemporer, satu lapisan generasi yang bukan ukurannya untuk dijadikan tempat berteduh dan mengaktualisasi ide-ide brilian, ketika ia pertama kali menarik gerbong pembaharuannya. Dengan kata lain, bagaimana anak-anak muda melihat, merekam Cak Nur baik pikirannya, buku-bukunya, perilaku, dan kebersahajaanya? Sambil mengenang Cak Nur, kita terutama generasi muda Indonesia sedang belajar darinya dan cita-cita hendak melampauinya. Semoga "Cak Nur di sana" tetap mengikuti perkembangan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Mashudi Umar, Aktivis Pers dan Peserta Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan (PeKiK) Indonesia]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu 30-11-2008)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-4217858622755858138?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/4217858622755858138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=4217858622755858138' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4217858622755858138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4217858622755858138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/12/rindu-kepada-cak-nur.html' title='Rindu kepada Cak Nur'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXl4Mj6thI/AAAAAAAAADc/JHMpSjrD8zI/s72-c/Cover+Buku+Cak+Nur.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3787737195752555491</id><published>2008-11-25T05:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:58:15.566-08:00</updated><title type='text'>NU Progresif Menembus Batas Tradisi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXmef6Lb-I/AAAAAAAAADk/3UDs8G2Qq0A/s1600-h/Cover+Buku+Rumadi.BMP"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293390348679868386" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 136px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXmef6Lb-I/AAAAAAAAADk/3UDs8G2Qq0A/s200/Cover+Buku+Rumadi.BMP" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul Buku: Post Tradisionalisme Islam;&lt;br /&gt;Wacana Intelektualisme dalam Komunitas NU&lt;br /&gt;Penulis: Rumadi&lt;br /&gt;Pengantar: KH Abdurrahman Wahid&lt;br /&gt;Penerbit: Fahmina Institute&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, 2008 Tebal: xx + 382 halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi inspirasi bagi gerakan dan pemikiran ke-Islam-an yang berwawasan kebangsaan, respons terhadap perubahan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal Nusantara. NU selalu memosisikan diri sebagai ‘jangkar’ Nusantara, terutama yang digalang kader-kader mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mempunyai gagasan keagamaan progresif dalam merespons modernitas menggunakan basis pengetahuan tradisional yang dimiliki setelah dipersentuhkan dengan pengetahuan baru dari berbagai khazanah modern. Mereka tidak hanya peduli dengan modernitas yang terus dikritik dan disikapi secara hati-hati, tetapi juga melakukan revitalisasi tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan NU sendiri, dalam sejarahnya, tidak terlepas dari ikhtiar kaum mudanya dalam mengekspresikan dan menjawab tuntutan zaman. Terlebih dengan menitikberatkan pada upaya pembentukan kader NU yang ideal, yaitu, kader selain memiliki keterampilan dan memiliki ruang kesadaran kosmologi yang luas serta toleran, memiliki pola pikir yang jernih, rasional dan memiliki integritas moral yang kuat dan ditunjang ideologi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik relevansi dengan Khittah NU yang menjelaskan tentang landasan akidah NU yang bertolak pada Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Konsep Islam seperti inilah yang menurut warga NU sebagai faktor fundamental dalam membangun masyarakat NU yang berdiri di atas mabadi khaira ummah. Meski demikian, warna dan gelombang pemikiran yang saat ini menjadi &lt;em&gt;mainstrem&lt;/em&gt; di kalangan nahdliyin seakan memiliki dua wajah yang bertentangan, yaitu wajah konservatif yang direpresentasikan golongan tua dan wajah progresif yang digelorakan kelompok intelektual NU. Keduanya memperlihatkan pada garis dinamikanya masing-masing dan sama-sama memiliki pengikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keilmuan pesantren yang mejadi modal awalnya, para intelektual NU yang telah dibekali ilmu pengetahuan dan pendekatan modern, memiliki perspektif tersendiri terutama dalam merespon dan mengkontekstualisasi berbagai masalah sosial, baik politik, ekonomi, budaya dan tema-tema ke-Islam-an progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, munculnya gairah intelektual dalam NU mempunyai latar belakang cukup panjang dan dipengaruhi banyak perspektif, termasuk keputusan NU untuk meninggalkan hiruk pikuk kehidupan politik praktis dengan konsep kembali ke Khittah NU 1926. Terpilihnya KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Aam Syuriyah dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo, Jawa Timur, turut memperlancar laju pemikiran keagamaan kritis dan progresif di kalangan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkat komando yang dipegang Gus Dur sejak 1984, paling tidak membawa perubahan penting dalam sejarahnya. Pertama, reposisi politik dengan keputusan kembali ke Khittah 1926, dari politik formal dalam panggung pemerintah Orde Baru (Orba) ke politik informal tanpa panggung. Sehingga NU mempunyai posisi tawar yang kuat dengan pemerintah Orba, walau selalu dicurigai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memberi ruang dan pelindung bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran baru dalam NU, baik yang berkaitan dengan teologi, fikih, tasawuf, bahkan doktrin Aswaja dan memperkuat NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang bergelut dengan isu-isu sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, NU menjadikan kepercayaan teologis sebagai basis pengembangan masyarakat dengan mengusung isu-isu universal seperti, hak asasi manusia, demokrasi, masyarakat sipil, termasuk juga kesetaraan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivitas pemikiran kelompok muda NU, pada akhirnya membuahkan kritik dan pertentangan. Kalangan ulama tua memperkukuh barisan guna mengerem gerak maju langkah anak muda NU progresif. Puncaknya, pasca-Muktamar NU di Solo, Jawa Tengah, saat ulama tua yang dimotori kalangan Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, melarang kalangan muda NU yang dianggap liberal, masuk dalam struktur NU mulai dari pengurus ranting sampai pengurus besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, kedua kelompok yang selalu bersitegang itu sama-sama berangkat dari tradisi. Dengan kata lain, pemahaman terhadap tradisi digunakan sebagai titik pijak dan paradigma untuk melakukan perubahan. Jadi, tradisi sebagai basis gerakan untuk melakukan transformasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan kalangan muda NU, tradisi yang mereka lakukan tidak sekedar mengangung-agungkan dan men-sakralkannya, tetapi juga melakukan kritik mendalam atas tradisinya sendiri, baik yang berkaitan dengan perilaku maupun pemikiran. Bahkan, doktrin Aswaja juga tidak lepas dari sasaran nalar kritisnya. Pikiran dan sikap mereka secara umum jauh lebih responsip dibanding para seniornya dalam menghadapi masalah keumatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang keagamaan juga berpengaruh bagi generasi muda NU. LSM tidak saja menggiatkan kehidupan keagamaan, tetapi juga berperan aktif dalam membangun wacana progresif-kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak era 1970-an, generasi muda NU mulai aktif di LSM untuk melakukan pendampingan dan pengembangan pada masyarakat pedesaan. Aktivitas tersebut membuka kesempatan bagi kalangan muda NU untuk berperan dalam diskursus intelektual secara terbuka dan bersentuhan langsung dengan realitas sosial. Misal, Lakpesdam NU, P3M, LKIS, Syarikat, Puspek Avveroes Malang, Lapar Makasar, Incres Bandung, KKPS Probolinggo, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumadi, penulis buku ini dan seorang intelektual muda NU yang bekerja di The Wahid Institute, berupaya mengungkap “tabir”, jejaring, mulai dari akar sejarah kemunculan intelektualisme dalam komunitas NU yang dibungkus ‘Post Tradisionalisme’ terutama yang digalang kelompok muda NU yang intelektual-progresif, khususnya menjadi aktivis di LSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi adalah Redaktur Eksekutif Majalah ALFIKR terbitan Institut Agama Islam Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di &lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;http://www.nu.or.id/&lt;/a&gt;, Tanggal 17 November 2008)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3787737195752555491?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3787737195752555491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3787737195752555491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3787737195752555491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3787737195752555491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/11/nu-progresif-menembus-batas-tradisi.html' title='NU Progresif Menembus Batas Tradisi'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXmef6Lb-I/AAAAAAAAADk/3UDs8G2Qq0A/s72-c/Cover+Buku+Rumadi.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-946729703143451912</id><published>2008-11-03T16:56:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T17:03:13.174-08:00</updated><title type='text'>"Strategi Pengelolaan Zakat"</title><content type='html'>Oleh : Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, zakat dibagi ke dalam dua macam, yaitu zakat jiwa atau fithrah dan zakat harta benda atau mal. Zakat yang pertama merupakan perintah yang paling banyak ditunaikan orang (kemungkinan besar karena ringan dan sangat sederhana). Adapun zakat fithrah harus dibayar oleh setiap Muslim, baik kecil maupun dewasa, secara periodik pada setiap bulan Ramadhan mulai tanggal 27 Ramadhan hingga imam shalat Idul Fitri naik ke atas mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan zakat jiwa, pada zakat mal agaknya tidak semua orang memiliki kesadaran penuh untuk membayarkannya (kemungkinan karena berat dan perhitungannya memang tidak gampang). Zakat mal hanya diwajibkan bagi mereka yang sudah dewasa, tentunya juga berkemampuan. Sedang menyangkut waktu pembayaran zakat mal, Rasulullah mengkategorisasikannya kepada dua bagian. Pertama, zakat yang harus dibayar secara berkala, biasanya mengena kepada zakat niaga (termasuk jasa atau profesi), mata uang, dan ternak. Kedua, zakat yang harus dibayar pada saat harta yang terkena zakat itu tiba di tangan, bersifat insidental, lazimnya mengena pada hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil tambang, dan harta temuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dari sudut filosofisnya, di samping berfungsi sebagai penyucian jiwa dan harta benda, zakat juga berfungsi, terutama zakat mal, sebagai sarana pemberdayaan ekonomi rakyat dan pencapaian keadilan sosial. Di samping sebagai pilar ekonomi Islam dipandang berpotensi untuk menunjang bagi tercapainya kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi Sosial Zakat&lt;br /&gt;Di dalam al-Qur`an ada dua perintah yang disebutkan secara bersamaan dalam 82 ayat, yaitu shalat dan zakat. Dua perintah ini, dalam banyak ayat al-Qur`an telah menunjukkan diri sebagai sentra dari seluruh jalan ke-Islam-an itu sendiri. Dalam hadits, kedua perintah itu diletakkan sebagai rukun Islam segera setelah pengakuan terhadap eksistensi ke-Esaan Tuhan (syahadat), dan dalam urutan yang mendahului puasa dan haji. Dalam analisis Mas'udi (1991:29), perintah shalat dimaksudkan untuk meneguhkan ke-Islam-an (kepasrahan) pada Tuhan yang bersifat personal. Sementara perintah zakat dimaksudkan untuk mengaktualisasikan ke-Islam-an yang bersifat sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari paradigma ini, kita dapat mengembangkannya secara lebih jauh bahwa Islam ternyata benar-benar ingin memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan sosial yang di dalamnya zakat merupakan salah satu sarananya. Abd Karim al-Tawati dalam Mafhum al-Zakat (1986: 27) mengatakan bahwa zakat adalah suatu kerangka teoritis untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Dalam konsep zakat tampak sekali adanya pemihakan kelas sosial kepada golongan yang lemah dan terpinggir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara vokal al-Qur`an menyerukan agar kekayaan tidak boleh hanya berputar terbatas di kalangan kelas kaya saja (QS, [59]:7). Islam melarang orang-orang yang menumpuk-numpuk harta (QS, [104]: 1-4). Tegasnya, Islam mengecam monopoli dan oligopoli dalam sistem ekonomi. Islam menghendaki adanya distribusi yang adil menyangkut kekayaan.`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan visi sosial seperti inilah kehadiran zakat dapat dipahami. Zakat datang bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata, baik sedikitnya maupun banyaknya, melainkan untuk mencegah terjadinya ketimpangan, di mana sebahagian membubung ke atas dengan kekayaan yang dikuasainya, sementara sebagian yang lain justru tersungkur ke bawah dengan kemelaratan yang dideritanya. Bermula dari ketimpangan dalam hal ekonomi inilah, ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) kemudian mengikuti. Pada waktu kekayaan menembus batas teratas, sehingga menyebabkan kesenjangan kelas, saat itulah golongan yang memonopoli dan mengkonsentrasikan kekayaan itu menjadi musuh-musuh Islam (Kuntowijoyo, 1996:300). Al-Qur`an menyerukan agar kita menjadi pembela kelas yang tertindas dan golongan yang lemah. (QS, [4]: 75).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Pengelolaan Zakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda (materi). Seseorang yang telah memenuhi syarat-syaratnya dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau perlu harus dengan tekanan. Zakat dapat dituntut oleh kaum miskin, atau bahkan dapat dipaksakan pelaksanaannya oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran ini, Nabi mengatakan bahwa zakat merupakan kewajiban yang tak dapat ditawar, atas orang yang telah memiliki kemampuan tertentu. Garaudy (1981: 32) mengatakan bahwa zakat itu bukanlah suatu karitas, tetapi suatu bentuk keadilan internal yang terlembaga, sesuatu yang diwajibkan, sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu orang dapat menaklukkan egoisme dan kerakusan dirinya, yang pada gilirannya dapat terbentuk formasi sosial yang berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan argumen di atas, dalam pengelolaan zakat, kita tidak bisa hanya mengandalkan analisis normatif, melainkan juga harus berpijak pada landasan realitas empiris. Sehingga ada beberapa strategi pengelolaan zakat yang harus dilakukan, pertama, sudah saatnya kita melakukan sensus zakat yang dapat mendeteksi para pembayar zakat (muzakki) hingga ke pelosok pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lewat sensus ini pula kita dapat mengetahui mereka yang berhak menerima zakat (mustahiq al-zakat).Kedua, wilayah zakat perlu dibagi-bagi atas dasar perbedaan tingkat kemakmuran, untuk distandarkan berapa margin kewajiban zakat pada masing-masing daerah. Masing-masing daerah umumnya sudah memiliki data dasarnya, berupa Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), data mengenai penghasilan rata-rata daerah, tingkat ketimpangan pendapatan daerah dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ini harus dilakukan perhitungan, kemudian hasil perhitungan itu dijadikan acuan oleh panitia zakat, sehingga distribusi zakat menjadi tepat sasaran, tidak sekedar membagi-bagi tanpa memperhatikan fungsional dan tidaknya zakat buat pemberdayaan ekonomi rakyat pada level bawah. (Effendi, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perlu untuk membentuk lembaga zakat lintas SARA yang keberadaannya dikukuhkan oleh UU zakat. Secara lebih jauh, lembaga zakat yang memiliki kewenangan formal ini, bukan saja dapat menekan pihak yang enggan membayar zakat, melainkan juga dalam hal pentasarufan (pendayagunaan)-nya pun dapat difungsikan secara nyata sebagai upaya membangun tata kehidupan sosial yang lebih adil buat semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perlunya merelatifkan besaran tarif atau kadar zakat yang harus dikeluarkan. Apabila ada variabel tantangan keadilan dan kemaslahatan ditemukan lebih berat pada masyarakat tertentu, maka tidak ada halangan untuk menaikkan dan begitu juga sebaliknya untuk menurunkan--tarif yang telah ditentukan Nabi Muhammad, yakni antara 2,5 % dan 10 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, Madar F. Mas'udi, Emha Ainun Nadjib dan Jalaluddin Rakhmat pernah mengusulkan untuk menaikkan tarif zakat menjadi 20 % atas berbagai jenis pendapatan (rezki) yang diterima oleh kalangan profesional, seperti dokter, konsultan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Walhasil&lt;/em&gt;, kita perlu untuk meningkatkan fungsi zakat yang selama ini lebih sebagai aktivitas personal menjadi sebuah visi dan gerakan sosial yang menyentuh realitas sosio-struktural demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan. Di ujungnya, bagaimana agar hasil pungutan zakat itu dapat berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, yang lazimnya tidak terjangkau melalui alat kebijakan fiskal biasa serta berbagai kebijakan ekonomi yang konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih di waktu krisis multidimesi seperti sekarang, di mana angka kemiskinan-kefakiran, pengangguran akibat PHK, dan lain-lain semakin menaik tajam. Dan kasus tragedi Pasuruan 15 September yang menewaskan 21 orang tua, paling tidak menjadi analisa kita khususnya para muzakki untuk melakukan strategi penyaluran zakat yang lebih efektif, sehingga tahun-tahun yang akan datang tidak terulang kembali nyawa manusia melayang dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis Adalah Dewan Redaksi Majalah Risalah PBNU Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan Harian Umum Pelita, Jum’at 31-10-2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-946729703143451912?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/946729703143451912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=946729703143451912' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/946729703143451912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/946729703143451912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/11/strategi-pengelolaan-zakat.html' title='&quot;Strategi Pengelolaan Zakat&quot;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-802914678153580318</id><published>2008-11-03T16:52:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T16:55:22.579-08:00</updated><title type='text'>"Mengembalikan Pemuda Sebagai Agent  Of  Sosial Change"</title><content type='html'>Peringatan Sumpah Pemuda, setiap tahun, bukan sekadar romantisme sejarah, karena berarti menghidupi kembali semangat dan kesadaran akan kebersatuan sebagai bangsa yang merupakan himpunan suku bangsa dengan perbedaan kultur dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan kesadaran akan keberagaman, namun bersatu harus terus dihidupi sebagai syarat eksistensi bangsa Indonesia. Dan identitas keindonesiaan tidak pernah bisa dilepaskan dari ke- beragaman sebagai titik berangkatnya. Sumpah Pemuda merupakan titik tolak dari pembentukan identitas kebangsaan Indonesia yang memiliki kemandirian, kedaulatan, dan kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati perjalanan dan kiprah para pemuda akhir-akhir ini, agaknya tidaklah menyakitkan jika mengatakan, bahwa mereka sudah jauh dari tugas yang seharusnya berada di pundak mereka masing-masing yaitu yang diyakini sebagai agen perubahan (&lt;em&gt;agen of change&lt;/em&gt;) yang paling kondusif. Hal tersebut dapat kita saksikan dari semakin merosotnya perjuangan serta peranannya para pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal kita tahu, sepanjang perjalanan sejarah peradaban bangsa-bangsa di belahan dunia, peranan para pemuda dalam menciptakan tatanan sosial-ekonomi menuju ke arah yang humanistik menempati posisi yang sangat strategis.&lt;br /&gt;Para pemuda yang berkumpul di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 memiliki kesadaran bersama tentang masa depan. Mereka menyadari transformasi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern mulai terjadi di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa runtuhnya Perez Jimenes di Venezuela pada tahun 1958, perlawanan terhadap Diem di Vietnam pada tahun 1963, lengsernya Ayub Khan di negara Pakistan pada 1956, dan gerakan anti penindasan untuk rakyat Chekoslavia pada tahun 1968 merupakan sebagian kecil bukti yang riil dari rekaman sejarah yang membuktikan bahwa memang pada realitasnya peranan para pemuda sangat berpengaruh besar sebagai pembawa perubahan di suatu wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula di negara Indonesia ini. Perkembangan sejarah pembentukan bangsa Indonesia pun juga tidak terlepas dari peran serta perjuangan keras gerakan kaum muda. Para pemuda merupakan mobilisator utama sekaligus pembakar semangat perjuangan untuk melakukan perlawanan habis-habisan pada kolonialisme-imperialisme barat. Sebuah momentum bersejarah yang pada akhirnya membuahkan kemerdekaan bagi kita semua. Demikian juga runtuhnya Orde Lama, serta tumbangnya Orde Baru hingga bergulirnya reformasi juga merupakan bukti nyata, semuanya tak lepas campur tangan para pemuda. Betapa keberadaan pemuda bangsa ini menempati posisi yang sangat utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita saksikan dengan mata telanjang, sejak awal kebangkitan nasional pada tahun 1908 sampai pembentukan Orde Baru pada pertengahan tahun 1966 para pemuda memegang peranan yang sangat vital, perjuangannya mengambil tempat yang utama dalam perjalanan sejarah Indonesia. Dalam masa-masa yang sangat kritis mereka selalu sigap tanggap dalam mengambil keputusan dan prakarsa untuk mempelopori perjuangan tanpa menunggu perintah dari siapa pun, dan tanpa meminta pamrih sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ironisnya, sekarang ini para pemuda pada era pasca reformasi dengan perombakan-perombakan kepemimpinan dan perubahan paradigma yang terdapat dalam pemerintahan, ternyata juga menyusutkan semangat juang dan patriotisme pemuda. Generasi muda kali ini mengalami pergeseran serta kemerosotan yang cukup signifikan. Peristiwa tawuran antar mahasiswa baik di Jakarta maupun di beberapa daerah, menjadi bukti bahwa mereka tidak mampu mengendalikan emosi dan penuh denga kesombongan. Semestinya para mahasiswa (pemuda) sebagai generasi bangsa harus mampu menjadi pelopor keteladanan baik dalam perilaku, pendidikan dan semangat membangun bangsa. Dengan kata lain, generasi muda masa kini sama sekali tidak mampu mewarisi perjuangan pemuda pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era penjajah saat itu para pemuda dituntut untuk memegang senjata dan berperang mati-matian. Jika pada pada pemerintahan Orde Baru kita dihadapkan pada politik tidak etis yang hanya menyulam politik demi mempertahankan status quo, maka di saat yang bersamaan sebagai tanggung jawab pemuda adalah melawan militerisme. Maka pada saat ini yang menjadi agenda tepenting bagi para pemuda adalah menjadi teladan yang baik, menjadi agen of social change yang mampu merebut masa depan bangsa Indonesia yang bermartabat dan berwibawa. Juga mampu menanamkan sejak dini “penyakit” kita semua yaitu korupsi, jangan sampai menyentuh tangan pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kecerdasan, kepekaan sosial dan kemampuan membaca perubahan zaman itu yang diterjemahkan dengan besarnya optimisme anak-anak muda tentang masa depan bangsanya untuk menjadi jembatan emas menuju Indonesia yang adil dan makmur seperti harapan para &lt;em&gt;founding father’s&lt;/em&gt; yang telah mendahului kita.&lt;br /&gt;Mashudi Umar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-802914678153580318?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/802914678153580318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=802914678153580318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/802914678153580318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/802914678153580318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/11/mengembalikan-pemuda-sebagai-agent-of_03.html' title='&quot;Mengembalikan Pemuda Sebagai Agent  Of  Sosial Change&quot;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-6856550974595051991</id><published>2008-11-03T16:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T16:55:59.370-08:00</updated><title type='text'>"Pesantren Sabilul Hasanah"</title><content type='html'>Pesantren Sabilul Hasanah, Sumatera Selatan;&lt;br /&gt;Berpacu Menggerakkan Ekonomi Masyarakat Sekitar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pesantren pada umumnya di Pulau Jawa, pertumbuhan dan perkembangan pesantren menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat. Itulah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Sabilul Hasanah, yang berposisi di Jl. Raya Palembang, Jambi Km 25. Desa Perwosari, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus yang berlaku umum bagi pesantren, biasanya terdiri dari tiga komponen yang disebut trilogi pesantren yaitu, rumah pengasuh, masjid atau mushallah dan asrama untuk santri. Pesantren Sabilul Hasanah juga demikian. Didirikan oleh KH. Mohammad Mudarris, SM pada tahun 1987, bermula dari tuntutan masyarakat sekitar. Berawal dari adanya rumah pengasuh, terus ada mushallah kecil , lalu ada santri. Lambat laun semakin banyak santri yang datang, maka berdasarkan musyawarah dengan masyarakat sekitar, disitu diperlukan pesantren yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tuntutan masyarakat, akhirnya secara formal pada tanggal 17 April 1994, dimulai pembangunan pesantren dengan peletakan batu pertama pembangunan masjid, dan disusul pembangunan asrama dan lokasi belajar. Kini pesantren tersebut terus berkembang dan pembangunannya sudah menghabiskan lahan 5,5 Ha. Ini semua karena karunia Allah SWT. Bahasa pesantrennya, ini karena ada barokah sehingga pesantren bisa seperti sekarang ini. Kata KH. Muhamad Mudarris SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasik dan Moderen&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, Pesantren Sabilul Hasanah dengan berpedoman pada kaidah fiqih; &lt;em&gt;al-mukhafadatu ala al-qadimi al-shaleh, wa al-akhdu bil jadidi al-ashlah&lt;/em&gt;, pesantren memadukan klasik dan moderen. Bermula pada tahun 1995 membuka pendaftaran santriwan / wati untuk Madrasah Diniyah yang mengakaji kitab-kitab salaf. Program ini berkonsentrasi pada keilmuan agama Islam yang terdiri dari jenjang pendidikan; pertama, Madrasah I’dadiyah. Kedua, Madrasah Diniyah dan ketiga, Madrasah Pasca Diniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tuntutan jaman, maka pendidikan klasik diniyah saja dianggap tak memadai. Maka tak seberapa lama, pesantren membuka pendidikan formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA). Berkat kegigihan dan keistiqamahannya dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka Madrasah Aliyah Sabilul Hasanah mendapatkan kepercayaan dari Departemen Agama dan Diknas RI sebagai percontohan pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun ajaran 2004/2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pesantren-pesantren yang lain, pesantren Sabilul Hasanah mewajibkan santrinya bermukim (tinggal di pesantren). Selama di pesantren, para santri mengikuti kegiatan pendidikan yang bersifat informal, yaitu pengajian kitab kuning yang bertujuan membekali santri agar memiliki kemampuan untuk mengkaji khazanah-khazanah intelaktual klasik/salaf maupun kontemporer yang berbahasa arab, baik secara teoritis maupun praktis. Model pengkajian kitab kuning terdiri dari, pertama, bentuk &lt;em&gt;bandongan&lt;/em&gt; (ustadz mengaji santri menyimak dan memberi makna/arti dalam kitabnya). Kedua, &lt;em&gt;sorogan&lt;/em&gt; (murid membaca kitab, ustadz menyimak dan membenarkan kesalahan dalam membaca). Ketiga, musyawarah atau diskusi (bahsul masail dan tafahhumul kitab), dan keempat, Tutorial (pendalam kitab khususnya pada hal yang bersifat praktis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para santri juga digembleng dengan penguasaan bahasa asing lewat lembaga pengembangan bahasa (LPB). Lembaga ini didirikan pada tanggal 3 April 2002, yang bertujuan mendidik santri agar memiliki keterampilan berbahasa asing (Bahasa Arab, Inggris dan Mandarin). Kini LPB telah dilengkapi sarana pendukung yang berupa laboratorium bahasa dengan sistem mutakhir (Lab. Multimedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah kemapuan dan skill para santri, pesantren juga menambah dengan pendidikan ekstrakurikuler yang dilakukan dengan pola mingguan dan bulanan. Bentuk kegiatannya adalah pelatihan kader muballig dan muballighat -untuk mencetak penceramah ulung-, Pelatihan Komputer, Diklat Kepemimpinan dan Organisasi, Latihan Munaqib dan Barzanji, Latihan Seni Baca al-Qur’an dan Shalawat, Latihan Seni Kaligrafi, dan Latihan Kepramukaan dan P3K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggerak Ekonomi Masyarakat&lt;br /&gt;Agar tidak menjadi ‘menara gading’, pesantren tidak terasing dari masyarakat sekitar, maka pengasuh pesantren berinisiatif; menggerakkan manajemen perekonomian pesantren sebagai penunjang kehidupan masyarakat. Karena sebenarnya, pesantren tidak bisa dipisahkan dari ekonomi dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, ketika itu produktifitas masyarakat sekitar masih terbilang rendah, dengan kecendrungan masyarakatnya yang konsumtif. Di sisi lain, Propinsi Sumatera Selatan merupakan Propinsi yang kaya akan potensi alam yang dimilikinya. Oleh karena itu, pesantren memandang perlu langkah terobosan, mengupayakan perubahan dalam rangka membangun masyarakat yang produktif. Berdasarkan pemikiran ini, lalu pesantren membentuk wadah yang dapat mengembangkan produktifitas masyarakat didalam pemenuhan kebutuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga tersebut didirikan oleh pesantren pada tahun 1998 yang bernama “Lembaga Swadaya Perekonomian Pondok Pesantren Sabilul Hasanah (LSP3SH) as-Syarofah”. Lembaga ini berfungsi sebagai fasilitator kegiatan perekonomian pesantren dan masyarakat. Kini, lembaga tersebut telah memiliki beberapa usaha perekonomian diantaranya; Pertukangan Kayu (Meubelair), Pembuatan Paving Blok dan Batako, Pembuatan Provil dan Lisplang Bangunan, Pertukangan Las, Pembibitan Sawit dan Karet. Juga ada program Perikanan Air Tawar, Waserda (Warung Serba Ada) as-Syarofah, Wartel as-Syarofah dan air isi ulang Mas’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya lembaga perekonomian tersebut membantu masyarakat untuk mendapatkan peluang kerja. Pesantren dalam menggerakkan kegiatan usahanya melakukan rekrutmen tenaga pekerja dari masyarakat sekitar dan santri sendiri untuk ikut serta membantu menyejahterakan dan mengembangkan pesantren dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar program rutin pesantren sehari-hari berjalan secara efektif dan efesien, pengasuh pesantren membentuk lembaga / departemen. Lembaga ini juga menjadi tolak ukur dalam pengembangan pesantren. Lembaga ini mempunyai tugas sentral yang memiliki peran kontrol terhadap kinerja, fungsi dan perkembangan santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada program kerja departemen, pesantren menyerahkan sepenuhnya kepada organisasi tersebut untuk menyusun, merencanakan dan mengevaluasi. Namun kegiatan apapun yang dilaksanakan oleh lembaga tersebut harus berbentuk laporan kegiatan, baik perencanaan dan pelaksanaannya. Dengan kata lain, pesantren memberikan kewenangan terhadap kemajuan santrinya dalam mengembangkan skill dan pengalaman kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pesantren telah memiliki sembilan departemen yaitu, Departemen Pengembangan Organisasi, Departemen Perwaqafan, Departemen Kamtib (Keamanan dan Ketertiban), Departemen Pendidikan, Departemen Usaha dan Perekonomian, Departemen Rencana dan Pengembangan, Departemen Pengadaan (Logistik), Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Santri, Departemen Kepengasuhan (Dewan Pengasuh).&lt;br /&gt;“Inilah lembaga yang memonitoring perkembangan pesantren, perkembangan ekonomi dan hubungan dengan masyarakat,” jelas Kiai Mudarris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Kiai Mudarris, konsep tersebut sesuai dengan visi pesantren, yaitu, “Berperan aktif memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara Indonesia tercinta, berupa pemikiran dan kerja nyata sesuai dengan kemampuan yang ada, demi memajukan pembangunan manusia seutuhnya, yang berpedoman pada al-Qur’an, al-Hadist, Ijmak dan Qiyas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan, masih menurut Kiai Mudarris, Pesantren Sabilul Hasanah siap untuk menjadi Pilot Project Pengembangan Pondok Pesantren di Sumatera Selatan. &lt;em&gt;Wallahu A’lam Bi As-Shawab&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di majalah Risalah NU, No. 09 / Thn II / 1429&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-6856550974595051991?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/6856550974595051991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=6856550974595051991' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6856550974595051991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6856550974595051991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/11/pesantren-sabilul-hasanah.html' title='&quot;Pesantren Sabilul Hasanah&quot;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-322311355398552655</id><published>2008-10-26T04:48:00.000-07:00</published><updated>2009-01-20T07:01:20.530-08:00</updated><title type='text'>NU Berebutan Wacana</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXnMaUoCAI/AAAAAAAAADs/GLVged7nEms/s1600-h/Cover+Buku+NU.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293391137454163970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 132px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXnMaUoCAI/AAAAAAAAADs/GLVged7nEms/s200/Cover+Buku+NU.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh; Mashudi Umar, Pemerhati Sosial Keagamaan dan Alumni PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRESIVITAS pemikiran kalangan muda dan dinamika di kalangan ulama NU saat ini mungkin tak terduga oleh Kiai Ahmad Siddiq ketika merumuskan kembali ke Khittah 1926.Saat itu Kiai Achmad Siddiq hanya memimpikan para ulama mendidik santrinya, tidak hanya menjadi muqallid a’ma (pengikut buta) tetapi menjadi muqallid lebih baik.Harapan itu sekarang terlampaui,tidak hanya menjadi muqallid yang lebih baik, tetapi lebih jauh, yaitu mengeksplorasi pendekatan manhajy (metodologis) dalam meneropong berbagai persoalan kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan jumud dan antikemajuan yang selama ini melekat pada jam’iyyah nahdliyyah, dengan sendirinya terhapus oleh dinamika perkembangan NU selama lebih dari dua dekade belakangan. Perkembangan seperti ini tidak dihasilkan secara mudah. Perjuangan gigih Kiai Achmad Siddiq dan Gus Dur pada pertengahan dekade 1980-an dalam meletakkan NU, sebagaimana perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari pada 1926,memberi andil penting dalam mempersiapkan perubahanperubahan yang terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktrin ahlussunnah wal-jamaah yang menjadi nafas organisasi dengan sadar tidak pernah dikesampingkan, malah diperkukuh dengan memberi visi baru. Muatan baru itu bermula dari gagasan sederhana, bagaimana melakukan kontekstualisasi ajaran-ajaran Islam klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kemajuan yang muncul di kalangan muda NU memang semacam konsekuensi yang tidak bisa terhindarkan. Dekade 1980-an adalah awal dari ”panen raya”kalangan intelektual di lingkungan NU. Generasi baru yang berpendidikan ganda ini tidak sepenuhnya mampu diserap dalam lingkungan NU yang masih didominasi kalangan ulama tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian mencari jalan lain, dengan beraktivitas dalam gerakan mahasiswa, NGO, dan lainnya. Perkenalan dengan dunia luar pesantren itu ternyata cukup banyak mengubah struktur berpikir kalangan muda NU. Pergumulan kalangan muda NU dengan gagasan,agenda, dan jaringan di luar pesantren dan NU itu pada akhirnya melahirkan apa yang mereka sebut sebagai gerakan kultural; suatu gerakan yang berbasis pada pengembangan pemikiran dan pemberdayaan masyarakat akar rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka gerakan, agenda aksinya tersusun berdasarkan pemikiran yang lebih konsepsional dalam melakukan pemberdayaan terhadap berbagai masalah mutakhir. Dalam konteks inilah lahir gagasan Islam transformatif, Islam liberal, Islam emansipatoris hingga gagasan Islam postradisionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbangun pula lembaga-lembaga swadaya masyarakat macam The Wahid Institute,The Fahmina Institute,Rahima. Benturan itu terjadi karena sejak awal gerakan kultural merupakan perlawanan ”diam-diam” kalangan muda terhadap kecenderungan umum NU saat itu yang sangat tergoda dengan kehidupan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persepsi mereka, khittah NU 1926 semestinya menghentikan NU dari kecenderungan politik praktis dan mengonsentrasikan sepenuhnya pada gerakan keagamaan dan kultural. Namun impian ini tidak mudah diwujudkan, karena dunia politik bagaimanapun tetap memesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah aktivis NU mendapat peluang lebih besar pascakeputusan Khittah 1926 dengan berkiprah pada sejumlah partai politik.Sementara itu, NU sendiri pernah diletakkan Gus Dur sebagai kekuatan semioposisi pada masa akhir Orde Baru. Puncaknya adalah pada masa reformasi. PBNU pernah memfasilitasi terbentuknya sebuah partai politik baru dan NU struktural harus bersusah-payah membela Gus Dur tatkala menjadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berpolitik memang seakan kegiatan yang tak kenal lelah, baik yang dilakukan ”NU politik” maupun – ”NU struktural”, walaupun tentu dengan modus operandi yang berbeda. Di tengah membeludaknya aktivitas politik itu,institusi NU kerap menjadi ”korban”. Pilkada, baik Jawa Timur maupun Jawa Tengah, menjadi fakta bahwa semua pihak merebut suara NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan inilah yang dilawan oleh gerakan kultural. Mereka meletakkan gerakannya sebagai alternatif dari gerakan ”NU struktural” maupun ”NU politik” yang dianggap mudah membelokkan NU menjadi kekuatan politik. Sekarang ini NU pada dasarnya mempunyai tiga aset penting selain para ulama.&lt;br /&gt;Pertama, kalangan terpelajar dan intelektual yang sedang giat menekuni pemikiran keagamaan. Kedua, kalangan pengusaha. Ketiga, politisi yang tersebar di berbagai partai. Kalimat ”inside NU”atau ”what’s right withNU”sangat tepat untuk mengapresiasi buku ini. Sebuah buku yang sangat komprehensif dalam membedah jeroan NU, terutama pergolakan pemikiran yang telah dan sedang terjadi di kalangan generasi muda NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan yang brilian, cerdas, dan lugas telah dihadirkan oleh As’ad Said Ali, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang tidak hanya menyoroti dimensi siyasah (politik), tsaqafah (budaya) dan fiqrah (pemikiran), akan tetapi juga dimensi yang sangat mendesak untuk diprioritaskan, yaitu istishadiyah( perekonomian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Telah dipublikasi di Seputar Indonesia (Sindo), Tanggal 23/08/08)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-322311355398552655?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/322311355398552655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=322311355398552655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/322311355398552655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/322311355398552655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/nu-berebutan-wacana_26.html' title='NU Berebutan Wacana'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXnMaUoCAI/AAAAAAAAADs/GLVged7nEms/s72-c/Cover+Buku+NU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-9005108567012897033</id><published>2008-10-26T04:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:48:25.314-07:00</updated><title type='text'>Zakat Sebagai Visi Sosial</title><content type='html'>Mashudi Umar&lt;br /&gt;Dewan Redaksi Majalah Risalah PBNU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam zakat dibagi ke dalam dua macam, yaitu zakat jiwa atau fithrah dan zakat harta benda atau mal. Zakat yang pertama merupakan perintah yang terbanyak ditunaikan orang (kemungkinan besar karena ringan dan sangat sederhana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat fithrah harus dibayar oleh setiap Muslim, baik kecil maupun dewasa, secara periodik pada setiap bulan Ramadhan, tepatnya di malam Lebaran hingga imam Shalat Idul Fitri naik ke atas mimbar. Berbeda dengan zakat jiwa, pada zakat mal agaknya tidak semua orang memiliki kesadaran penuh untuk membayarkannya (kemungkinan karena berat dan perhitungannya memang tidak gampang). Zakat mal hanya diwajibkan bagi mereka yang sudah dewasa, tentunya juga berkemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut waktu pembayaran zakat mal, Rasulullah mengategorisasikannya pada dua bagian. Pertama, zakat yang harus dibayar secara berkala, biasanya mengena kepada zakat niaga (termasuk jasa atau profesi), mata uang, dan ternak. Kedua, zakat yang harus dibayar pada saat harta yang terkena zakat itu tiba di tangan, bersifat insidental, lazimnya mengena pada hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil tambang, dan harta temuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dari sudut filosofisnya, di samping berfungsi sebagai penyucian jiwa dan harta benda, zakat juga berfungsi, terutama zakat mal, sebagai sarana pemberdayaan ekonomi rakyat dan pencapaian keadilan sosial. Di samping sebagai pilar ekonomi Islam dipandang berpotensi untuk menunjang bagi tercapainya kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Visi sosial zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Alquran ada dua perintah yang disebutkan secara bersamaan dalam 82 ayat, yaitu shalat dan zakat. Dua perintah ini dalam banyak ayat Alquran telah menunjukkan diri sebagai sentra dari seluruh jalan keislaman itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis kedua perintah itu diletakkan sebagai rukun Islam segera setelah pengakuan terhadap eksistensi keesaan Tuhan (syahadat) dan dalam urutan yang mendahului puasa dan haji. Dalam analisis Mas'udi (1991:29), perintah shalat dimaksudkan untuk meneguhkan keislaman (kepasrahan) pada Tuhan yang bersifat personal. Sementara itu, perintah zakat dimaksudkan untuk mengaktualisasikan keislaman yang bersifat sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari paradigma ini, kita dapat mengembangkannya secara lebih jauh bahwa Islam benar-benar ingin memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan sosial yang di dalamnya zakat merupakan salah satu sarananya. Abd Karim al-Tawati dalam Mafhum al-Zakat (1986: 27) mengatakan bahwa zakat adalah suatu kerangka teoritis untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Dalam konsep zakat tampak sekali pemihakan kelas sosial kepada golongan yang lemah dan terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara vokal Alquran menyerukan agar kekayaan tidak boleh hanya berputar terbatas di kalangan kelas kaya (QS, [59]:7). Islam melarang orang-orang yang menumpuk-numpuk harta (QS [104]: 1-4). Tegasnya, Islam mengecam monopoli dan oligopoli dalam sistem ekonomi. Islam menghendaki adanya distribusi yang adil menyangkut kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan visi sosial seperti inilah kehadiran zakat dapat dipahami. Zakat datang bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata, baik sedikitnya maupun banyaknya, melainkan untuk mencegah terjadinya ketimpangan, di mana sebagian membubung dengan kekayaan yang dikuasainya, sementara sebagian yang lain justru tersungkur ke bawah dengan kemelaratan yang dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari ketimpangan dalam hal ekonomi inilah, ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) kemudian mengikuti.  Pada waktu kekayaan menembus batas teratas sehingga menyebabkan kesenjangan kelas, saat itulah golongan yang memonopoli dan mengonsentrasikan kekayaan itu menjadi musuh-musuh Islam (Kuntowijoyo, 1996:300). Alquran menyerukan agar kita menjadi pembela kelas yang tertindas dan golongan yang lemah. (QS [4]: 75).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Strategi pengelolaan zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda (materi). Seseorang yang telah memenuhi syarat-syaratnya dituntut menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau perlu harus dengan tekanan. Zakat dapat dituntut oleh kaum miskin, bahkan dapat dipaksakan pelaksanaannya oleh negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran ini, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa zakat merupakan kewajiban yang tak dapat ditawar atas orang yang telah memiliki kemampuan tertentu.  Garaudy (1981: 32) mengatakan zakat bukan suatu karitas, tetapi suatu bentuk keadilan internal yang terlembaga, sesuatu yang diwajibkan sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu orang dapat menaklukkan egoisme dan kerakusan dirinya yang pada gilirannya dapat terbentuk formasi sosial yang berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan argumen di atas, dalam pengelolaan zakat kita tidak bisa hanya mengandalkan analisis normatif, melainkan juga harus berpijak pada landasan realitas empiris. Dengan demikian, ada beberapa langkah yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, sudah saatnya kita melakukan sensus zakat yang dapat mendeteksi para pembayar zakat (&lt;em&gt;muzaki&lt;/em&gt;) hingga ke pelosok pedesaan. Lewat sensus ini pula kita dapat mengetahui mereka yang berhak menerima zakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, wilayah zakat perlu dibagi-bagi atas dasar perbedaan tingkat kemakmuran, untuk distandarkan berapa margin kewajiban zakat pada masing-masing daerah. Masing-masing umumnya sudah memiliki data dasarnya, berupa Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), data mengenai penghasilan rata-rata daerah, tingkat ketimpangan pendapatan daerah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ini harus dilakukan perhitungan, kemudian hasil perhitungan itu dijadikan acuan oleh panitia zakat sehingga distribusi zakat menjadi tepat sasaran, tidak sekadar membagi-bagi tanpa memerhatikan fungsional dan tidaknya zakat buat pemberdayaan ekonomi rakyat pada level bawah. (Effendi, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, perlu untuk membentuk lembaga zakat lintas SARA yang keberadaannya dikukuhkan oleh UU Zakat. Lembaga zakat yang memiliki kewenangan formal ini, bukan saja dapat menekan pihak yang enggan membayar zakat, melainkan juga dalam hal pentasarufan (pendayagunaan) pun dapat difungsikan secara nyata sebagai upaya membangun tata kehidupan sosial yang lebih adil buat semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, perlunya merelatifkan besaran tarif atau kadar zakat yang harus dikeluarkan. Apabila ada variabel tantangan keadilan dan kemaslahatan ditemukan lebih berat pada masyarakat tertentu, tidak ada halangan menaikkan dan begitu juga sebaliknya untuk menurunkan tarif yang telah ditentukan Nabi Muhammad, yakni 2,5-10 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, Madar F. Mas'udi, Emha Ainun Nadjib, dan Jalaluddin Rakhmat pernah mengusulkan menaikkan tarif zakat menjadi 20 persen atas berbagai jenis pendapatan yang diterima oleh kalangan profesional, seperti dokter dan konsultan.Kita perlu meningkatkan fungsi zakat yang selama ini lebih sebagai aktivitas personal menjadi sebuah gerakan sosial yang menyentuh realitas sosio-struktural demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan. Pada ujungnya, bagaimana agar hasil pungutan zakat itu dapat berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Telah dipublikasikan di koran harian Republika, tanggal 10-10-2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-9005108567012897033?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/9005108567012897033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=9005108567012897033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/9005108567012897033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/9005108567012897033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/zakat-sebagai-visi-sosial_26.html' title='Zakat Sebagai Visi Sosial'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2866749139931571754</id><published>2008-10-26T04:38:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:41:53.577-07:00</updated><title type='text'>"Amalkan Lima Nasehat Guru"</title><content type='html'>Wawancara dengan Maksum Saputra (Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, Jawa Barat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalkan Lima Nasehat Guru;&lt;br /&gt;Sejuta Orang Bergabung ke TQN di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana perkembangan tarekat Abah Anom saat ini?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Al-hamdulillah perkembangan terus maju, bahkan banyak orang bertanya-tanya. Jadi saya kebetulan ada di Jakarta ada yang nanya dari Palembang, Jambi, Bandung. Kebetulan saya dan teman-teman bilang kalau bapak mau belajar silahkan ke Pesantren Suryalaya untuk dapat bimbingan zikir. Abah Anom ada di Suryalaya. Kalau umpama Anda ada di Jakarta Barat, misalnya, silahkan hubungi Kiai Shaleh, yang dipercaya Abah Anom..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada berapa jumlah jemaah Tarekat Qadariyah Nahsyabandiyah (TQN) di Jakarta?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sekitar satu juta di seluruh DKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kegiatannya apa saja?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kegiatannya di setiap tempat, jadi kegiatannya sifatnya harian, mingguan, bulanan. Kalau kegiatan harian sesuai dengan tuntunan Al-Quran yaitu banyak berzikir pada Allah.  Untuk mendapatkan ini kita perlu bimbingan dari Mursyid yaitu Abah Anom, yang nama lengkapnya Syaikh Shahibul Wafa Tajul Arifin Bin Nur Muhammad. Beliau dilahirkan 1 Januari 1915. Abah Anom masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Beliau kan sudah terbatas, penggantinya sementara siapa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Pelaksana hariannya adalah KH. Zainal Arifin Anwar atau sebagai tangan kanannya untuk dakwah Kiai Abdul Gaus Syaifullah Maksum di Ciamis. Selain itu juga ada orang kepercayaan Abah Anom di lembaga dakwahnya, yaitu Kiai Cecen Badul Ashab itu di Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pusat kegiatan di Jakarta di mana?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di Islamic Center (Tanjung Priok). Untuk Jakarta ada lebih kurang 150 tempat untuk kegiatan khataman (wirid mingguan) dan manaqiban. Yang mengikuti kami di Jakarta itu bukan ustaz dan para kiai, tapi mantan preman. Mereka ke rumah pingin belajar, ya dibina dengan zikir. Alhamdulillah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari kalangan artis?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ya dari kalangan artis juga ada, yang aktif di tempat kami antara lain Ulfa dan Titiek Puspa. Mereka mendapatkan pengetahuan tentang tarekat Naqsyabandiyah justru tambah khusyuk, ibadahnya tambah mantap. Terutama anak-anak mantan narkoba. Pada jam 02.00 dini hari itu mereka bangun langsung mandi, namanya mandi taubat. Setelah mandi, ngambil wudu’ langsung shalat. Pertama salat taubat dulu. Setelah shalat taubat dia salat tahajjud minimal 12 rakaat dan setelah itu salat hajat minimal 6 rakaat. Setelah salat hajat langsung salat istikharah, salat tasbih minimal 4 rakaat, terus salat daf’il bala’, dan wirid sampai subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada sumbangannya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tidak ada. Kalau mau sedekah, silahkan. Karena ada lima mutiara dari guru kami. Pertama, jangan benci ulama yang sezaman. Dua, jangan menyalahkan ajaran orang lain. Ketiga, jangan mencampuri urusan orang lain. Empat, jangan mengambil sikap walaupun disakiti orang lain. Lima, harus menyayangi orang yang membenci kamu. Dengan adanya pedoman seperti itu, maka banyak yang bergabung, termasuk mantan-mantan preman dan orang-orang yang selalu bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mashudi Umar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No.10/Thn II/1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2866749139931571754?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2866749139931571754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2866749139931571754' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2866749139931571754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2866749139931571754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/amalkan-lima-nasehat-guru.html' title='&quot;Amalkan Lima Nasehat Guru&quot;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-8739973872371624823</id><published>2008-10-26T04:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:38:13.227-07:00</updated><title type='text'>“Spiritual Kota Itu Bukan Gerakan Sufi’’</title><content type='html'>Wawancara dengan Dr. Sri Mulyati, MA&lt;br /&gt;(Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pandangan Anda terhadap komunitas spiritual kota?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Kalau ada kecenderungan orang kota ke arah spritualitas  itu positif-positif saja. Alhamdulillah, berarti ada keinginan orang kota keagamaannya untuk lebih baik. Sebenarnya kalau orang Islam ingin mendekatkan diri kepada Allah,  harus benar-benar mempersiapkan diri. Karena ini adalah perjalanan spritual yang harus ada persiapan matang. Banyak karakteristik yang harus dipenuhi, walaupun itu tidak mudah. Tapi keinginan ke arah sana itu sudah bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan munculnya pemimpin spiritual instan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Kalau dalam tradisi tasawuf pemimpinnya adalah seorang mursyid, bukan ustadz biasa, dalam artian bukan sekadar mengajar ilmu secara fisik, karena tasawuf masih ke dimensi ruhaniyah. Tentang karakteristik seorang mursyid, antara lain harus ahli agama, dia sendiri harus mengamalkan syari’at sebaik-baiknya. Ia pun harus mampu membawa murid-muridnya secara ruhaniyah. Seorang mursyid itu tidak lahir dengan sendirinya. Dia dipilih oleh mursyid sebelumnya dan itu preogatif seorang mursyid untuk menentukan siapa kemudian yang akan menggantikannya. Tidak karena anak, saudara atau famili yang lain, tapi karena ilmu dan keikhlasannya. Mursyid-lah yang paling tahu perkembangan spritual murid-muridnya.&lt;br /&gt; Aktifitas seperti Ary Ginanjar, menurut saya, itu baik dan saya rasa itu adalah akhlaq saja, tidak masuk dalam kategori sufi atau tarekat. Karena dia kan memperlihatkan fenomena alam, betapa kecilnya kita, betapa besarnya ciptaan Tuhan itu. Kalau diciptakan begitu, apalagi yang diciptakan itukan menggugah kesadaran akan eksistensi Tuhan, luar biasa. Kita harus menilai positifnya dan saya pernah baca di koran bahwa dia itu tidak pernah mengatakan sufi, apalagi yang bersangkutan tidak mengatakan sufi, bukan juga seorang mursyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Trend artis, selebritis, pejabat, dan eksekutif ikut komunitas spiritual kota itu gejala apa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Alhamdulillah kalau mereka bisa bertaubat, istighfar, karena Allah maha pengampun. Itu kan taubat dalam urut-urutan makamah, zuhud, warak. Kita menilai itu baik, mudah-mudahan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya cara sufi itu ada berapa tahapan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Saya kira tahapan pertama yang harus dilewati adalah Takhalli, mengosongkan diri dari segala yang tidak baik, apakah kita bisa? Baru nanti kita bisa sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus benar-benar mengisi kebaikan. Apakah kita juga bisa? Berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan. Dan ini adalah bentuk manifestasi  dari rahasia-rahasia yang diperlihatkan kepada hamba-Nya. Boleh jadi mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki, dalam teori sunni kan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada juga wirid dan dzikir yang marak selama ini?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tidak mesti apa yang dia lakukan itu, dalam golongan sufi. Kalau kita pahami secara konvensional tarekat adalah suatu bagian dari tasawuf, dalam konteks ini adalah muktabarah dan ghairu muktabarah. Yang muktabarah jelas silsilahnya sampai kepada Rasulullah, amaliahnya ini, praktik sehari-harinya itu sesuai dengan syari’ah yang begitu. Adapun misalnya orang beramal baca surat ikhlas 1000 kali, itu gak apa-apa, itu amaliyah fadlail saja. Jadi tidak mesti harus digolongkan ke sufi. Masalahnya karena dalam kajian tasawuf, wabil khusus tarekah, itu memang ada rambu-rambunya. Jadi kalau misalnya tidak ada kriteria muktabarah, ya tidak otomatis masuk dalam tasawuf. Tarikah bukan, sufi bukan, apalagi tidak ada mursyid  dan tidak ada silsilah, jadi yang begini ini masuk grup akhlak saja, grup moral, tidak apa-apa dari pada grup Narkoba, naudubilla…. Dan sejauh tidak ada kaitannya dengan mursyid, maka tidak ada kaitannya dengan tarekat dan sejauh tidak ada murid tarekat, ya grup moral saja dan itu bagus. Seperti misalnya ada grup dzikir, kan lebih baik zikir dari pada ngobrol yang tidak ada manfaatnya. Kita harus punya pandangan yang positif. Alhamdulillah masih banyak orang yang mengingat Allah. Kalau orang pandangannya negatif bagaimana? Seperti dzikir jahar, ada yang bertanya apakah Tuhan tuli? Dia tidak tahu riwayatnya. Rasullulah mambaiat Ali berdzikir dengan jahar. Nabi mengajarkannya, sebab itulah kemudian dijadikan referensi dzikir  jahar atau dengan suara keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashudi Umar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-8739973872371624823?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/8739973872371624823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=8739973872371624823' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/8739973872371624823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/8739973872371624823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/spiritual-kota-itu-bukan-gerakan-sufi.html' title='“Spiritual Kota Itu Bukan Gerakan Sufi’’'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3449827593481855879</id><published>2008-10-26T04:32:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:35:54.066-07:00</updated><title type='text'>”Kapitalisasi Industri Spiritualitas Itu Berbahaya”</title><content type='html'>Wawancara dengan KH Lukman Hakim, MA&lt;br /&gt;(Sufiolog dan Pengasuh Kajian Komunitas Sufi di Berbagai Kota)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kapitalisasi Industri Spiritualitas Itu Berbahaya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pandangan Kiai soal trend sufi sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ini sebenarnya soal cara pandang manusia modern yang berorientasi ke ’aku’. Kalau kita melihat seluruh roh dan proses-proses motivasi dalam membangun kepercayaan diri dalam mengeksplorasi ’aku bisa’, ’aku mampu’, ’aku hebat’, dan ’aku kuasa’. Tapi sebenarnya ’aku’ mempunyai sejarah di Prancis dalam drama keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al-Quran ada dua ’aku’ yang sangat dramatis, yang merupakan bagian dari tragedi spiritual. Pertama, ini tragedi spiritual yang  paling maniak, yaitu tentang ’aku’-nya Iblis. Karena ke’aku’an atas amal ibadahnya dia mengatakan, ana khairun minhu (aku lebih baik dari Adam), pada saat ia itu menjadi  takabbur, lalu menjadi kafir dan akhirnya menjadi Iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ’aku’nya Firaun yang berbeda latarbelakangnya dengan Iblis. Kalau Iblis latar belakangnya karena prestasi ibadah. Sedang Firaun, dia mengatakan ana rabbukumul a’la (akulah Tuhanmu yang paling tinggi). Ini lantaran Firaun tidak mengenal Tuhan, sejak kecil dia kafir, lalu menjadi Firaun. Kekuatan ’aku’nya ini kelak akan melahirkan apa yang disebut dengan ilmu sihir. Itu semua karena aku, lalu dielaborasi Barat untuk menyihir cara pandang manusia. Mengapa muncul sihir, karena ’aku’, Tuhan itu tidak ada. Ini proses elaborasi alam modern, eksprementalis, sosialis sampai eksistensialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tentang sufisme perkotaan?&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Kalau menurut saya, Islam di perkotaan itu ada kecenderungan aktivitas keagamaannya ke arah tontonan, jadi orang melakukan aktivitas keagamaan supaya ditonton. Lantas muncul industri spritual, ini sebenarnya tragedi. Kapitalisasi spritual ini sangat berbahaya. Orang tiba-tiba tertarik karena Tuhan dijadikan komuditas sangat laris sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya definisi tasawuf  bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tasawuf itu pada zaman nabi belum ada. Istilah syari’ah saja belum ada, aqidah juga belum ada, istilah tarbiyah juga belum ada. Jadi istilah tasawuf itu dielaborasi dari tiga istilah pada awal munculnya Islam yaitu, Islam, Iman, dan Ihsan. Islam di kemudian hari akan menjadi disiplin ilmu fikih dan syari’ah.  Sementara iman, akan menjadi disiplin ilmu teologi dan aqidah.  Sedangkan ihsan, akan menjadi disiplin ilmu tasawuf. Ketiga simpul itu, masing-masing menjadi frame dan ada tatanan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf baru muncul pada abad ketiga hijriyah, artinya sebelum boleh dikata masih seperti eranya Rasulullah, memang pernah Rasulullah bersabda baik-baik era adalah abadku dan sesudah abadku sampai pada 23 tahun. Itu artinya era Rasul, umatnya masih utuh baik syariatnya, tarekatnya, aqidahnya semuanya masih utuh. Ketika mulai ada degradasi moral di kalangan umat, maka tasawuf dijadikan sebagai terapi, lalu dikembangkan secara akademik, disiplin ilmu tasawuf dan dipelopori oleh beberapa ulama bahkan empat mazhab itu penganut tarekat, walaupun Ahmad Ibnu Hambal masuk tarikat agak akhir. Ia sempat awalnya melarang anaknya dekat sama orang sufi. Tapi ketika beliau masuk sufi, anaknya langsung diminta untuk dekat para ulama sufi, itu yang tidak dibaca oleh Ahmad Bin Hambal. Kemudian sekarang gerakan-gerakan ini memang selalu muncul pada setiap kran kebebasan. Karena puncak dari tasawuf itu adalah Rasulullah bukan siapa-siapa, baik soal metodelogi yang diajarkan pada para sahabat dan yang untuk umum maupun yang khusus. Kelak ilmu khusus itu menjadi pengetahuan-pengetahuan. Di era modern banyak aliran-aliran muncul yang mengatasnamakan tasawuf, tarekat, makrifat tapi tidak lebih dari tasawuf-tasawuf  instan yang sebenarnya disebut sufisme. Bahkan banyak yang mengatasnamakan tarekat yang berhubungan dengan proses-proses tasawuf di Indonesia yang suasananya mulai dikenal secara akademik, ketika para kiai mengajar di pesantren, tapi sebelumnya wali songo langsung bentuknya amaliah, tasawuf langsung amaliah. Kelak kulturnya kita rasakan, namun akademiknya baru belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelompok mana saja yang masuk tasawuf instan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ya banyaklah, bahkan di iklan di koran-koran misalnya ikut ke makrifat harus bayar sekian. Sekarang atas nama training queotient. Tapi tidak ada yang benar-benar makrifah kepada Allah, sekian banyak manusia mana yang makrifah kepada Allah. Kalau sudah pada industrial dan yang disebut syiar itu dari kedalaman ketaqwaan hati. Dalam dunia tasawuf itu harus mengandalkan Allah lalu baru terekpresi di amaliah bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kira-kira manfaatnya untuk masyarakat apa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Karena masyarakat dalam situasi krisis itu selalu muncul yang instan-instan di mana saja. Kita lihat mengapa banyak paranormal, banyak orang yang menjanjikan hal-hal yang instan itu karena krisis. Nah ini kalau ditangkap oleh yang tidak benar ya seperti itu menjadi industri spritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa karena orang kota tak suka dzikir lama-lama?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Saya punya istilah yang itu diambil dari kata-kata sufi: Sunyi rame-rame, sunyi dalam keramaian, ramai dalam kesunyian. Itu sebenarnya bisa dielaborasi oleh tasawuf orang kota di tengah-tengah kita menghadapi berbagai problem perkotaan. Hati kita tetap sunyi dalam Allah, di tengah-tengah kita sendiri tidak ada siapa-siapa, hati kita tetap ramai dengan dzikrullah. Nah ini yang disebut sunyi dalam ramai, ramai dalam sunyi. Jadi bagaimana caranya ya orang harus berlatih dengan pengetahuan-pengetahuan tasawuf dan amaliahnya di mana seluruh persoalan-persoalan hidup di dunia ini jangan sampai masuk di hati. Hal yang sama kalau wilayah-wilayah ketuhanan jangan dipaksakan masuk pada institusi dunia, nanti semua orang akan mengatasnamakan Tuhan. Lama-lama orang mengatakan ini Tuhan, ini milik Tuhan, kita boleh mengambil dong kan ini milik Gusti Allah, itu kalau hati dielaborasi untuk dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau tasawuf Hamka? Orang kota tak suka ketat ya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Hamka yang kita kenal adalah kultur tasawuf. Ayahnya seorang sufi dan Hamka sepertinya seorang terpelajar yang coba untuk rasional, tapi pada akhir hayatnya dia menulis tasawuf modern, beliau kemudian mengambil  tarekat Naqsyabandiyah, itu yang tidak diikuti oleh Hamkais, pengikutnya belakangan. Sehingga tasawuf hanya dipahami dalam nilai-nilai seperti yang kita kenal Allah itu Esa. Kalau kenal Allah Maha Esa mau ngapain? Tasawuf itu bagaimana komunikasi dengan keesaan itu sendiri, hati kita yang kita kenal. Inilah yang dielaborsi dunia tasawuf agar orang terus menerus online dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aktivitas kajian sufi kiai sendiri bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ya kita hanya kajian-kajian sufi di berbagai kelompok. Di Jakarta ini ada sekitar 23 komunitas tasawuf. Ada yang kebetulan tarekatnya sama dengan saya, ada juga tarekatnya beda, tapi saya rangkul. Ada majalah sufi untuk memberikan klarifikasi-klarifikasi atas beberapa ketimpangan-ketimpangan tasawuf, selain kita angkat masalah nilai-nilai tasawuf seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani, Junaid Al Bagdadi. Tasawuf itu bukan sesuatu yang asing tapi keniscayaan hati yang orang kalau meninggalkan akan mengalami kekeringan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kajian itu apa rutin?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya rutin, ada yang jadwalnya seminggun sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, rata-rata kita buat sebulan sekali. Ya bergantian jadwalnya, bisa Anda lihat di majalah sufi. Dunia tasawuf ini kan ilmunya, amaliahnya namanya tarekat, kemudian pelaku dan namanya sufi. Tapi seluruh definisi tasawuf maupun sufi itu banyak sekali, tapi tujuannya sama yaitu membangun adab. Adab itu lebih tinggi dari akhlaq. Tahapannya, adab, akhlak, baru amal. Adab ini lebih tinggi, lebih agung yang menghubungkan hamba dengan Allah, hamba dengan sesama hamba dan sesama makhluk. Jadi kenapa dulu para sufi punyak ide besar luar biasa. Hampir rata-rata ulama kita sufi. Baru pada era-era tertentu pada abad ke VII Hijriyah munculnya gerakan-gerakan formalisi sufisme yang dipolopori oleh Ibnu Taimiyah. Tapi orang tidak banyak membaca bahwa Ibnu Taimiyah pada usia tua masuk sufi, terutama setelah ketemu Abu Hasan Al-Asy’ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aktifitas sufi di luar kota?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Diluar kota, ada di Surabaya, Malang, Bandung itu sebulan sekali. Kita berharap juga bahwa para ulama itu membimbing. Padahal dulu ceritanya para ulama ketika akan mendirikan NU, dulu kan berdebat nama. Lalu muncul nama Nahdlatul Ulama. Ternyata itu diilhami  kitab tasawuf Al-Hikam. ”Janganlah anda bergabung atau berguru kepada orang yang haliyah, rohani maupun wacananya yang tidak menunjukkan anda kepada Allah.” Itu sebenarnya standar NU. Kalau tidak memproduksi ulama, NU akan mengalami degradasi. Para kiai-kiai di pesantren tentu mempunyai itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tentang Anand Krisna, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sufi Krisna itu klenik. Kenapa saya sebut klenik karena mengelaborasi seluruh aliran-aliran sufi yang ada. Pokoknya aliran-aliran sufi dijadikan satu, padahal mungkin ya bisa Anda contohkan mau bikin makanan semua bumbu dimasukin jadi satu, itu mungkin orang muntah, apalagi pada tingkat rohani. Tasawuf bukan produk filsafat, seluruh karya-karya orang sufi itu tidak muncul dari aksioma filosofis, makanya muncul kalimat dalam sufi: cahaya-cahaya para sufi itu mendahului wacananya. Sementara wacana-wacana ulama mendahului cahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Benarkah tasawuf penghambat ilmu pengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sebenarnya ini hanya soal cara pandang. Al-Quran memang mengecam dunia sampai 115 kali, hanya orang salah mendefenisikan dunia. Dunia adalah masa yang membuat manusia lupa terhadap Allah. Ibadah pun kalau itu lupa terhadap Allah dinilai duniawi. Sama dengan uang halal dengan uang haram kan sama bentuknya. kenapa nilainya beda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana kalau belajar Sufi tanpa guru?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Jangankan sufi, orang mau salat saja tidak pakai guru tidak boleh. Di dunia banyak yang jadi wali tapi jarang yang jadi mursyid, juga banyak mursyid tapi tidak wali. Siapa yang belajar agama tanpa guru, maka dia gurunya adalah syetan. Kita ini masuk ke dunia batin saja, imajinasi syetan itu cepat sekali, ada pintu gerbang untuk dia, cepat sekali, contoh belajar dzikir dari buku. Dalam dunia sufi itu tidak boleh ada tujuan supaya dibukakan rahasia Allah  apalagi mencari mukasyafah.&lt;br /&gt; Mashudi Umar dan Haris Muzakky&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No.10/Thn II/1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3449827593481855879?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3449827593481855879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3449827593481855879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3449827593481855879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3449827593481855879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/kapitalisasi-industri-spiritualitas-itu.html' title='”Kapitalisasi Industri Spiritualitas Itu Berbahaya”'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3259944945076508456</id><published>2008-10-26T04:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:32:13.981-07:00</updated><title type='text'>PCI Networking, Gurita NU Global</title><content type='html'>Jakarta-- Dalam pertemuan dengan Pengurus Cabang Istimewa (PCI NU), yang merupakan cabang NU istimewa yang tersebar di seluruh dunia, Ketua Umum PBNU, DR KH A Hasyim Muzadi  menggagas bahwa PCI NU adalah networking (jaringan kerja) NU agar NU membumi dan menggurita ke level global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Karena itulah PCI NU nantinya akan bersinergi dengan ICIS yang keanggotaannya mencakup inteleketual dan ulama di Negara-negara Islam maupun Negara Barat non Islam. Jadi NU nantinya menjadi eksportir gagasan Islam moderat ke seluruh dunia, bukan menjadi agen gerakan internasional di Indonesia. Ini beda NU dengan HTI, Ihawanul Muslimin maupun dengan Majelis Mujahidin Indonesia,’’ ujar Kiai Hasyim di hadapan pengurus PCI NU seluruh dunia di sela-sela acara ICIS III di Hotel Borobudur Jakarta awal Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kiai Hasyim, karena ke-Sekjenan ICIS ada di Jakarta dan PBNU juga di kota yang sama , maka harus disinerjikan. ICIS setelah ke-Sekjenan selesai, selanjutnya akan dibentuk region-region atau zona-zona misalnya Zona Amerika, Zona Eropa yang bisa dibagi dua,  Eropa Barat dan Eropa Timur. Kemudian Zona Afrika yang terdiri dari  Afrika utara, tengah dan selatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter masing-masing zona tidak sama, lanjut Kiai Hasyim, Kemudian Zona Australia, Asia, dan lainnya. ‘’Region-region ini nanti kekuatannya ada pada PCI, misalnya Eropa Barat regionalnya di London. Atau yang di Eropa Timur ada di Kazakstan, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Saudi itu di letakkan di Mesir.  Dan Afrika Selatan bisa bi Bormali atau di Afrika selatan. Zona Autralia diletakkan di Camberra, sementara Asean diletakan di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Abah, demikian ia biasa dipanggil-- maksudnya dengan region region itu nanti setiap region atau zona dipersilahkan untuk mengorganisasi dan mengadakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan karakter regionnya. Dengan demikian ICIS akan mengakar, orang-orang yang sudah menjadi member di sini otomatis di tempatnya juga member. Jika di tempat masing- masing memerlukan orang lain untuk rekruitmen dipersilahkan, tetapi koordinasi ada pada PCI. Dikhawatirkan, kalau nanti lepas dari PCI, akan lepas dari kontrol NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Dengan begini NU akan menggurita ke seluruh dunia, karena itu NU tidak boleh menjadi bagian dari gerakan rekruit orang lain, karena kita akan mengembangkan pemikiran dan membuat NU itu ke seluruh dunia,’’ jelasnya. Berikut liputan wartawan Risalah NU, Mashudi yang di dampingi fotografer Ahmad Muzakki, antara PCI NU dengan KH. Hasyim Muzadi;&lt;br /&gt;Berikut Agenda dan Program PCI Seluruh Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI Inggris&lt;br /&gt;Sugiharto, PHD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah bisa bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan menghadiri acara ICIS III ini. Saya bisa menjadi Ketua PCI NU Inggris, berawal dari karir saya di Inggris dengan berjualan sate dan sambil sekolah dan alhamdulillah S3 saya selesai. Karena saya pulang ke tanah air, PCI Inggris saya demesionerkan, agar ada generasi setelah saya. Cuma karena mendekati 2009, kita hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Inggris sekarang ini banyak orang-orang yang mengaku NU, akan tetapi amaliahnya belum seperti NU.  Kader NU di sana ada sekitar 200 orang yang basic-nya semua rata-rata dari pesantren. Berbagai kegiatan ke-NU-an sudah kami laksanakan seperti tahlilan, pencak silat dan berbagai zikir seperti saman dan lainnya. Respon dari kalangan Islam lainnya bahkan dari kalangan non-Islam merasa senang dan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan PCI Inggris, kita ingin menjalin hubungan dengan berbagai negara Eropa dan KBRI  serta kerjasama dengan umat Islam di Inggris sendiri. Kami sudah bertemu dengan pimpinan umat Islam Inggris, dia bilang mempunyai program dari Deplu Inggris dengan dana sekitar 4, 5 poundsterling yang tujuannya Inggris wellcome terhadap Islam. Yang bersangkutan menginginkan dipertemukan dengan PBNU agar ada kerja sama dalam merealisasi program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU Libiya&lt;br /&gt;Mahmud dan Syihabuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah semua kegiatan NU di Libiya berjalan dengan baik, berbagai program seperti Harlah NU yang kita laksanakan bekerjasama dengan KBRI Libiya. Harapan kami agar PCI yang lain memberikan masukan kepada kami dan bekerjasama dengan PCI yang berada di Libiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU Libiya terbentuk dari anak-anak NU dari berbagai delegasi PWNU Indonesia yang dikirim belajar ke Libiya. Sedangkan berbagai program NU yang kami lakukan, awalnya secara sembunyi-sembunyi, karena kami di sana minoritas berada di tengah komunitas lain. Kami pun berada di asrama-asrama yang bukan NU. Lama-lama kami memberanikan diri untuk terang-terangan dan akhirnya kami menemukan dukungan dari berbagai kalangan, maka terbentuklah sebuah PCI pada tahun 2005 secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI Syiria&lt;br /&gt;Yusron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah PCI NU Syiria berjalan dengan baik, dengan melakukan berbagai pendalaman tentang keilmuan agama. Sedangkan anggota kami sekarang berjumlah sekitar 70 orang dan kondisinya secara perlahan mulai surut dikarenakan anak NU yang dikirimkan ke Syiria sudah mulai terbatas karena masuknya susah luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sering melakaukan pertemuan dengan berbagai pimpinan Islam di Syiria dan terjalin baik, terbukti dengan  anggota kami yang ditahan setelah kami melakukan loby akhirnya dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota kami mayoritas para mahasiswa dan anggota KBRI. Semestinya kalau kita bisa masuk ke berbagai kalangan, sebenarnya NU di sana itu banyak, dari para TKW Indonesia dan saya yakin para TKW ini adalah orang NU. Namun,  karena terbatasnya waktu dan kurangnya komunikasi, akhirnya sampai sekarang anggota PCI NU masih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kami, agar PBNU lebih memperhatikan anggota yang berada di berbagai PCI dan kami mempertanyakan kepada PBNU tentang akan berdirinya Universitas NU yang bertarap Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PCI NU Pakistan&lt;br /&gt;Aini Aryani&lt;br /&gt;NU di Pakistan baru berumur tiga  tahun yang diresmikan oleh KH DR Masyhuri Na`im. Ketua Umum PBNU, DR KH A Hasyim Muzadi sendiri juga pernah berkunjung ke sana. Dan alhamdulillah sampai sekarang PCI NU Pakistan berjalan dengan baik, dari mulai kegiatan agama, diskusi dan seminar lainnya dan pihak kami sering kontak langsung dan mengirimkan berbagai artikel ke NU Online.  Kami sempat menerbitkan sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari anggota pengajian yang ada mayoritas sekitar 60% adalah warga NU.&lt;br /&gt;Dan kami mohon kepada pihak PBNU agar secepatnya mengeluarkan SK Pengurus PCI NU Pakistan yang baru dilantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU AUSTRALIA&lt;br /&gt;Eko Zuhri Ernada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya PCI NU di Autralia ada di dua tempat, satu di New Zeland dan di Autralia. Sedangkan yang berada di New Zeland sekarang tidak ada kabarnya, karena sering kehilangan kontak dan tidak pernah komunikasi. Maklum, pertemuan antara kami hanya lewat internet saja, sedangkan anggota kami ada sekitara 500 orang. Padahal prospek NU di sana sangat bagus,  karena banyaknya para TKW Indonesia yang mayoritas adalah orang NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, kami akan membuktikan bahwa NU di sana itu ada dengan berbagai kegiatan dan program dari PBNU. Nah, pengenalan itu dengan memakai strategi, pertama kita kenalkan atau daftarkan ke lembaga Negara Australia agar NU menjadi lembaga yang sah dan resmi di sana. Yang kedua,  kerja kita harus dengan cara profesional yakni dengan cara transparan terutama di masalah ke uangan dalam berorganisasi. Yang ketiga, kita buktikan di masyarakat luas bahwa NU di Australia itu ada dan terbukti dengan berbagai kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pernah dimintai pendapat tentang kehalalan sebuah makanan produk Australia oleh pemerintah setempat. Hal inilah yang membuktikan bahwa kehadiran NU di sana sangat menyejukkan, karena orang-orang muslim di sana mayoritas dipengaruhi oleh Islam Timur Tengah. Kita pernah dituding oleh kalangan Islam Timur Tengah ini sebagai pembawa aliran bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana jangka panjang PCI NU Australia akan mendirikan sebuah Pondok Pesantren, sehingga orang-orang Australia yang mau mendalami agama tidak harus ke Indonesia.  Harapan kami agar PBNU pertama, untuk bulan Ramadhan ini bisa memberikan Safari Ramadhan lagi  ke Australia, seperti yang tahun sebelumnya. Dulu Prof Dr KH Tolchah Hasan dan Kiai Masykuri pernah melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, PBNU agar lebih memperhatikan PCI NU di Australia, ibarat anak rantau yang disapa bapaknya “nak bagaimana kabarmu ?” itu saja sudah senangnya bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU AMERIKA SERIKAT (AS)&lt;br /&gt;Basri, PHD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal terbentuknya PCI NU di Amerika berkat kesadaran dari kami yang notabene dari kalangan asli NU. Sebenarnya cukup banyak warga NU di sana,  tapi sepertinya kok gak mau menunjukkan jati dirinya. Setelah beberapa kali kita meggelar diskusi, akhirnya terbentuklah kesepakatan bersama untuk membentuk PCI NU yang dideklarasikan Ulil Abshar Abdallah bersama kawan-kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah NU di Amerika berjalan dengan baik, walaupun harus dengan gerilia karena memang kondisi di Negara AS itu  mayoritaskan non- Islam. Untuk bergerak menjalankan agenda NU itu beratnya minta ampun. Yaa ini mungkin perlu dorongan khusus Kiai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU SUDAN&lt;br /&gt;Husein Habibi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya NU di Sudan tidak boleh berdiri, namun berkat kedatangan Kiai Hasyim Muzadi beserta rombongan akhirnya NU berdiri. Pada tahun 2007 PCI NU Sudan dilantik dan sekarang sudah resmi masuk dalam daftar Departemen Agama Sudan. Setelah terdaftar Menteri Agama Sudan sendiri yang menyerahkan SK tersebut. Kami juga sering kami diundang dalam berbagai kegiatan yang ada di kantor kementerian Sudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan NU di Sudan selain diikuti anggota PCI, kami juga mengumpulkan para TKW Indonesia untuk mengikuti berbagai pengajian-pengajian yang kami selenggarakan bekerjasama dengan kementerian di Sudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, kami melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi, alhamdulillah kami diberikan kebebasan dalam mengelola berbagai bidang ekonomi yang diserahkan pada kami. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kami mengharapkan doa dan bimbingan selanjutnya dari PBNU, agar mengirimkan generasi yang betul-betul NU sehingga nantinya gampang untuk berjuang bersama-sama.  Karena di Sudan itu yang namanya gerakan PKS itu banyak sekali dan ngerinya lagi, PKS di Sudan itu gerakannya secara terang-terangan (dor to dor) dari wilayah satu ke wilayah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU MALAYSIA&lt;br /&gt;Muhammad Hilmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah NU berjalan dengan baik, dan  PCI NU di Malaysia ini berjalan sudah dalam periode yang kedua.  Anggota NU di Malaysia mayoritas masyarakat luas dari kalangan mahasiswa dan para TKI yang berjumlah sekitar 3 juta yang resmi sekitar 2 juta dan tidak resmi 1 juta.  &lt;br /&gt;Kami tidak mempunyai kartu anggota, akan tetapi setiap kami melakukan kegiatan-kegiatan ke- NU-an banyak yang menghadiri. Kami mempunyai lima ranting yang berada di pelosok desa dan alhamdulillah kami selalu berkoordinasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan kami adalah pertama, untuk melancarkan organisasi  NU ini, kami harus meminta ijin karena diberlakukannya undang-undang “bahwa setiap organisasi dari negara lain harus mempunyai ijin”.&lt;br /&gt;Kedua, tidak adanya badan hukum yang resmi, sedangkan badan hukum adalah penting untuk segala bentuk kegiatan yang terkait kepada para anggota NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permohonan kami kepada PBNU agar disambungkan kepada pemerintah  Malaysia yang sekarang. Sedangkan kami meminta ijin itu seakan-akan kayak dipersulit oleh pemeritah Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU MESIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU di Mesir sudah dibentuk lama, jadi tentang kegiatan di sana sudah beragam dan dinamikanya naik-turun. Alhamdulillah semuanya jalan. Di sana sudah ada Banom-Banom (Badan Otonom) seperti Fatayat, Jamiyah Thoriqoh, Lakpesdam, Pagar Nusa  dan lainnya. Hampir semua kegiatan yang dilakukan PBNU, kami mencoba untuk mengikutinya. Bentuk apapun kegiatannya,  kita mencoba untuk bisa aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir itu sudah ada radionya yang bekerjasama dengan kawan-kawan  di Jerman, tapi sayangnya kini dikuasai oleh orang yang bukan NU. Namun demikian saya mencoba dengan link yang ada, penceramahnya  melibatkan Banom- Banom yang ada, dan ternyata warna NU-nya ada dan peminatnya juga  banyak. Jika seandainya kita bisa membuat radio, yaitu radio NU saya kira akan lebih bagus dan bisa meningkat dari pada sekedar pengajian on line link nya juga bisa kita buat di Indonesia dan kerjasama dengan Negara-negara lain.  Jadi selain bisa diakses di radio Mesir, ternyata di Barat juga bisa di akses. Kita sudah bentuk beberapa PCI dan masalah teknologinya agak berat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu ,  radio tersebut kita manfaatkan untuk kegiatan- kegiatan NU. Kita coba mengadakan dialog NU,  kita mengundang nara sumber dan di-on air-kan dan sambutannya luar biasa. Namun setelah itu ada kritik untuk tidak boleh lagi memakai radio tersebut. Padahal bebarapa minggu terakhir,  kita mengadakan diskusi meskipun yang hadir tidak terlalu banyak,  tapi yang mengikuti di luar itu cukup banyak. Jika kita bisa mengorganisasikan dengan PCI lain termasuk Indonesia,  apalagi jika kita punya radio sendiri maka akan lebih bagus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCI NU LIBANON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU di Libanon itu saya sebut komunitas, karena masih di bawah koordinasi NU Syiria.  NU di Libanon itu sangat prospektif  karena, di Libanon boleh dikata  adalah barometer Timur Tengah. Di Libanon ada sekitar 1.000 lebih orang NU, itu terdiri dari pasukan TNI yang bertugas di sana dan NU menjadi kebanggaan mereka ini. Ketika KH Hasyim ke sana mereka lebih suka dibilang TNU dari pada TNI. Dan buktinya mereka minta doa ke Kiai Hasyim. Selain itu, NU di sana juga banyak dari mahasiswa. Alhamdulillah keberadaan NU  mendapat respon positif masyarakat lokal.   Ada komunitas Asyari di sana yang sangat terkagum kepada NU dan ingin membantu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mendapat bantuan langsung dari pemerintah Libanon. Meski di Libanon masih rawan konflik, toh  mereka justru menawarkan beasiswa yang cukup unik.  Karena selama ini beasiswa Timur Tengah itu identik dengan Dirosah Islamiah, artinya ilmu-ilmu agama. Namun beasiswa yang ditawarkan Libanon malah disiplin ilmu-ilmu umum, uniknya lagi pendeta pun menawarkan beasiswa kepada orang-orang NU.  Kiai Hasyim sudah ketemu pendetanya, dan ingin kerjasama dengan PBNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan beasiswa umum dari Libanon antara lain meliputi ilmu kesehatan, manajemen, informatika komputer, dan lainnya. Ini nanti menghilangkan kesan bahwa Timur Tengah tidak hanya pintar dalam agama,  namun juga cakap dalam ilmu umum. Maka, kita bisa memberi warna yang lain dari lulusan Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;M a s h u d i/Muzakki&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3259944945076508456?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3259944945076508456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3259944945076508456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3259944945076508456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3259944945076508456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/pci-networking-gurita-nu-global.html' title='PCI Networking, Gurita NU Global'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-4879468410102827570</id><published>2008-10-26T04:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:28:25.637-07:00</updated><title type='text'>Cara Melahirkan ‘Sufi’ Moderen</title><content type='html'>ESQ menjadi merek Ary Ginanjar dalam mentraining spiritual manusia. Bagaimana bentuk dan model trainingnya, wartawan Risalah NU melaporkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis bersama Haris Muzakki dari Risalah NU mengikuti pelatihan ESQ (&lt;em&gt;Emotional Spiritual Quotient&lt;/em&gt;) yang diadakan oleh Ary Ginanjar di Hotel Pasifik pada tanggal 21-23 Juni 2008 lalu. Penyelenggaraannya sangat mewah untuk ukuran pelatihan. Penulis melihat di antara beberapa peserta dari kalangan eksekutif papan atas, anggota legislatif, Polri, TNI, artis, selebritis, aktivis, dan ormas, bahkan dari luar negeri juga seperti Thailand, Malaysia, ikut jadi peserta. Penulis jadi kaget, ada apa dengan pelatihan ESQ yang pesertanya kalangan elite, orang berduit, dan tempatnya juga di hotel berbintang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama, seksi acara -menurut penulis- sangat disiplin mengantarkan dan menanyakan peserta. Lalu penulis bersama Muzakki masuk, di dalam sudah banyak peserta, penulis terlambat tidak sesuai dengan jadwal yang diberikan. Di depan Ary Ginanjar sudah siap menyambut peserta dan memperkenalkan diri beserta pelatih-pelatih yang lain.  Dia juga menyambut perwakilan dari NU untuk berdiri memperkenalkan terhadap peserta yang lain. “Mana yang dari NU, silahkan berdiri,” kata Ary Ginanjar. Akhirnya kami yang dari NU semuanya berdiri sambil melambaikan tangan pada peserta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantarnya, ia menjelaskan tentang training ESQ, “bahwa pelatihan ini tidak perlu ditulis, semuanya sudah lulus sambil dia ketawa. Saya bukan ustad, bukan dai saya minta maaf terhadap ustad-ustad dari NU dan Muhammadiyah,” kata Ary Ginanjar. Setelah perkenalan selesai, lalu ia memutar dan membacakan ayat-yat suci Al-Quran yang berkaitan dengan kehidupan dan ke-Esaan Tuhan. Ia sendiri membaca dan memberikan penafsiran. Karena di depan sudah disiapkan papan yang sangat lebar sekali. Ketika ia membacakan ayat-ayat Al-Quran tadi baik yang berkaitan dengan kematian, tentang reziki, tentang ke-Esaan  Tuhan, semuanya itu dibarengi dengan iringan musik yang menggetarkan badan disamping juga suaranya yang lantang membuat peserta terhipnotis termasuk penulis.&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;elanjutnya ia memberikan beberapa metodelogi terhadap peserta, setelah membacakan ayat-ayat tadi, sebelum acara ditutup diisi dengan permainan, olah raga fisik dan nyanyian kebanggaan ESQ. Lalu Ary Ginanjar juga memperkenalkan ciri khas pelatihan ESQ, misalnya setiap selesai pelatihan dan mau isrirahat dan salat, peserta sesama jenis harus saling salaman dan cium pipi dan juga mengucapkan “pagi” kepada seluruh peserta training. “Jadi setiap peserta kalau ketemu pada peserta yang lain harus mengucapkan pagi, ini mengambil dari ayat Al-Quran yang berbunyi Wa Al-Dhuha, yang diartikan “pagi”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia memperkenalkan juga ciri khas dan karakter pribadi ESQ tentang 7 (tujuh) budi utama: jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli, sambil memainkan tangan sesuai dengan petunjuknya. Setiap mau istirahat tujuh budi utama ini selalu dinyanyikan oleh Ary Ginajar dan alumni-alumninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki hari yang kedua, model penyampaian juga tidak jauh berbeda dengan hari pertama, tapi hari kedua penulis melihat seorang Ary Ginanjar benar-benar membuat hipnotis peserta dengan ayat-yat Al-Quran yang dia tafsirkan serta sebab turunnya ayat (asbabul nuzul). Peserta di sini benar-benar dibuat histeris, menangis melihat apa yang disampaikan Ary Ginajar yang diiringi suara musik. Lampu dimatikan, peserta duduk lesehan, dan di depan sudah siap memutar ayat-ayat Al-Quran. Peserta mendengarkan dengan khusyuk, ingat pada dosa, harus istigfar bahkan sebagian ada yang menangis sambil menyebut ”Allahu Akbar”, ”Astagfirullahal Adhim, ampunilah dosa kami.” Ary ginanjar menambah velome suaranya yang lantang, peserta benar-benar terhiptonis oleh metodelogi yang dimainkan. Seakan-akan benar-benar terjadi gambaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, katakutan peserta karena raungan suara yang diciptakan melalui musik tadi yang ditengahi suara Ary yang lantang. Waktu menangis hanya satu jam. Setelah itu peserta bisa happy lagi, ketawa lagi. Bahkan Ary memainkan tebak-tebakan berhadiah. Di tengah-tengah istirahat ini, penulis sambil menyantap snack yang disediakan oleh panitia berkenalan dengan peserta yang lain yang ternyata dari Yogya. Dia datang dari jauh dengan membayar mahal untuk mengikuti acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk pada hari ketiga, hari terakhir ternyata suguhannya beda. Penulis disuguhi formulir untuk menanam saham terhadap kantor ESQ. penulis bertanya-tanya lagi dalam hati, pelatihan kok ada sahamnya ini, pelatihan apa ini? Sementara panitia yang lain sibuk mengantarkan formulir kepada peserta yang lain dan yang punyak duit. Penulis yang tidak punya uang langsung memasukkan formulir  ke dalam tas diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kantor ESQ ini berlantai 25 sesuai dengan jumlah nabi,” kata Ary Ginanjar memulai meminta sumbangan dan menggugah kantong peserta. “Kalau kantor ini selesai nanti kita training tidak perlu menyewa hotel lagi, karena sudah ada tempatnya. Dan lantai 25 adalah mushalla, tempatnya orang salat, bertasbih dan istigfar,” kata Ary Ginajar. Sebagian peserta sudah ada yang mengisi formulir itu dan menulis nominalnya. Minimal uang yang disodorkan sebesar Rp 1 juta. “Untuk mahasiswa bisa utang,” kata Ary, mencoba menjelaskan terhadap paserta yang mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir yang sudah diisi, langsung disetorkan kepada panitia. Tapi penulis tidak tahu berapa jumlah semuanya uang yang dikumpulkan dari 900-an orang peserta. “Kalau ikut pelatihan ini berarti dapat petunjuk,” ujar Ary Ginanjar. Menurut hemat penulis mana ada dengan waktu yang sangat singkat sekali orang bisa dapat petunjuk dari Allah, orang bisa menangis, orang bisa sadar apalagi hanya beberapa jam saja. Apalagi yang melatih (maaf) menurut penulis cara menafsirkan Al-Quran sangat instan sekali, tidak memahami Asbabul Nuzul, dan mengartikan Asmaul Husna ambil apa adanya, seperti membaca buku diterjemahan-terjemahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori tradisional, teori pesantren, orang yang mengartikan Al-Quran harus memahami ilmu balaghah, ilmu mantiq, juga nahwu-sharaf sebagai kerangka metodelogi pemaknaan-pemaknaan Al-Quran. Termasuk juga harus memahami azbabul nuzul dan ilmu tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU,No.10/Thn II/1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-4879468410102827570?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/4879468410102827570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=4879468410102827570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4879468410102827570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4879468410102827570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/cara-melahirkan-sufi-moderen.html' title='Cara Melahirkan ‘Sufi’ Moderen'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-1647663096166317772</id><published>2008-10-26T04:19:00.000-07:00</published><updated>2009-02-13T07:22:43.831-08:00</updated><title type='text'>Mudik, Mempertegas solidaritas Sosial</title><content type='html'>Oleh: Mashudi Umar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha yang dirayakan setiap tahun atau setiap bulan Syawal setelah sebulan umat Muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Menjelang Idul Fitri, atau akrab disebut lebaran, jutaan orang yang berada di kota-kota mulai berduyun-duyun pulang ke kampung halaman masing-masing. Mudik, itulah istilah yang dipakai untuk menandai fenomena menjelang lebaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik yang berasal dari istilah Betawi ini, dulunya dianggap ungkapan yang memalukan.&lt;br /&gt;Pada tahun 1950-an, anak-anak sekolah dasar di Jakarta selalu merasa malu kalau dikatakan orang&lt;em&gt; udik&lt;/em&gt; (hulu), (Kontowijoyo: 1993). Soalnya itu artinya ia diejek sebagai orang desa atau orang yang kampungan. Namun, sekarang, mudik menjadi kebanggaan tersendiri. Terbukti, jutaan saudara kita memadati angkutan umum sampai-sampai pemerintah harus mengadakan perhelatan nasional untuk urusan ini. Sejumlah bus cadangan dioperasionalkan, kapal-kapal perang disulap jadi angkutan umum. Pengertian mudik jarang ditujukan kepada orang kota yang pulang ke kota juga. Mudik seolah sudah menjadi ritus budaya yang begitu mentradisi dalam masyarakat kita. Fenomena mudik berhubungan erat dengan perayaan Idul Fitri atau lebaran yang berpuasa sebulan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi ritus budaya, mudik biasanya ditandai dua hal, pertama, mudik menjadi kebutuhan primer tahunan masyarakat urban. Kedua, kendati punya hubungan waktu dengan Idul Fitri yang notabene ritual Islam, mudik juga melibatkan hampir semua lapisan masyarakat (umat), termasuk non-Muslim. Mudik sudah berubah menjadi tradisi budaya yang dipunyai segala kelas sosial dalam masyarakat. Tradisi mudik dijadikan sebagai wahana jembatan nostalgia dengan masa lampau (Kontowijoyo: 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi sosial di perkotaan (tempat mereka mengais rezeki) berbeda 180 derajat dengan solidaritas sosial yang dibangun di pedesaan yang lebih mengedepankan ikatan emosional, moralitas dan kekerabatan. Model solidaritas masyarakat perkotaan cenderung didasarkan pada relasi pekerjaan dan kepentingan, khususnya interes ekonomi. Kompetisi sebagai orang kota membawa kelelahan serta kesumpekan yang luar biasa beratnya. Maka, mudik menjadi ajang melepas kelelahan serta kesumpekan tersebut. Di dalam momen mudik itu, misalnya dilakukan ziarah kubur, di mana di sini relasi dengan masa lampau dicoba dibangun kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bisa dipahami, meski saat perjalanan mudik menemui kesengsaraan, tapi semua itu seolah tak pernah menyurutkan maksud mereka untuk mudik ke kampung asal. Kaum pemudik itu malahan menunggu momentum penting tersebut. Mereka hendak berbagi kegembiraan pada hari perayaan Idul Fitri itu bersama keluarga, saudara, dan kerabat semasa kecil di kampung asal. Spirit itulah yang membuat tradisi mudik tersebut berlangsung sampai sekarang. Karenanya, mudik dan lebaran Idul Fitri lazimnya dijadikan sebagai ajang berbagi kegembiraan antar sesama umat manusia terutama bagi mereka yang mampu dengan mereka yang tidak mampu atau mereka yang tergolong kaya dengan mereka yang miskin sebagai sebuah bentuk perayaan atas kemenangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran Idul Fitri karena berbarengan dengan kewajiban menunaikan zakat, maka relatif sedikit dimaknai oleh masyarakat sebagai momentum keagamaan atau momentum kesucian untuk berbagi dengan fakir miskin. Lihat misalnya artis, selebritis, pengusaha, legislatif, eksekutif dan orang-orang yang sukses ketika pulang kerumah asal. Mereka berbaur dan berbagi rezeki dengan masyarakat yang tidak mampu. Akan tetapi belakangan ini, momentum suci ini tercederai oleh budaya modern yang mengedepankan penampilan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran cenderung dimaknai dan diimplementasikan sebagai ajang “pamer” dan ajang mempertontonkan barang-barang yang serba baru. Maka ketika jelang lebaran datang misalnya, masjid-masjid sudah mulai mengalami kekurangan jama’ah, sebab yang terjadi adalah pergeseran aktivitas masyarakat dari masjid ke tempat pusat-pusat perbelanjaan seperti mal-mal besar, supermaket dan pasar tradisional. Tujuannya tentunya tidak lain dan tidak bukan untuk mengonsumsi barang-barang baru untuk diperagakan di hari lebaran nantinya.&lt;br /&gt;Perilaku yang demikian tentunya tidak salah secara keseluruhan, karena, ketika memang itu menjadi sebuah kebutuhan maka bukanlah masuk dalam sikap yang konsumtivisme, akan tetapi ketika mereka mengkonsumsi barang yang serba baru tersebut bukan berdasarkan logika kebutuhan, maka di situlah praktik konsumtivisme itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, belakangan ini, mudik yang awalnya sesuai dengan tradisi silaturrahmi kerap berubah tujuan. Mudik menjadi ajang pamer harta. Sebagian besar calon pemudik mengakui terus terang, rencananya akan membawa sejumlah harta benda, baik berupa uang ataupun barang (termasuk kendaraan), tatkala mudik. Padahal, sebenarnya, bila diutamakan aspek silaturrahmi yang terkandung dalam makna mudik, ia bisa bermakna positif dalam memperluas rezeki. Sebab, saat silaturrahmi, timbul rasa kasih sayang dan kesamaan visi atau membangun komitmen hidup untuk saling menolong, bahkan lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sebelumnya didahului dengan berpuasa, di mana ia merupakan sarana/ajang melatih diri untuk menahan perilaku yang merusak jalinan persaudaraan semisal menghina, melecehkan, memfitnah dan lainnya. Walhasil, semua pihak dari kelas sosial manapun yang mudik dan akan merayakan lebaran Idul Fitri diharapkan untuk memanfaatkan ajang itu dalam rangka mempererat solidaritas sosial dan tali silaturrahmi kepada saudara, kolega, teman, mitra bisnis ataupun lawan dan antar umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, kita harus membetulkan niat diri (&lt;em&gt;nawaitu&lt;/em&gt;) dan perilaku kita sebelum mudik, sehingga menghasilkan kualitas jalinan persaudaraan sejati. Jagalah hati, jangan dikotori dengan hal-hal negatif misalnya dengan sikap pamer harta, sombong, arogan dan semacamnya, sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an, “janganlah kamu sombong di atas bumi”, (&lt;em&gt;wala tamsyi fi al-ardhi maraha&lt;/em&gt;). Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis Adalah Pemerhati Sosial Keagamaan &amp;amp; Dewan Redaksi Majalah Risalah PBNU Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Telah dipublikasikan di Majalah PEMDA Pamekasan Jawa Timur)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-1647663096166317772?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/1647663096166317772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=1647663096166317772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1647663096166317772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/1647663096166317772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/mudik-eratkan-persaudaraan-sejati.html' title='Mudik, Mempertegas solidaritas Sosial'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2110008921370411181</id><published>2008-10-25T10:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:15:23.784-07:00</updated><title type='text'>Perebutan Wacana di “Republik” NU</title><content type='html'>Judul Buku: Pergolakan di Jantung Tradisi: NU yang Saya Amati&lt;br /&gt;Penulis: As’ad Said Ali&lt;br /&gt;Pengantar: Dr KH Sahal Mahfudz&lt;br /&gt;Penerbit: LP3ES, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2008&lt;br /&gt;Tebal: (xxiv + 264) halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivitas pemikiran kalangan muda dan dinamika yang terjadi di kalangan ulama Nahdlatul Ulama (NU) belakangan ini mungkin tidak terbayangkan oleh KH Ahmad Siddiq, saat pertama merumuskan pentingnya kembali ke Khittah 1926. Saat itu, KH Ahmad Siddiq hanya memimpikan para ulama mendidik santrinya tidak hanya menjadi muqallid a’ma (pengikut buta), tetapi untuk menjadi muqallid lebih baik. Harapan itu sekarang sudah terlampaui, tidak hanaya menjadi muqallid yang lebih baik, tetapi merambah lebih jauh, yaitu mengeksplorasi pendekatan manhaji (metodelogis) dalam meneropong berbagai persoalan kontemporer. Kesan jumud dan antikamajuan yang selama ini melekat pada jamiyyah nahdliyyah, dengan sendirinya terhapus oleh dinamika perkembangan NU selama lebih dari dua dekade belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan seperti ini tidak dihasilkan secara mudah. Perjuangan gigih KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada pertengahan dekade 1980-an dalam meletakkan NU, sebagaimana perjuangan KH Hasyim Asy’ari pada 1926, memberi andil penting dalam mempersiapkan perubahan-perubahan yang terjadi sebelumnya. Doktrin Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi napas organisasi dengan sadar, tidak pernah dikesampingkan, malah diperkukuh dengan memberi visi baru. Dan, muatan baru itu bermula dari gagasan sederhana, bagaimana melakukan kontekstualisasi ajaran-ajaran Islam klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti memahami definisi fikih sebagai, “al-ilmu bi al-ahkam al-syar’iyah al-amaliyah al-muktasab min adillatiha al-tafshiliyyah” (mengetahui hukum syar’i amaliah yang di gali dari petunjuk-petunjuk yang bersifat global), fikih memiliki peluang yang sangat luas untuk berjalan seiring dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, paradigma fikih sosial harus didasarkan atas keyakinan bahwa fikih harus dibaca dalam konteks pemecahan dan pemenuhan tiga jenis kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan dlaruriyah (primer), kebutuhan hajjiyah (sekunder) dan kebutuhan tahsiniyah (terseir). Fikih sosial bukan sekedar alat melihat setiap peristiwa dari kacamata hitam-putih sebagaimana cara pandang fikih yang lazim kita temukan, tetapi fikih sosial juga menjadikan fikih sebagai paradigma pemaknaan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kemajuan yang muncul di kalangan muda NU memang semacam konsekuensi yang tidak bisa terhindarkan. Dekade 1980-an adalah awal dari “panen raya” kalangan intelektual di lingkungan NU. Generasi baru yang berpendidikan ganda ini tidak sepenuhnya mampu diserap dalam lingkungan NU yang masih didominasi kalangan ulama tua. Mereka kemudian mencari jalan lain, dengan beraktivitas dalam gerakan mahasiswa, gerakan lembaga swadaya masyarakat dan lainnya. Perkenalan dengan dunia luar pesantren itu ternyata cukup banyak mengubah struktur berpikir kalangan muda NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan kalangan muda NU dengan gagasan, agenda dan jaringan di luar pesantren dan NU itu, pada akhirnya melahirkan apa yang mereka sebut sebagai gerakan “kultural”. Suatu gerakan yang berbasis pada pengembangan pemikiran dan pemberdayaan masyarakat akar rumput. Dalam kerangka gerakan, agenda aksinya tersusun berdasarkan pemikiran yang lebih konsepsional dalam melakukan pemberdayaan terhadap berbagai masalah mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, lahir gagasan Islam Trasformatif, Islam Liberal, The Wahid Institute, Rahima, Islam Emansipatoris hingga pada gagasan Islam Postradisionalis, dan lain-lain. Dari komunitas kultural itu, lalu muncul tokoh-tokoh muda brilian dan intelektual seperti Abdul Moqsith Ghazali, Rumadi, Ulil Absar Abdallah, Achmad Suaedy, Abdul Mun’im, Zuhairi Misrawi, Imam Aziz, Imdadun Rahmat, Khamami Zada, Marzuki Wahid, dan lain-lain. Ketika gagasan itu semakin matang, dan kritis benturan langsung dengan pemikiran tradisional ulama NU yang sudah terpatri sebelumnya tidak bisa dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan itu terjadi karena sejak awal gerakan kultural merupakan perlawanan “diam-diam” kalangan muda terhadap kecenderungan umum NU saat itu yang sangat tergoda dengan kehidupan politik. Dalam persepsi mereka, Khittah NU 1926 semestinya menghentikan NU dari kecendrungan politik praktis dan mengkonsentrasikan sepenuhnya pada gerakan keagamaan dan kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, impian ini tidak mudah diwujudkan, dunia politik bagaimana pun tetap memesona. Sejumlah aktivis NU mendapat peluang lebih besar pascakeputusan Khittah 1926 dengan berkiprah pada sejumlah partai politik. Sementara, NU sendiri pernah diletakkan Gus Dur sebagai kekuatan semi oposisi pada masa akhir Orde Baru. Puncaknya, pada masa reformasi, Pengurus Besar NU pernah memfasilitasi terbentuknya sebuah partai politik baru dan NU struktural harus bersusah payah membela Gus Dur tatkala menjadi presiden. Jadi, berpolitik memang seakan kegiatan yang tak kenal lelah, baik yang dilakukan “NU politik” maupun—terkadang—NU struktural”, walaupun tentu dengan modes operandi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah membuncahnya aktivitas politik itu, institusi NU seringkali menjadi “korban”. Pemilihan kepala daerah, baik Jawa Timur maupun Jawa Tengah, menjadi fakta, semua pihak merebut suara NU. Bahkan, di Jawa Timur, kader NU potensial sama-sama masuk putaran kedua yaitu, Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum (nonaktif) Pengurus Pusat Muslimat NU, Calon Gubernur, dan Saifullah Yusuf, Ketua Umum (nonaktif) Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor, sebagai Calon Wakil Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan inilah yang dilawan gerakan kultural. Mereka meletakkan gerakannya sebagai alternatif dari gerakan “NU struktural” maupun “NU politik” yang dianggap mudah membelokkan NU menjadi kekuatan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekarang NU pada dasarnya mempunyai tiga aset penting selain para ulama. Pertama, adalah kalangan terpelajar dan intelektual yang sedang giat menekuni pemikiran keagamaan. Dan, bagaimana menjaga aset ini agar tidak terlepas dan tercerai-berai, apalagi direbut kelompok Islam transnasional, harus tetap menjadikan NU sebagai rumah besar mereka. Kedua adalah kalangan pengusaha dan ketiga adalah politisi yang tersebar di berbagai partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat “inside NU” atau “what’s right with NU” sangat tepat untuk mengapresiasi buku ini. Sebuah buku yang sangat komprehensif dalam membedah jeroan NU, terutama pergolakan pemikiran yang telah dan sedang terjadi di kalangan generasi muda NU. Pemetaan yang brilian, cerdas dan lugas telah dihadirkan As’ad Said Ali, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang tidak hanya menyoroti dimensi siyasah (politik), tsaqafah (budaya) dan fiqrah (pemikiran), akan tetapi juga dimensi yang sangat mendesak untuk diprioritaskan, yaitu istishadiyah (perekonomian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan anak muda NU dalam berinteraksi dengan neoliberalisme juga terpapar dengan gamplang dalam buku ini. Juga menghadirkan pengamatan cermat tentang perubahan besar yang terjadi pada jantung tradisi NU sebagai buah perubahan di “dunia dalam” dan “dunia luar” yang membawa sintesis kreatif antara tradisi dan inovasi. Sebuah buku penting tentang peta ke-NU-an, ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an.&lt;br /&gt;Peresensi adalah Alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di NU Online, www.nu.or.id, tanggal 25/08/08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2110008921370411181?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2110008921370411181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2110008921370411181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2110008921370411181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2110008921370411181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/perebutan-wacana-di-republik-nu.html' title='Perebutan Wacana di “Republik” NU'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-4881712617234043735</id><published>2008-10-25T10:05:00.000-07:00</published><updated>2009-01-20T07:37:27.711-08:00</updated><title type='text'>“Pangeran Sufi Bertutur”</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXvo6pCa7I/AAAAAAAAAD8/PnTVJRaoX40/s1600-h/pangeran+sufi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293400423259073458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 193px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXvo6pCa7I/AAAAAAAAAD8/PnTVJRaoX40/s200/pangeran+sufi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul Buku : Mutiara Agung Pangeran Sufi Al-Junaid Al-Bagdhady&lt;br /&gt;Penulis : KH. Moh. Lukman Hakim&lt;br /&gt;Penerbit : Cahaya Sufi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, April 2008&lt;br /&gt;Tebal : (xix + 317) halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Mashudi Umar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf sesungguhnya bukan sesuatu penyikapan yang pasif atau apatis terhadap kenyataa sosial. sebaliknya seperti di teguhkan oleh Dr. Abu Al-Alaf Afifi dalam studinya tentang taswuf Islam klasik, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah revolusi moral spritual dalam masyarakat. Dan bukankah moral spritual ini merupakan ethical basis atau al-asisayatu-akhlaqiyah bagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan? Kaum sufi adalah kelompok garda depan ditengah masyarakatnya. Mereka seringkali memimpin gerakan penyadaran akan adanya penindasan dan penyimpangan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu tasawuf juga merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia kedalam harmoni dan keseimbangan total. Metode ini bertumpu pada basis keharmonisan dan pada kesatuan dengan totalitas alam. Dengan demikian, perilakunya tampak sebagai manefistasi cinta dan kepuasaan dalam segala hal. Bertasawuf yang benar berarti sebuah pedidikan bagi kecerdasan emosi dan spritual –kini dikenal dengan ESQ-. Intinya adalah belajar untuk tetap mengikuti tuntuntan agama, entah itu berhadapan musibah, keberuntungan, kedengkian orang lain, kaya, miskin, atau dalam kondisi pengendalian diri atau pengembangan potensi diri. Sufi-sufi besar seperti Rabi’ah Al-Adawiyah, Al-Ghazali, Sirri Al-Siqthi, Asad Al-Muhasabi dan Junaid Al-Bagdadi, telah memberikan tauladan kepada umat bagaimana pendidikan yang baik itu. Di antaranya berproses menuju perbaikan diri dan pribadi yang pada gilirannya akan menggapai puncak makrifatullah, yakni sang khaliq sebagai ujung terminal perjalanan manusia dipermukaan bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata tasawuf makin banyak dikenal orang sejak periode Hasan al Basri, putra kelahiran Madinah tahun 21 H / 642M dan wafat pada tahun 729 M. Pada tahun 37 H, setahun setelah perang Shiffin, ia pindah ke Basrah. Di sini ia memulai karirnya sebagai ulama, seorang zahid yang yang sangat berpengaruh. Para ulama tasawuf berpendapat, Hasan Basrilah orang pertama yang mengajarkan ilmu tasawuf yang melambangkan awal sikap asketik dan mengkritisi pemerintahan yang dzalim, karena telah larut dan basah oleh kehidupan dunia dan kering kerontang pada kehidupan akhirat. Motivasi itu disebabkan kemenangan umat Islam yang gilang gemilang pada tahun 711 M, tanpa diimbangi tempaan batin untuk tetap memelihara sikap kemanusiaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai abad pertengahan dalam mekanisme penyebaran Islam, kehidupan tasawuf semakin memuncak dan mengalami kemasyhuran, sehingga bermunculan tokoh-tokoh spektakuler semisal al-Hallaj yang menerima eksekusi pancung di tahun 309 H. Imam al-Ghazali, sebagai tokoh yang dijadikan acuan para sufi moderat. Al- Ummi, Abdul Qadir jailani, Ibnu Arabi, adalah menjadi bukti bahwa dimensi spritual lebih menarik para pelakunya ketimbang ilmu lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman sufi yang sesungguhnya menjadi sangat menarik ditengah-tengah komersialisasi komunitas sufi diperkotaan bahkan tidak sega-segan untuk meng”komuditas” terhadap Tuhan, untuk dijadikan bisnis miliyaran khususnya di Jakarta. Penulis menyarankan kepada seluruh masyarakat khususnya masyarakat perkotaan untuk hati-hati terhadap model “bisnis spritual-sufi” dengan topeng training, workshop atau pertemuan yang harus mengganti kontribusi jutaan rupiah hanya untuk mencapai ma’rifatullah atau ketenangan jiwa dengan waktu yang sangat singkat, apalagi pembimbingnya tidak kapabel, tidak alim terhadap profesi tersebut. Carilah guru yang sesungguhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dibagi menjadi tiga bab yang berkaitan dengan aktivitas dan ketokohan Junaid Al-Bagdhadi yang dilahirkan di kota Irak. Mutiara Agung Pangeran Sufi menjelaskan beberapa hal diantaranya tentang tauhid, taubat, uzlah, gelombang nafsu, dalam perspektif sufi al-Junaid, dll.&lt;br /&gt;Sementara itu, pada konteks studi-studi orientalis dalam hal ini al-Junaid menempati posisi pemikiran yang senantiasa di anggap “misteri” yang dalam. Berbagai metode dilakukan untuk membuka tirai agar bisa mengulas perkembangan pemikiran kaum sufi dalam lingkaran tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kehidupan al-Junaid di Baghdad tidak semulus ketokohannya. Seringkali ia dikejar dan ditangkap, karena dituduh sebagai pelaku kekufuran dan kezindiqan. Ini juga menimpa al-Hallaj, murid al-Junaid dalam eksekusi kematian dan penyaliban, karena ia telah memperkenalkan publikasi rahasia-rahasia spritual. Apalagi pandangan al-Hallaj yang di salah pahami oleh khalayak seputar wujud rabbany dan wujud insany yang mendorong masyarakat terjerumus dalam pandangan “serba boleh”, yang ini merupakan pandangan kalangan yang mewenangkan segala yang haram dan mengabaikan hukum-hukum syariat melalui metode ketiadaan dan ketidakwujudan mereka kemudian disebut ahlul ibahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah realitas itu, bagaimana al-Junaid mampu mengintegrasikan norma yang berbeda-beda tersebut dalam relevansi tasawuf dan doktrin Islam? Bagaimana ia melepaskan diri yang tidak bisa dilakukan oleh al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Busthami ataupun ahlul ibahah (liberalis kebatinan) seperti Rabah dan Kulaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Syekh al-Junaid al-Bagdhadi bagi kalangan umat Islam khususnya warga NU adalah tokoh pemuka, pangeran sekaligus “burung merak” yang indah nan agung dari kalangan mereka. Ia adalah pemimpin kaum sufi di zamannya sekaligus menjadi panutan berabad-abad bagi kekuatan umat Islam seluruh dunia. Ia adalah simbol para wali di zamannya sekaligus pahlawan kaum yang telah menggapai tahap makrifatullah. Ia berguru kepada para ulama dan pakar sufi, sepert Al-Muhasiby, Adz-Dzary, Abu Sa’id Al-Kharraz dan ulama besar yang lain. Ia juga melahirkan murid yang terkenal seperti Asy-Syibli dan al-Hallaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junaid mengatakan, apabila kefana’an wujud hamba yang manunggal menuju wujud yang haq, terkadang menyeret pada istilah hulul dan ittihad. Maka ia membuat paradigma kebenaran bahwa fana tersebut adalah fana dalam Allah melaluinya kembalinya hamba yang manunggal kepada al-baqa’ setelah mengalami al-fana’ dan kembali pada al-khudur setelah mengalami al-ghaibah (hal 137). Tahap ini menurut dia adalah tahap kesadaran, sehingga hamba yang manunggal kembali kepada wujud semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukman Hakim, tokoh NU yang berprofesi sebagai seorang sufiolog -orang memberikan nama-, karena ia mempunyai komunitas sufi di Jabotabek yang berjumlah satu juta orang tiap paguyuban / tempat, bahkan melebar ke Surabaya dan Malang, pengumpul sekaligus menyimpulkan buku ini dari majalah Sufi yang dia pimpin sendiri, mencoba menguraikan tokoh sufi yaitu Junaid Al-Bagdhadi atas beberapa tutur-kata dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Buku ini sangat penting untuk dijadikan referensi, baik sebagai pemimpin, jama’ah maupun pelaku sufi itu sendiri karena menambah pengetahuan dan wawasan tentang makna dan aplikasi tasawuf-sufi. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No. 10/thn II/1429 H)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-4881712617234043735?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/4881712617234043735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=4881712617234043735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4881712617234043735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/4881712617234043735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/pangeran-sufi-bertutur.html' title='“Pangeran Sufi Bertutur”'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXvo6pCa7I/AAAAAAAAAD8/PnTVJRaoX40/s72-c/pangeran+sufi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-3279990023983684278</id><published>2008-10-25T09:59:00.001-07:00</published><updated>2008-10-26T04:17:21.936-07:00</updated><title type='text'>Fatimah Binti Khattab; Perempuan Yang Ikut Membesarkan Dunia Islam</title><content type='html'>Fatimah Binti Khattab Bin Naufal Al-Quraisyi adalah saudara perempuan Al-Faruq Umar Bin Khattab. Ia termasuk wanita angkatan pertama yang berbaiat kepada Rasulullah. Ia memeluk Islam sebelum saudara lelakinya masuk Islam. Tapi ia selalu menyembunyikan keIslamannya dari saudara lakinya yang bengis waktu itu. Ia hidup berkhidmat kepada dakwah Islam, dan dalam berkhidmat dia mengalami banyak peristiwa. Khabab Bin Al-Arat berungkali mengajari Fatimah dan Sa’ad Bin Zaid (suaminya) membaca al-Qur’an. Dengan tekun Khabab memberikan hafal-hafalan ayat-ayat Allah. Ia bacakan, lalu mereka menirukan , hingga kemudioan hafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar menceritakan tentang peristiwa masuk Islamnya Umar Bin Khattab sebagai berikut: Pada suatu hari Umar Bin Khattab pergi dengan menghunus pedang untuk membunuh Rasulullah. Ditengan jalan, ia bertemu dengan seorang laki-laki dari golongan Bani Zahrah, kemudian menanyakan hendak kemana tujuan Umar pergi? Lalu Umar mengatakan bahwa ia bermaksud hendak membunuh Muhammad Bin Abdillah. Mendengar jawaban Umar, lelaki tersebut memperingatkan Umar bahwa Bani Hasyim dan Bani Zahrah akan memberikan pembalasan yang lebih kejam, bila sampai membunuh Muhammad. Lalu lelaki itu mengalihkan pembicaran kepada masalah yang sangat ajaib yang perlu Umar pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Umar menanyakan masalah yang dirasa ajaib itu. Lantas ia menjawab, “Wahai Umar, sebaiknya anda pergi saja menemui saudara perempuanmu dan suaminya. Karena mereka telah meninggalkan agama nenek moyangnya, dan beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar tersebut, Umar segera mengubah tujuan, pergi kerumah saudara perempuannya. Setelah sampai dirumah Fatimah ternyata disana ada Khabab Bin Al-Arat. Mengetahui Umar datang, Khabab langsung bersembunyi. Lalu Umar menanyakan suara yang didengarnya dari luar pintu. Fatimah segera mengambil lembaran yang berisi ayat-ayat al-Qur’an, dan menyembunyikan kedalam sakunya. Lalu Fatimah dan suaminya bertanya kepada umar, ”Ya Umar, adakah engkau mendengar sesuatu?” Jawab Umar, ”Demi Tuhan, aku telah mendengar kabar, bahwa kamu berdua telah mengikuti agama Muhammad.” Lantas Umar memukul Sa’ad (adik iparnya). Fatimah segera berdiri menghalangi, tetapi ia malah dipukul juga, hingga terluka dan berdarah mukanya. Spontan Fatimah dan Sa’ad menyampaikan pernyataan dihadapan Umar, bahwa mereka telah masuk Islam serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan kepada Umar mereka mempersilahkan untuk berbuat apa saja terhadap diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat darah mengalir diwajah adiknya, Umar merasa menyesal, lalu berkata kepada mereka, ”berikan kepadaku lembaran yang kalian baca tadi, agar aku dapat melihat apa yang dibawa Muhammad.” Jawab Fatimah, ” Kami takut engkau berbuat kasar terhadapnya.” Lalu Umar berkata, ” Jangan takut. Aku tidak akan berbuat sesuatu.” Umar pun kembali bersumpah dengan menyebut nama-nama berhala, bahwa ia akan mengembalikan tulisan tersebut setelah dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Umar mengucapkan sumpah atas nama berhala, timbullah keinginan dari Fatimah, agar kakaknya masuk Islam. lalu ia berkata, wahai saudarku! Sesungguhnya engkau najis lantaran kesyirikanmu, sedangkan lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali orang-orang yang suci. Oleh karena itu mandilah lebih dahulu sebelum engkau menyentuh lembaran ini.” kemudian Umar memenuhi apa yang menjadi perintah adiknya. Ia langsung mandi. Setelah selesai mandi, lalu fatimah memberikan Shahifah kepada Umar. Dan ternyata dalam lembaran itu terdapat tulisan al-Qur’an yang terjemahannya sebagai berikut: ”Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, yakni diturunkan dari Allah yang menciptakan dari bumi dan langit yang tinggi. Yakni Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy. kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi , semua yang ada diantara keduanya, dan semua yang ada di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha: 1-8). Setelah selesai membaca teks ayat-ayat al-Qur’an yang berada dalam lembaran yang diberikan oleh Fatimah, lalu Umar berkata, ”alangkah indah dan mulianya kalam ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar Umar, bahwa lembaran yang dibaca berisikan sesuatu yang indah lagi mulia, Khabab Bin Al-Araq kemudian segera keluar dari persembunyiaannya. Ia bersembunyi karena takut di hajar Umar Bin Khattab. Lalu ia berkata, ”Ya Umar, demi Allah sungguh aku sangat mengharapkan engkau menjadi orang yang diistiwamakan Allah lantaran doa Rasulullah. Sebab kemarin aku telah mendengar beliau berdoa; ” Allahumma Ayyidil Islama Bi Abil Hakam Ibni Hisyam Au Bi Umar Ibnil Khattab; (Ya Allah perkuatlah Islam dengan Abil Hakam Bin Hisyam (Abu Jahal) atau Dengan Umar Bin Khathab.” karena itu, bertakwalah kamu kepada Allah, wahai Umar.” lalu Umar berkata,” Wahai Khabab tunjukkanlah kepadaku dimana Muhammad berada. Aku akan masuk Islam.” Jawab Khabab,”Beliau sedang berada disebuah rumah di dekat sahafa bersama beberapa orang sahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar lalu menyarungkan pedangnya dan pergi menemui Rasulullah. Setelah sampai kepada tempat yang dituju, Umar segera mengetuk pintu, berdirilah seorang sahabat meengintip dari celah-celah pintu. Dan ternyata yang berada diluar adalah Umar Bin Khattab sambil menyandang pedang. Lalu ia kembali kepada Rasulullah dengan perasaan takut, seraya berkata, ”Ya Rasulullah, yang ada diluar adalah Umar Bin Khathab. Ia menyandang pedang.” Lalu Hamzah Bin Abdul Muthallib berkata, persilahkan ia masuk.” bila ia bermaksud baik, maka kita sambut dengan baik. Dan bila dia bermaksud jahat, maka kita bunuh ia dengan pedangnya sendiri.” Lantas Rasulullah bersabda, ” Izinkan Umar masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah memberikan izin, Umar Bin Khattab segera dipersilahkan masuk dan beliau temui di beranda. Lalu ia memegang tali celana atau selendang, kemudian mengikat erat-erat, seraya berkata, ”Wahai putra al-Khattab, apakah yang mengantarkan dirimu kemari?” Umar menjawab, ya Rasulullah, aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta semua ajaran yang datang dari sisi Allah.” mendengar jawaban Umar, Rasulullah langsung bertakbir, hingga seluruh penghuni rumah itu (para sahabat) mengetahui, bahwa Umar telah memeluk Islam. kemudian berpencarlah para sahabat, dan mereka merasa bangga setelah Hamzah dan Umar masuk Islam. Mereka tahu, bahwa kedua orang ini akan menjadi pembela dan pelindung Rasulullah dari gangguan dan serangan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu kisah masuknya Islam singa padang pasir -orang menyebutnya terhadap Umar Bin Khattab-. Ia tergugah hatinya, lantaran membaca kalam Ilahi, berkat bimbingan adik kandungnya Fatimah bin Khattab. Ia tidak malu-malu berlutut di hadapan Rasulullah menyatakan keIslamannya. Kalau dulu pedangnya selalu terhunus untuk mengahmpiri leher pendukung-pendukung Muhammad, kini terhunus untuk memangal kepada setiap orang yang berani mengahalangi dakwah Islam. Karena itu, ia mendapat gelar al-Faruq (pemisah yang hak dan yang batil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah Binti Khattab termasuk wanita yang dikarunia usia panjang. Ia masih berkesempatan menyaksikan kakak kandungnya menjadi khalifah yang menggantikan Abu Bakar Shidiq. Fatimah termasuk salah seorang diantara sepuluh orang yang mula-mula masuk Islam serta menganjurkan kaum wanita Quraisy untuk mengikuti jejak kakaknya. Sampai akhirnya banyak wanita dan laki-laki Quraisy yang masuk Islam karenanya. Fatimah juga seorang sastrawati yang andal, cerdas dan sangat mencintai kebajikan. Ia telah berhasil meluluhkan kakak kandungnya yang keras bagai batu karang, yang atas bimbingannya kemudian menyatakan masuk Islam. &lt;em&gt;Wallahu A’lam Bi As-Shawab&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No.10/thn II/1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-3279990023983684278?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/3279990023983684278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=3279990023983684278' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3279990023983684278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/3279990023983684278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/fatimah-binti-khattab-perempuan-yang.html' title='Fatimah Binti Khattab; Perempuan Yang Ikut Membesarkan Dunia Islam'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-6511035558490415133</id><published>2008-10-25T09:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:17:51.814-07:00</updated><title type='text'>Kiai As'ad Syamsul Arifin; Inspirator Asas Pancasila</title><content type='html'>As’ad kecil lahir pada tahun 1897 M di sebuah perkampungan Syi’ib Ali dekat Masjidil Haram Mekah. Setalah ia besar, lalu diboyong ke tanah air oleh sang ayah Raden Ibrahim atau dikenal dengan Kiai Syamsul Arifin. Di Indonesia, ia tumbuh menjadi ulama besar yang sangat disegani di kancah pertarungan ideologi nasional yang cukup mewarnai kemudian dikenal dengan nama KHR. As’ad Syamsul Arifin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan warga NU -waktu itu-, ketika mulai ramai perbincangan mengenai konflik MI-NU dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membaranya api membicarakan soal rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi sosial politik maupun kemasyarakatan, tiba-tiba di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo berkumpul ratusan ulama NU untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas). Ini terjadi pada tanggal 18-21 Desember 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, di saat semua ormas Islam banyak menolak asas Pancasila, Munas tersebut justru menerimanya dan menganggapnya bertentangan dengan akidah Islam. Munas juga memutuskan mengembalikan NU ke garis dan landasan perjuangan asalnya, yang kemudian pupoler dengan sebutan kembali ke Khittah 1926. Semua peran itu tidak lepas dari ide brilian Kiai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU yang kala itu tercabik-cabik oleh banyak kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun rumusan Khittah 1926 hasil Munas Situbondo 1983, pertama, mengembalikan aktivitas NU dari bidang politik ke bidang asalnya, yakni bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Terlalu lama NU berkecimpung didunia politik praktis (sejak 1955-1982), hingga garapan pokoknya terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menyerahkan sepenuhnya kepada warga NU dalam menyalurkan aspirasi politiknya, apakah ke golkar, PPP maupun PDI –waktu itu- yang memang dipandang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membenahi organisasi, setelah terperangkat dalam kemelut intern sesuai Munas Alim Ulama di Kali Urang, Yogyakarta tahun 1981, yang melahirkan dua kubu yaitu Cipete dan Situbondo. Pembenahan bidang ini kemudian terbukti dengan terjadinya rekonsiliasi 10 September tahun 1984 di kediaman KH. Hasyim Latif, Sepanjang, Sidoarjo.&lt;br /&gt;Faedah kembalinya NU ke Khittah 1926, disamping rumusan-rumusan di atas, juga mengangkat peran ulama dalam lembaga, seperti Mustasyar dan Syuri’ah, sebagai lembaga tertinggi dalam kepemimpinan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai As’ad yang pada sidang pleno Munas memberikan pengarahan yang dibacakan KH. Imran Rosyadi, sebagai berikut: “NU tanpa ulama adalah bukan NU lagi atau NU tanpa mayoritas ulama dalam kepemimpinan tertingginya adalah bukan kepemimpinan NU lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya inti dari pengarahan Kiai As’ad itu terangkum dalam keputusan Muktamar NU ke 27 sebagai berikut: “Pada dasarnya NU adalah Jam’iyah Diniyah yang membawa faham keagamaan, maka ulama sebagai mata rantai pembawa faham ahlussunnah wal jamaah, selalu ditempatkan sebagai pengelola, pengendali, pengawas dan pembimbing utama jalannya organisasi”. Keputusan-keputusan brilian dan fundamental ditingkat NU semacam itu, muncul dari Pesantren Sukorejo -orang menyebutnya- yang diasuh oleh Kiai As’ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khittah NU itu dirumuskan sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertingkah laku bagi warga NU di semua jenjang dan dalam kegiatan organisasi serta setiap dalam pengambilan keputusan. Landasan tersebut diambil dari intisari cita-cita dasar berdirinya NU, yakni sebagai dasar berkhidmat yang semata-mata dilandasi oleh niat beribadah kepada Allah SWT. Walaupun demikian, Kiai As’ad tidak pernah menduduki jabatan formal di NU. Ia hanya jadi Mustasyar PBNU setelah jadi tuan rumah Munas Alim Ulama dan Muktamar NU yang ke 27 yang bertempat di pesantrennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ke-NU-an, Kiai As’ad merupakan satu-satunya orang yang ditunjuk oleh muktamar NU ke-27 untuk menyusun ahl al-halli wa al-aqdi yang mempunyai otoritas penuh untuk selanjutnya membentuk kepengurusan PBNU setelah NU kembali ke khittah 26, dimana Abdurrahman Wahid menjabat ketua umum PBNU pertama kalinya bersanding dengan KH. Achmad Siddiq sebagai Rais Am PBNU. Ia juga bersama ulama sepuh seperti KH. Ali maksum, KH. Mahrus ali, dan KH. Achmad Siddiq-dikenal sebagai andalan untuk melerai kemelut yang melilit tubuh NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pada mukamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta, ketidakharmonisan Kiai As’ad dengan Gus Dur berlangsung terbuka. Ini tercermin dari penyataan Kiai As’ad begitu muktamar selesai. Ia dengan jantan menyatakan ”mufaraqah” terhadap kepemimpinan Gus Dur. Ibarat imam salat, Gus Dur di mata Kiai As’ad sudah batal. Karena itu, tak perlu bermakmum kepadanya, mufaraqah. Tapi, Gus Dur meresponnya dengan ringan. “Mungkin beliau terbawa oleh orang-orang yang melaporkan salah. Lagi pula, wajar saja orang tua marah pada anaknya. Belum tentu laporan orang-orang itu benar,” ujar Gus Dur. Agaknya ucapan Gus Dur itulah yang lebih mengungkap masalah yang sebenarnya. Dan sampai Kiai As’ad wafat Gus Dur belum sempat bertemu dengannya. Sehingga yang tersisa hingga sekarang adalah mengapa waktu itu Gus Dur tidak segera menemui Kiai As’ad? Atau kenapa tidak ada pihak yang berinisiatif mempertemukan keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asas Pancasila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebagian besar tokoh-tokoh ormas masih sibuk membicarakan rencana pemberlakuan pancasila sebagai satu-satunya asas, Kiai As’ad sudah mengatongi jawabannya. Selain beliau ingin mengembalikan NU ke Khittah asalnya, juga tak mau ketinggalan momentum strategis pada Munas Alim Ulama 1983 itu sebagai ajang perdebatan perihal penerimaan asas tunggal Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebagai organisasi keagamaan (Islam), segala langkah dan gerakannya selalu didasarkan pada kaidah agama. Disisi lain, NU sebagai organisasi kemasyarakatan (sosial) di dalam kehidupan bernegara yang berdasarkan Pancasila. Menerima Pancasila sebagai asas organisasi bukan hanya menggunakan kaidah agama saja, melainkan juga dengan pertimbangan; diantaranya; pertama, bahwa pancasila dirumuskan oleh para tokoh kemerdekaan, termasuk diantaranya KH. A. Wahid Hasyim -tokoh NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bahwa sila-sila dari Pancasila, terutama sila pertama mencerminkan tauhid, menurut pengertian Islam dan tidak bertentangan dengan agama Islam. Ketiga, bahwa menjaga keutuhan dan kemurnian penafsiran pancasila dari penafsiran yang salah adalah perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh pun dasar pikiran penerimaan asas Pancasila itu tidak digarap sendiri oleh Kiai As’ad, tapi oleh para tokoh NU -terutama KH. Achmad Siddiq dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Diakui oleh semua tokoh-tokoh NU bahwa peran dan pengaruh Kiai As’ad cukup memberikan warna dalam pencetusan ide brilian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Munas juga mengeluarkan deklarasi tentang hubungan Pancasila dengan Islam dari sudut sejarah perumusan dan penyusunan sila-sila serta kandungannya. Deklarasi itu dicetuskan di Sukorejo pada 21 Desember 1983. Dan siapa pun tentu masih ingat bahwa Kiai As’ad lah yang pertama kali yang mengemukakan, sila pertama pancasila adalah cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam. Bahkan pikiran Kiai As’ad itu dikemukakan langsung kepada Presiden Sueharto, ketika beliau menghadap dalam keperluan perubahan buku PMP.&lt;br /&gt;Ketika sejumlah tokoh Islam mengutip argumen normatif atas penolakannya terhadap Pancasila, dengan tegas Kiai As’ad mengatakan bahwa secara substantif Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Al-Quran dan al-Sunnah. Walaupun tidak eksplisit kata Al-Quran dan al-Sunnah tidak tercantum dalam sila-sila Pancasila, namun ajaran-ajaran fundamental Islam telah terpatri disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada tahun 1983, kalau Kiai As’ad tidak merintis jalan bagi NU untuk mengakui asas Pancasila terus terang saja, tidak pernah ada asas Pancasila. Saya tahu persis masalah ini dan saya ikut jadi sekretaris tim penerimaan asas pancasila,” kata Gus Dur bersaksi dalam buku Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai As’ad telah mengambil peran strategis, ketika para ulama resah gelisah menghadapi problem-problem keumatan dan mereka berkeinginan untuk berhimpun dalam suatu organisasi tertentu, lalu berdirilah NU. Akan tetapi setelah organisasi NU berhasil terbentuk, nama Kiai As’ad sudah tak terdengar lagi. Hampir 20 tahun kemudian, barulah namanya muncul kembali,&lt;br /&gt;ketika mewakili NU menjadi anggota parlemen melalui pemilu 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih seperempat abad kemudian, pertengahan 1982, sosoknya kembali muncul ke publik, yakni di saat NU berada di ambang kehancuran. Kali ini pun hanya sekejap tampil dipentas. Tak lebih dari lima tahun kemudian, karena situasi sudah normal, namanya kembali tenggelam. Penerimaan NU atas Pancasila sebagai satu-satunya asas sebelum ditetapkannya UU keormasan yang dikukuhkan oleh Munas NU di Pesantren Sukorejo, pasti tidak bisa dipisahkan dari pengaruh Kiai As’ad. Bahkan tekad NU untuk kembali ke khittah 26 agaknya tidak luput dari peran yang dimainkannya bersama kiai-kiai yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua itu, apapun kelemahannya, kita harus mengakui bahwa Kiai As’ad telah menorehkan konstribusinya bagi kejayaan Nahdlatul Ulama, Islam dan Indonesia. Kalau kita mengikuti teori eletisme historis yang berpandangan bahwa alur dan warna sejarah itu sesungguhnya dikontruksi dan dikendalikan oleh segelintir aktor, maka Kiai As’ad adalah aktor sejarah yang berperan dalam menggerakkan dan mengendalikan perilaku ribuan umat manusia, terutama di daerah Situbondo, Jawa Timur, sebagai daerah tempat perjuangannya dan kawasan sekitarnya untuk tetap tegak pada acuan-acuan moral dan kemanusiaan. Selanjutnya siapa yang akan menyusul menjadi As’ad-As’ad muda yang lebih brilian dan agresif?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mashudi Umar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No. 10/Thn II/1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-6511035558490415133?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/6511035558490415133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=6511035558490415133' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6511035558490415133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/6511035558490415133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/kiai-asad-inspirator-asas-pancasila.html' title='Kiai As&apos;ad Syamsul Arifin; Inspirator Asas Pancasila'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-2389730831065761804</id><published>2008-10-25T09:36:00.001-07:00</published><updated>2009-01-20T07:04:57.384-08:00</updated><title type='text'>"Diskursus Pemikiran Antargolongan"</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXoDPtljTI/AAAAAAAAAD0/aX1uEYUBJdo/s1600-h/Caver+buku+debat.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293392079498874162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXoDPtljTI/AAAAAAAAAD0/aX1uEYUBJdo/s200/Caver+buku+debat.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul Buku: Debat Khilafiyah, dari Tawasul hingga Piagam Jakarta&lt;br /&gt;Penulis: Mukhlas As-Syarkani Al-Falahi&lt;br /&gt;Penerbit: LTMI NU, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: 1, Agustus 2008&lt;br /&gt;Tebal: (VI + 211) halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Mashudi Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarahnya, NU selalu memberikan kontribusi yang besar kepada negara dan agama. Tidak saja di medan perjuangan fisik dan politik NU berperan, namun juga tidak kalah penting di medan tegaknya Islam rahmatan lil ’alamin, yang menjadi isu penting pada International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ke-3 awal Agustus lalu, dengan cara melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sampai ke dunia internasional, sehingga di bidang budaya dan amaliah pun NU tetap toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Debat Khilafiyah, dari Tawasul hingga Piagam Jakarta, sangat ”menggelitik” warga NU. Mereka yang pada Orde Baru diserang, dipojokkan, dipinggirkan, bahkan dalil-dalil amalannya yang merupakan aktivitas sehari-hari selalu diperdebatkan. Bahkan, masjid-masjid yang dibangun dengan jerih payah dan dana dari merogeh kocek kantung pribadi para warga nahdliyin pun direbut beberapa oknum aliran-aliran baru “Islamisme”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung untuk meresahkan kaum muslimin, terutama warga NU, muncul buku karya Mahrus Ali berjudul, Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik. Amalan warga nahdliyin dianggap perbuatan syirik, menyesatkan dan kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peristiwa itu direkam apik oleh penulis Mukhlas As-Syarkani Al-Falahi, penulis buku keagamaan yang paling produktif di Malaysia. Dia juga lebih mendetil mengulas bagaimana tata ibadah umat Islam di Indoensia. Dia bisa membandingkan secara faktual. Isinya mengenai yang sedang hangat diperdebatkan di tingkat masyarakat, baik kelas bawah, menengah, atas. Khususnya perdebatan amalan-amalan yang dilakukan warga NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan furu’iyah yang terjadi pada warga NU menjadi menu utama dalam pembahasan buku ini. Misal, soal amalan tawasul yang telah diamalkan sejak zaman Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan para Sahabatnya, tabiin, para ulama mazhab dan sampailah pada zaman sekarang ini, kini mulai dipersoalkan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pemberantas TBC (takhayyul, bid’ah, churafat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, gerakan yang menyebut dirinya pemberantas TBC itu juga diperkuat kelompok yang menamakan gerakan Salafi. Gerakan Salafi dan gerakan anti-TBC ke mana-mana, dalam berceramah, hanya khusus menghabisi amalan-amalan ibadah masyarakat dengan tuduhan bid’ah, khurafat dan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang salah dalam menyikapi permasalahan berstatus ”khilafiyah”. Banyak orang yang tatkala mengahadapi khilafiyah, memilih sikap tidak mau mencari pendapat yang benar. Ia menetapkan keputusan untuk tidak mau mempelajari yang sebenarnya. Sehingga bersikap acuh, kurang menghargai terhadap pendapat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua khilafiyah itu bisa diberikan toleransi dan bisa dimufakati. Kita hanya wajib memberi toleransi dan saling menghargai pendapat yang ada pada khilafiyah yang mu’tabar (yang menjadi perhatian serius yang sedang diperlukan solusinya dalam kehidupan sehari-hari). Jika pada semua khilafiyah kita memberikan toleransi, maka sungguh kacau agama ini. Misal, salat wajib lima waktu, kemudian ada yang mengatakan tidak wajib. Ini yang tidak ada toleransinya, bahwa salat itu wajib bagi seluruh umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat khilafiyah sesungguhnya adalah belajar demokrasi untuk menghargai pendapat orang lain, bukan berdasar pada rasa benci, ingin menyindir atau mengumbar hawa nafsu. Jika harus dengan cara diskusi, maka lakukan diskusi dengan cara yang baik, santun dan menghargai pendapat orang lain, sebagaimana yang dikatakan Imam Abu Hanifah, qauluna shahihun yakhtamilu al- khata’, wa qauluhum al-khatha’ yahtamilu al-shahih (pendapat saya bisa benar, bisa salah, dan pendapat kamu bisa salah, bisa benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, secara tidak langsung, juga memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam perspektif amalan sehari-hari warga NU yang sudah jadi pegangan, di antaranya, ziarah kubur, jumlah rakaat tarawih, talqin, bid’ah, perayaan Maulid Nabi, yasinan, tradisi haul, istighasah, dan lain-lain dengan metodologi debat khilafiyah antaraliran yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga lucu, karena membuat Anda akan tertawa, semakin renyah untuk ditertawakan. Maksudnya bukan ditertawakan dalam arti dilecehkan, tetapi tertawa karena ada faktor lucu. Juga diiringi perdebatan pengetahuan yang berbeda, tapi dengan cara homuris, mengungkapkan referensi dengan dalil masing-masing kelompok dan kadang-kadang tegang. Cara pengungkapannya pun gagah berani, tanpa tedeng aling-aling. Semua diungkap secara jelas, jernih, dan memikat. Fakta yang benar-benar terjadi di tengah realitas kemajemukan kehidupan kita, khususnya umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, amalan-amalan zikir dan salawat yang sudah mengakar dalam tradisi NU, karena memang memiliki dasar dan argumentasi yang kuat sesuai dalil-dalil yang ada, juga tidak gampang terkecoh dan terprovokasi oleh tulisan-tulisan yang menyudutkan praktik/amaliah yang selama ini dilakukan kalangan nahdliyin sebagai mayoritas umat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang bilang, tanpa perdebatan, maka kehidupan tidak akan dinamis. Ada kalanya pula perdebatanlah yang mengawali sebuah peperangan. Sungguh mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi adalah Pegiat Buku, Alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di &lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;http://www.nu.or.id/&lt;/a&gt;, tanggal 13-10-2008)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-2389730831065761804?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/2389730831065761804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=2389730831065761804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2389730831065761804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/2389730831065761804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/diskursus-pemikiran-antargolongan.html' title='&quot;Diskursus Pemikiran Antargolongan&quot;'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SXXoDPtljTI/AAAAAAAAAD0/aX1uEYUBJdo/s72-c/Caver+buku+debat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3915991151829171086.post-5927844841570731997</id><published>2008-10-25T09:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T04:18:53.386-07:00</updated><title type='text'>Berpuasa Secara Kualitatif, Bagaimana?</title><content type='html'>MASHUDI UMAR&lt;br /&gt;Penulis, Dewan Redaksi Majalah Risalah PBNU Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ibadah puasa secara fiqih adalah menahan (imsak) untuk tidak melampiaskan keinginan nafsu (makan, minum dan bersetubuh) sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sedangkan secara psikologis, puasa adalah upaya untuk menahan dari perbuatan mazmumah (tercela) seperti mengumpat, marah, dendam, hasud, sombong berlaku zalim dan sebagainya. Dengan demikian, maka puasa merupakan proses memaksimalkan pengendalian atau controlling dalam setiap aktifitas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara controlling dari segi manajemen mempunyai peran yang sangat urgen dalam usaha mencapai tujuan sebuah organisasi. Eksistensi manusia di muka bumi ini memerlukan kontrol diri, agar sikap pemikiran dan tingkalakunya tidak keluar dari garis ilahiah dan garis insaniah. Dengan kata lain ibadah yang dilakukan oleh manusia mengekspresi ketaatan kepada Ilahi dan empati yang dalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Maka, ibadah puasa merupakan proses untuk membangun ?&lt;em&gt;hablum minallah dan hablum minannas&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dimensi ilahiah (&lt;em&gt;ta'abbudi&lt;/em&gt;) ibadah puasa tercermin ketika manusia bersedia untuk tidak makan, minum dan bersetubuh di siang hari dengan penuh keikhlasan. Karena rasa ihlas itulah Allah memberi perhatian yang khusus terhadap ibadah puasa. Sementara, kualitas dan pahala ibadah puasa dikaitkan dengan sejauh mana hubungannya dengan sesama manusia. Maka di sini kemudian ada semacam kredo: jika seseorang berpuasa kemudian tidak diimbangi dengan kepedulian dan empati kepada persoalan kemanusiaan, maka akan merusak pahala ibadah puasa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat dikisahkan ada seorang wanita yang melakukan ibadah puasa, namun begitu tengah hari perutnya sakit dan kemudian muntah darah, daging busuk dan kotoran lain dari perutnya. Peristiwa ini kemudiaan dilaporkan kepada Rasul, ternyata wanita itu berpuasa. Namun puasanya wanita ini hanya sebatas fisik terhadap anggota badannya saja, sementara tabiatnya yang suka menyakiti orang lain dan mencaci terhadap sesama tetap dilakukan padahal dia berpuasa. Karena kasus ini, kemudian keluar Hadits yang berbunyi: ?&lt;em&gt;Kam min shoimin laisa lahu minsiyamihi illal atshi wal-jui&lt;/em&gt;, Artinya: banyak orang yang berpuasa tetapi mereka tidak mendapat pahala (hikmah) dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas mengandung pesan bahwa puasa mengandung dimensi ilahiah dan insaniah. Edwar Mortimer dalam bukunya Islam &amp;amp; Power menyimpulkan bahwa Islam pada hakikatnya lebih banyak memfokuskan pada dimensi kehidupan manusia (social), ketimbang dimensi ritual, seperti ibadah puasa yang identik dengan ritual (&lt;em&gt;ta'bbudi&lt;/em&gt;) ternyata di dalamnya tersirat dimensi sosial yang amat besar, sehingga pahala puasa dikaitkan dengan kesolehan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam realitas kehidupan sehari-hari nilai sosial dimensi ibadah, ternyata kurang mendapat apresiasi yang sewajarnya dari umat Islam. Yang terjadi malah sebaliknya, di kalangan masyarakat kita banyak orang yang mampu mengekspresikan dimensi ritualnya, namun mengabaikan dimensi sosial. Maka yang terjadi, meskipun puasa telah meluas dilakukan di masyarakat, tetapi efek positif khususnya dimensi sosial dari puasa belum memberi kontribusi yang besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini dapat kita lihat misalnya, adanya penyimpangan yang masih tumbuh subur di kalangan masyarakat kita. Mereka berpuasa, tetapi dalam waktu bersamaan melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, melakukan penindasan, melakukan kezaliman ekonomi secara sadar. Mandat dan amanah yang diberikan belum dimaksimalkan untuk kemaslahatan rakyat, fasilitas yang disediakan yang seharusnya digunakan melayani dan membangun akses masyarakat, justru digunakan untuk mempersulit dengan aturan birokrasi yang membebani masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini terlihat para penguasa dan pemimpin bangsa ini dari pusat sampai daerah belum terlihat ada kesungguhan secara maksimal untuk membuat kebijakan yang memberi maslahah secara umum. Namun sebaliknya, hanya digunakan untuk membangun kekuatan dirinya dan kroninya. Sekarang ini, kita dapat menyaksikan pada saat para petani menjerit karena tingginya cost produksi, justru pada saat panen mereka harus berhadapan dengan kondisi pasar yang mengancam mereka. Harga gabah anjlok dan tidak menguntungkan petani yang diakibatkan dari kebijakan pemerintah tentang impor beras. Efek domino selanjutnya adalah terus meningginya angka kemiskinan dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Pada waktu yang sama kualitas kesehatan dan pendidikan bangsa kita dari waktu ke waktu cenderung mengalami penurunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga orang-orang kaya di negeri ini belum memperlihatkan kepedulian mengeluarkan zakat dan sedekah secara maksimal, padahal potensi zakat di negeri ini mencapai triliunan rupiah. Namun realitas yang terjadi sebaliknya, yaitu kemampuan dan kekayaan justru digunakan untuk pamer kekayaan. Fenomena ini dapat kita saksikan dengan menjamurnya mobil mewah seiring dengan menjamurnya pengemis dan anak jalanan, pengamen di jalan raya di kota-kota besar di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali sosial ini juga bisa kita lihat pada misalnya menjamurnya rumah dan apartemen mewah dan pada saat yang sama diiringi oleh menjamurnya gubuk-gubuk liar di pinggir-pinggir sungai yang kumuh dan tempat?tempat pemukiman di kawasan yang tidak sehat serta membahayakan keselamatan jiwa. Fakta ini memperjelas bahwa jurang pemisah antara kaya dan miskin begitu dalam di negeri ini. Sebenarnya penguasalah yang seharusnya paling bertanggungjawab membuat kebijakan untuk mempersempit jarak antara si kaya dan miskin, tetapi kenyataannya kebijakan yang ada, justru semakin memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena ini sepertinya memperkuat hipotesa bahwa ibadah puasa belum memberi dampak positif terhadap kehidupan bangsa ini. Ini karena, ibadah puasa yang kita amalkan belum tercermin dalam dimensi sosial. Puasa akhirnya hanya menjadi semacam seremonial ritual yang kehilangan makna esensi ruhaniah, Ilahiah dan insaniahnya. Dus, dengan demikian puasa semacam ini belum dapat memberi dampak positif terhadap sikap, pemikiran, mental dan komitmen para pemimpin, penguasa dan komponen bangsa ini dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara secara bersama-sama. Dengan kata lain, idealnya puasa dapat membentuk insan yang bertakwa dan kepribadian yang baik, terutama para pemimpin dan elit bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadirnya Ramadhan merupakan momentum dan kesempatan baik membangun kesadaran memperbaiki kondisi bangsa, yang dapat dimulai dengan memperbaiki kualitas ibadah puasa. Sudah barang tentu adalah ibadah puasa yang mampu mengekspresikan dimensi ilahiah (ritual) dan insaniah (social) secara bersamaan. Ibadah puasa yang seperti inilah yang memberi dampak positif terhadap perbaikan bangsa dan akan mendapat rahmat, ampunan dan dibebaskan dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika waktu sebulan ini oleh para penguasa, pemimpin dan segenap komponen bangsa dapat melakukan puasa secara kualitatif sehingga para penguasa memperlihatkan kebijakan yang memihak kepada rakyat, bertekad menegakkan keadilan dan memberi palayanan kepada masyarakat secara tulus dan ikhlas. Kemudian orang-orang kaya sadar mengeluarkan zakat dan ini akan menjadi tradisi dan kultur yang terus meningkat. Maka, di masa mendatang, insya Allah kondisi kehidupan bangsa dan negara akan berangsur-angsur membaik. Tentu seiring dengan membaiknya kualitas ibadah puasa kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(telah dipublikasikan di Duta Masyarakat, Kamis 04-09-08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3915991151829171086-5927844841570731997?l=mashudi-centre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/feeds/5927844841570731997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3915991151829171086&amp;postID=5927844841570731997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/5927844841570731997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3915991151829171086/posts/default/5927844841570731997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashudi-centre.blogspot.com/2008/10/berpuasa-secara-kualitatif-bagaimana.html' title='Berpuasa Secara Kualitatif, Bagaimana?'/><author><name>Mashudi Umar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09299852320465078986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GtLiQ8f3WIk/SdxRbSOPzZI/AAAAAAAAAEc/84DD2AMVxOg/S220/Redaktur+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
